STANDARISASI NATRIUM HIDROKSIDA DAN PENGGUNAANNYA UNTUK PENENTUAN KONSENTRASI ASAM ASETA

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR I

PERCOBAAN V

STANDARISASI NATRIUM HIDROKSIDA

DAN PENGGUNAANNYA UNTUK PENENTUAN

KONSENTRASI ASAM ASETAT

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 1.4

ASISTEN : RAIHANAH

PROGRAM STUDI KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARBARU

2007

PERCOBAAN V

STANDARISASI NATRIUM HIDROKSIDA

DAN PENGGUNAANNYA UNTUK PENENTUAN

KONSENTRASI ASAM ASETAT

I. TUJUAN PERCOBAAN

Tujuan praktikum ini adalah untuk memahami dan melakukan standarisasi larutan serta menggunakannya untuk analisis kuantitatif sampel.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Larutan yang mempunyai konsentrasi molar yang diketahui, dapat dengan mudah digunakan untuk reaksi-reaksi yang melibatkan prosedur kuantitaif. Kuantitas zat terlarut dalam suatu volume larutan itu, di mana volume itu diukur dengan teliti, dapat diketahui dengan tepat dari hubungan dasar berikut ini.

Mol = liter x konsentrasi molar atau mmol = mL x konsentrasi molar.

Perhitungan-perhitungan stoikiometri yang melibatkan larutan yang diketahui normalitasnya bahkan lebih sederhana lagi. Dengan definisi bobot ekuivalen, dua larutan akan bereaksi satu sama lain dengan tepat bila keduanya mengandung gram ekuivalen yang sama yaitu, jika V1 x N2 = V2 x N2.

Dalam hubungan ini kedua normalitas harus dinyatakan dengan satuan yang sama, demikian juga kedua volum, satuan-satuan itu dapat dipilih secara sembarang.

Larutan-larutan yang mempunyai normalitas yang diketahui sangat berguna walaupun hanya satu di antara pereaksi itu yang terlarut. Dalam hal ini jumlah gram ekuivalen (atau miliekuivalen) pereaksi yang tidak terlarut dapat dihitung dengan cara biasa, yaitu dengan membagi massa contoh dalam gram (atau miligram) dengan bobot ekuivalennya. Jumlah g-ek (atau mek) satu pereaksi tetap harus sama dengan g-ek (atau mek) zat yang lain (Brady, 1999).

Volumetri atau tirimetri adalah suatu cara analisis kuantitatif dari reaksi kimia. Pada analisis ini zat yang akan ditentukan kadarnya, direaksikan dengan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya, sampai tercapai suatu titik ekuivalen sehingga kepekatan (konsentrasi) zat yang kita cari dapat dihitung (Syukri, 1999).

Pada analisis volumetri diperlukan larutan standar. Proses penentuan konsentrasi larutan satandar disebut menstandarkan atau membakukan. Larutan standar adalah larutan yang diketahui konsentrasinya, yang akan digunakan pada analisis volumetri.

Ada dua cara menstandarkan larutan yaitu:

1. Pembuatan langsung larutan dengan melarutkan suatu zat murni dengan berat tertentu, kemudian diencerkan sampai memperoleh volume tertentu secara tepat. Larutan ini disebut larutan standar primer, sedangkan zat yang kita gunakan disebut standar primer.

2. Larutan yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan cara menimbang zat kemudian melarutkannya untuk memperoleh volum tertentu, tetapi dapat distandartkan dengan larutan standar primer, disebut larutan standar skunder.

Zat yang dapat digunakan untuk larutan standar primer, harus memenuhi persyaratan dibawah ini :

1. Mudah diperoleh dalam bentuk murni ataupun dalam keadaan yang diketahui kemurniannya. Pengotoran tidak melebihi 0,01 sampai 0,02 %

2. Harus stabil

3. Zat ini mudah dikeringkan tidak higrokopis, sehingga tidak menyerap uap air, tidak meyerap CO2 pada waktu penimbangan (Sukmariah, 1990).

