KIMIA KOLOID

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR II

PERCOBAAN IV

KIMIA KOLOID

UNLAM

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 1.7

ASISTEN : FITERIA KURNIASIH

PROGRAM STUDI KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARBARU

2008

PERCOBAAN IV

KIMIA KOLOID

I. TUJUAN PERCOBAAN

Tujuan percobaan praktikum ini adalah mempelajari sifat-sifat koloid.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Thomas Graham banyak mempelajari tentang kecepatan difusi (gerak) partikel materi sehingga ia dapat merumuskan hukum tentang difusi. Dari pengamatannya, ternyata gerakan partikel zat dalam larutan ada yang cepat dan lambat. Umumnya yang berdifusi cepat adalah zat yang berupa kristal sehingga disebut kristaloid, contoh nya NaCl dalam air. Akan tetapi istilah ini tidak popular karena ada zat yang bukan kristal berdifusi cepat contohnya NaCl dalam H2SO4 yang lambat berdifusi disebabkan oleh partikelnya mempunyai daya tarik (perekat) satu sama lain, contohnya putih telur dalam air. Zat seperti ini disebut koloid (Yunani = Cola = perekat) (Respati, 1992).

Menurut Graham, kecepatan difusi bergantung pada massa partikel, makin besar massa makin kecil kecepatannya. Massa ada hubungaannya dengan ukuran partikel yang massanya besar akan besar pula ukuran partikelnya. Berdasarkan ukuran partikel, campuran dapt dibagi menjadi tiga golongan yaitu larutan sejati, koloid, dan suspensi kasar. Sebenarnya cukup sulit membedakan ketiga jenis campuran itu, kecuali dilihat dari ukuran (jari-jari) partikelnya.

Partikel larutan : 0,1 -1mµ

Partikel koloid : 1-100 mµ

Partikel suspensi kasar : 100 mµ

Karena ukuran partikel sangat kecil, maka koloid tidak dapat disaring dengan kertas saring biasa dan poselin, tetapi dapat dengan filter ultra atau koloid karena pori-porinya lebih kecil (Respati, 1992).

Ada dua cara terbentuknya partikel koloid. Pertama dari senyawa bermolekul besar, yaitu satu molekul menjadi satu partikel koloid, contohnya protein dan plastik. Kedua, satu partikel koloid terbentuk dari gabungan (agregat) banyak partikel. Partikel yang bergabung ini mungkin dalam bentuk molekul, ion atau atom (Syukri, 1999).

Dari segi bantuknya, partikel koloid dapat berupa lembaran (laminar), serat (fabliar), dan butiran (korpuskular). Bentuk ini ditentukan oleh jenis dan cara terbentuknya koloid. Untuk materi dalam bentuk butiran diameter menunjukkan ukuran partikel. Untuk partikel laminar (lembaran) dan serat (febliar), panjang dan lebar maupun tebalnya. Semuanya diperlukan untuk menyatakan ukuran partikel (Keenan, 1984).

Koloid juga dapat berubah menjadi tidak koloid dan sebaliknya. Berdasarkan perubahan ini, ada koloid reversibel dan koloid ireversibel. Koloid reversibel adalah suatu koloid yang dapat berubah jadi tidak koloid, dan kemudian menjadi koloid kembali. Contohnya air susu. Sedangkan koloid ireversibel yaitu koloid yang setelah berubah menjadi tak koloid dan tidak dapat menjadi koloid kembali. Contohnya sol emas (Syukri, 1999).

Suatu koloid selalu mengandung dua fasa yang berbeda, mungkin berupa gas, cair atau padat. Pengertian fasa disini tidak sama dengan wujud, karena ada wujud sama seperti fasanya yang berbeda. Oleh sebab itu, suatu koloid selalu mempunyai fasa terdispersi dan fasa pendispersi. Fasa terdispersi mirip dengan zat terlarut, dan fasa pendispersi mirip dengan pelarut pada suatu larutan. Berdasarkan fasa terdispersi dan fasa pendispersinya koloid disebut juga dispersi koloid yang dapat dibagi atas delapan jenis. (Syukri, 1999).