Suatu reaksi dapat digunakan sebagai dasar analisis tirimetri apabila memenuhi persyaratan berikut :

1. Reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

2. Reaksi harus sederhana dan diketahui dengan pasti, sehingga didapat kesetaraan yang pasti dari reaktan.

3. Reaksi harus berlangsung secara sempurna.

4. Mempunyai massa ekuivalen yang besar

Larutan standar biasanya kita teteskan dari suatu buret ke dalam suatu erlenmeyer yang mengandung zat yang akan ditentukan kadarnya sampai reaksi selesai. Selesainya suatu reaksi dapat dilihat karena terjadi perubahan warna Perubahan ini dapat dihasilkan oleh larutan standarnya sendiri atau karena penambahan suatu zat yang disebut indikator. Titik di mana terjadinya perubahan warna indikator ini disebut titik akhir titrasi. Secara ideal titik akhir titrasi seharusnya sama dengan titik akhir teoritis (titik ekuivalen). Dalam prakteknya selalu terjadi sedikit perbedaan yang disebut kesalahan titrasi (Sukmariah, 1990).

Untuk analisis titrimetri atau volumetri lebih mudah kalau kita memakai sistem ekivalen (larutan normal) sebab pada titik akhir titrasi jumlah ekivalen dari zat yang dititrasi = jumlah ekivalen zat penitrasi. Berat ekivalen suatu zat sangat sukar dibuat definisinya, tergantung dari macam reaksinya. Pada titrasi asam basa, titik akhir titrasi ditentukan oleh indikator. Indikator asam basa adalah asam atau basa organik yang mempunyai satu warna jika konsentrasi hidrogen lebih tinggi daripada sutau harga tertentu dan suatu warna lain jika konsentrasi itu lebih rendah.

Tabel 1.1 Indikator untuk asam dan basa

Nama

Jangka pH dalam mana terjadi perubahan warna

Warna asam

Warna basa

Kuning metil

2 – 3

Merah

Kuning

Dinitrofenol

2,4 - 4,0

Tak berwarna

Kuning

Jingga metil

3 – 4,5

Merah

Kuning

Merah metil

4,4 – 6,6

Merah

Kuning

Lakmus

6 -8

Merah

Biru

Fenophtalein

8 – 10

Tak berwarna

Merah

Timolftalein

10 -12

Kuning

Ungu

Trinitrobenzena

12 -13

Tak berwarna

jingga

Sumber : Keenan, 1984.

Titrasi asam basa yaitu sebagai berikut:

1. Titrasi asam kuat dengan basa kuat

Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat. Misal : HCl + NaOH NaCl + H2O

2. Titrasi asam lemah dan basa kuat

Pada akhir titrasi terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat.

Misal : Asam asetat dengan NaOH

CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O

3. Titrasi basa lemah dan asam kuat

Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari basa lemah dan asam kuat.

Misal : NH4OH dan HCl

NH4OH + HCl NH4Cl + H2O

4. Titrasi asam lemah dan basa lemah

Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah. Misal : Asam asetat dan NH4OH

CH3COOH + NH4OH CH3COONH4 + H2O

pH larutan tergantung dari harga Ka dan Kb

Bila Ka > Kb larutan bersifat asam

Bila Kb < Ka larutan bersifat basa (Sukmariah, 1990).

III. ALAT DAN BAHAN

A. ALAT

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini meliputi gelas arloji, gelas beker 100 mL, pengaduk kaca, pipet tetes, pipet ukur, erlenmeyer 100 mL, labu takar 100 mL, dan buret 50 mL.

B. BAHAN

Bahan-bahan yang diperlukan pada percobaan ini meliputi asam oksalat dihidrat (H2C2O4.2H2O), larutan standart NaOH 0,1 N, akuades, cuka makan komersial, dan indikator fenophtalein.

IV. PROSEDUR KERJA

1. Pembuatan Larutan Standar Asam Oksalat dan Penggunaannya untuk Standarisasi Larutan NaOH.

a. Sebanyak 1,26 gram asam oksalat dihidrat (H2C2O4.2H2O) ditimbang dengan menggunakan gelas arolji dan neraca analitik.

b. Asam Oksalat dipindahkan dari gelas arloji ke dalam gelas beker 100 mL, tambahkan 25-30 mL akuades, kemuadian diaduk hingga larut. Setelah itu gelas arloji dibilas dengan sedikit akuades, dan masukkan air bilasan ke dalam gelas beker yang berisi larutan asam oksalat tersebut.

c. Larutan asam oksalat dipindahkan ke dalam labu takar 100 mL, kemudiam gelas beker dibilas dengan sedikit akuades, air bilasan tersebut dimasukkan ke dalam labu takar.

d. Akuades ditambahkan ke dalam labu takar hingga tepat tanda batas dan dikocok hingga homogen.

e. Buret yang akan digunakan dicuci dengan menggunakan akuades kemuadian dikeringkan.

f. Larutan asam oksalat yang telah dibuat dimasukkan ke dalam buret 50 mL.

g. 10 mL larutan NaOH yang akan distandarisasi dimasukkan kedalam erlenmeyer kemudian ditambahkan 2-3 tetes indikator fenophtalein.

h. Larutan NaOH dititrasi dengan larutan asam oksalat dari buret.

i. Jika terjadi perubahan warna yang konstan titrasi dihentikan kemudian dicatat volume asam oksalat yang digunakan untuk titrasi.

j. Dilakukan titrasi kembali sebanyak dua kali dan dihitung rata-rata volume asam oksalat yang digunakan dari tiga kali titrasi yang telah dilakukan

2. Penentuan Konsentrasi Asam Asetat dalam Asam Cuka Komersial.

a. 2 mL asam cuka komersial dituangkan kedalam labu takar 250 mL dengan menggunakan pipet ukur.

b. Akuades ditambahkan ke dalam labu takar hingga tanda batas kemudian labu takar tersebut ditutup dan dikocok hingga larutan homogen.

c. 15 mL asam cuka yang telah diencerkan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 mL, kemudian sebanyak 2-3 tetes indikator fenophtalein ditambahkan kedalam larutan tersebut.

d. Buret yang akan digunakan dicuci dengan akuades kemudian dikeringkan.

e. Larutan standart NaOH 0,1 M yang telah distandarisasi di masukkan ke dalam buret.

f. Larutan asam cuka encer dititrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 M dalam buret.

g. Jika terjadi perubahan warna yang konstan titrasi dihentikan dan dicatat volume NaOH yang digunakan.

h. Dilakukan kembali titrasi sebanyak tiga kali dan dihitung volume rata-rata yang digunakan saat titrasi.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil dan Perhitungan

1. Hasil

No.

Percobaan

Pengamatan

1.

2.

- Ditambahkan 2 tetes indikator fenoftalein ke dalam erlenmeyer yang berisi NaOH

- Dititrasi larutan NaOH dengan larutan asam oksalat yang ada di dalam buret.

- Perubahan warna.

- Asam cuka didalam gelas ukur.

- Diencerkan asam cuka didalam labu takar dengan akuades.

- Ditambahkan 2 tetes indikator fenoftalein ke dalam erlenmeyer yang berisi asam cuka encer.

- Dititrasi larutan asam cuka encer dengan larutan standar NaOH 0,1 M didalam buret.

- Perubahan warna yang terjadi.

Volume NaOH = 10 mL

Volume titrasi = 4,9 mL

Ungu menjadi bening

Volume = 10 mL

Volume = 250 mL

Volume = 10 mL

Volume titrasi = 0,45 mL

Bening menjadi ungu

2. Perhitungan

I. Standarisasi Larutan NaOH

Konsentrasi Larutan Asam Oksalat

Diketahui : Massa asam oksalat = 1,26 gr

Mr asam oksalat = 126 gr

Volume larutan asam oksalat = 100 mL = 0,1 L

Molaritas asam oksalat =(massa asam oksalat/ Mr asamoksalat)

= Volume larutan asam oksalat

= (1,26/126) mol = 0,1 mol/L

= 0,1 L

Ditanya : Normalitas asam oksalat = ………?

Jawab : H2C2O4 2H+ + C2O4-

Normalitas asam oksalat = n. M

= (2 ek / mol) x (0,1 mol/L)

= 0,2 ek/L

Penentuan Konsentrasi NaOH

Diketahui : Volum NaOH saat titrasi = 10 mL

Volum rata-rata asam oksalat saat titrasi = 4,9 mL

Normalitas asam oksalat = 0, 2 ek/L

Pada saat titik ekuivalen

(N.V)asam = (N.V)basa

(N.V)oksalat = (N.V)NaOH

0,2 ek /L. Voksalat = NNaOH. 10 mL

NNaOH = 0,2 ek/L. 4,9 mL

10 mL

= 0,098 N ≈ 0,01 N

b. Penentuan Konsentrasi Asam Asetat dalam Asam Cuka

Diketahui : Volum asam asetat yang dititrasi = 10 mL

Volum rata-rata NaOH untuk titrasi = 0,45 mL

Normalitas NaOH digunakan untuk titrasi = 0,098 N

Ditanya : Normalitas asam asetat yang dititrasi = …………..?

Jawab : Pada saat titik ekivalen titrasi

jumlah ekuivalen asam = jumlah ekuivalen basa

(N.V)asam = (N.V)basa

N asetat .Vasetat = N NaOH . VNaOH

N asetat . 10 mL = 0,098 . 0,45

N asetat = 0,098 . 0,45

10

N asetat = 0,00441 mol/L

= 4,41 x 10-3 mol/L

Karena asam asetat adalah asam monoproptik, maka n asam asetat = 1 ek/mol, sehinngga :

CH3COOH CH3COO- + H+

Masetat = Nasetat / n

= 4,41 x 10-3 /1

= 4,41 x 10-3 M

Karena pengenceran yang dilakukakn sebanyak 50x maka konsentrasi asam asetat setelah diencerkan dapat dihitung sebagai berikut;

4,41 x 10-3 x 50 = 0,2205 N

Konsentrasi asam asetat sebelum diencerkan dapat dihitung sebagai berikut;

(M.V) sebelum pengenceran = (M.V) setelah pengenceran

M sebelum pengenceran = Masetat. (250 mL / 10 mL)

= 0,2205 x (25)

= 5,5125 M

Konsentrasi asam asetat dinyatakan dalam persentase (b/v) adalah

%CH3COOH (b/v) = Masetat x Mrasetat x (1L/1000 mL) x 100

= Masetat (M).60 (gr/mol) x (1L/1000 mL) x 100

= 5,5125 x 60 (1/1000) x 100

= 33,075 % (b/v)

Jadi, konsentrasi asam asetat 33,075 gr dalam 100 mL pelarut air.

B. PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini kita melakukan analisis kuantitatif untuk menentukan kadar asam asetat dalam asam cuka komersial, yang beredar di pasaran. Di mana pada percobaan ini digunakan asam cuka botol cap sendok. Analisis yang dilakukan adalah analisis tirimetri karena kadar komposisi ditetapkan berdasarkan volum pereaksi (konsentrasi diketahui). Penggunaan analisi tirimetri ini menggunakan larutan NaOH 0,1 N sebagai larutan standarnya. Karena NaOH merupakan larutan standar sekunder, maka sebelum digunakan terlebih dahulu larutan NaOH tersebut distandarisasi dengan larutan asam oksalat yang merupakan suatu standar primer.

Berdasarkan hasil percobaan dapat diketahui bahwa telah terjadi reaksi asam basa antara asam oksalat dan larutan standar NaOH 0,1 N dan asam asetat dengan larutan standar NaOH. Pada pembuatan larutan standar asam oksalat indikator yang digunakan yaitu fenophtalein. Perubahan warna yang terjadi pada proses penitrasian ini adalah berubah menjadi bening dengan warna asal mula adalah ungu. Jangka pH pada saat terjadi perubahan warna adalah berkisar antara 8-10. Perubahan warna ini terjadi karena telah tercapainya titik ekuivalen, yaitu titik di mana jumlah larutan standar NaOH dengan larutan asam oksalat. Volume larutan asam oksalat yang diperlukan untuk titrasi sebanyak 4,9 mL.

Pada penentuan Konsentrasi asam asetat terjadi reaksi antara asam lemah (CH3COOH) dengan basa kuat (NaOH). Sebelum dititrasi, asam asetat telah diencerkan terlebih dahulu. Karena asam asetat adalah asam monoproptik, maka n asam asetat sebesar 1 ek/mol.

Reaksi yang terjadi pada saat penitrasian adalah :

CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O

Pada proses penitrasian antara asam asetat dengan larutan standar NaOH 0,1 M terjadi perubahan warna dimana setelah ditetesi indikator fenophtalein sebanyak 2 tetes warna yang terjadi yaitu bening menjadi berwarna ungu. Seperti halnya dengan titrasi di atas, perubahan warna ini terjadi pada pH dengan kisaran 8-10. Penyebab perubahan warna ini karena telah terjadi pencapaian titik ekuivalen. Volume NaOH yang diperlukan pada saat titrasi sebanyak 0,45 mL.

Pada penentuan konsentrasi NaOH didapat normalitas NaOH sebesar 0,098 N, sedangkan pada penentuan konsentrasi asam asetat dalam asam cuka didapat normalitas asetat sebesar 4,41 x 10-3 N. Setelah itu nilai ini digunakan untuk mencari konsentrasi asetat sebelum pengenceran maka didapat hasil sebesar 5,5125 M. Konsentrasi asam asetat yang dinyatakan dalam persentase sebesar 33,075 %.

VII. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil setelah melakukan percobaan ini adalah sebagai berikut :

1. Standarisasi larutan bertujuan untuk menetukan konsentrasi dari larutan standar.

2. Pada penentuan konsentrasi NaOH didapatkan normalitas NaOH sebesar 0,098 N, sedangkan pada penentuan konsentrasi asam asetat dalam asam cuka didapat normalitas asetat sebesar 4,41 x 10-3 N.

3. Persentase asam asetat cap sendok sebesar 33,075 %.

4. Analisis kuantitatif memberikan informasi mengenai berapa banyak komposisi suatu komponen dalam sampel.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Bina Rupa Aksara, Jakarta.

Sukmariah. 1990. Kimia Kedokteran edisi 2. Bina Rupa Aksara, Jakarta.

Syukri.1999. Kimia Dasar 2. ITB, Bandung.

About these ads

39 thoughts on “STANDARISASI NATRIUM HIDROKSIDA DAN PENGGUNAANNYA UNTUK PENENTUAN KONSENTRASI ASAM ASETA

  1. thx sebelumnya, dari laporan yg anda buat saya dapat terbantu dengan pembahasan yang tidak saya mengerti ini…..

    salam kenal, saya dari T.Elektro cimahi-bandung…..

  2. terus,,,,,,
    berat equivalen dari asam dan basa, cara hitungnya giamana????
    and berat equivalen biasanya disimbolakn dengan apa gitu???

  3. mbak,sy boleh diberitahu praktikum kimdas atau bacaan tentang kimdas 2?
    prakikumnya:elektrokima,kesetimbangan,larutan buffer,pengaruh suhu an katalis terhadap kecepatan reaksi laju reaksi
    tolong kasih info ke sy bs gak mbak?nie email sy franseko@ymail.com

  4. mengapa kita perlu melakukan proses standarisasi larutan harus pada saat itu juga?
    tolong beri penjelasan ilmiahnya,,,jwb mohon dikirim via email aja okre thx a lot

  5. your is the besttt…
    qm bisa mbantuu q tuuk nylesein laporanq….
    bagi” ilmuu agiie yaa…

    `lam kenal driq
    handa ?( ‘_^)

  6. Wah Cantik+Brilian+Baik hati bgt mba anisa yang mau berbagi pengetahuan, saya merasa sangat terbantu sekali,,,
    Makasih mba anisa..
    Semoga kebaikannya mendapat balasan yang baik dari tuhan.

  7. makasih sbelumnya, tp q mw tanya,, NaOH kog tau klo ntu lar. standar sekunder, padahal sbelumnya dah tertera NaOH 0,1 N, npa hruz d cari N nya lagi (d standarisasi) ???

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s