Fasa terdispersi

Fasa pendispersi

Nama

Contoh

Gas

Cair

Buih

Busa sabun

Gas

Padat

Busa

Batu apung

Cair

Gas

Aerosol cair

Kabut

Cair

Cair

Emulsi

Susu

Cair

Padat

Emulsi padat

Mentega

Padat

Gas

Aerosol padat

Asap, debu

Padat

Cair

Sol

Cat

Padat

Padat

Sol padat

Kaca

Koloid adalah suatu campuran sehingga sifatnya ada yang sama dan ada yang berbeda dengan larutan. Sifat khusus koloid timbul akibat partikelnya yang lebih besar dari pada partikel larutan. Sifat itu antara lain:

- Sifat koligatif

Sifat koligatif berguna untuk menghitung jumlah mol atau konsentrasi partikel koloid. Sifat ini bergantung pada jumlah partikel koloid, buka pada jenisnya. Sifat ini memberi mamfaat bagi organisme, kontair sel mengandung partikel koloid sehingga mempunyai tekanan osmotik. Akibat air tertarik ke dalam sel bertahan di dalamnya.

- Sifat Optik

Ukuran partikel koloid agak besar, maka cahanya yang melewatinya akan dipantulkan. Arah pantulan itu tidak teratur karena partikel tersebar secara acak sehingga pantulan cahaya itu berhamburan kesegala arah, yang disebut efek tyndall.

- Sifat Kinetik

Sebagai partikel yang bebas dalam mediumnya, partikel koloid selalu bergerak ke segala arah. Gerakkannya selalu lurus akan patah bila bertabrakkan dengan partikel yang lain. Gerakan ini disebut gerakan Brown.

- Sifat absorpsi

Partikel-partikel koloid mempunyai luas permukaan yang sangat besar bila dibandingkan dengan partikel dari larutan kasar dengan massa yang sama. Atas dasar ini larutan koloid mempunyai daya absorpsi yang besar.

- Sifat listrik

Partikel koloid mempunyai muatan listrik akibat penyerapan ion-ion dalam larutan. Muatan ini dapat positif dan negatif.

- Koagulasi

Koloid bila dibiarkan dalam waktu tertentu akan terpengaruh oleh gaya gravitasi, sehingga partikelnya turun perlahan ke dasar bejana yang disebut koagulasi, atau penggumpalan. Waktu koagulasi koloid bervariasi antara yang satu dengan yang lain. Koagulasi spontan umumnya lambat dan dapat dipercepat dengan alat sentrifugal ultra. Alat ini akan memutar koloid dengan kecepatan tinggi sehingga partikel didorong ke dasar tabung reaksi (Keenan, 1984).

Koloid yang mengandung zat lain dapat dimurnikan dengan cara dialisis, elektroosmosis, dan elektroforesis. Suatu koloid dapat digumpalkan dengan cara elektroforesis pemanasan, dan penambahan elektrolit. Koloid dapat distabilkan dengan menambahkan ion tertentu, dengan cara dialisis, dan penambahan emulgator. Kegunaan koloid antara lain mengatasi polusi udara, penggumpalan lateks, cuci darah, pemurnian air dan dalam pembuatan obat serta makanan (Syukri, 1999).

III. ALAT DAN BAHAN

A. Alat

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah lampu senter, kertas saring, tabung sentrifugasi, gelas ukur, sudip, batang pengaduk, neraca analitik, erlenmeyer, dan gelas beker.

B. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah NaCl, akuades, susu cair (susu sapi murni), HCl pekat, dan tawas.

IV. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Disiapkan 10 gram garam dapur, dilarutkan dalam 100 mL akuades. Larutan ini disebut campuran A.

2. Disiapkan 100 ml susu cair (susu sapi murni). Larutan ini disebut campuran B.

3. Dilakukan penyinaran dengan lampu senter terhadap A. Diamati jalannya sinar. Lakukan hal yang sama untuk campuran B.

4. Diambil 20 ml campuran A dan B, dilakukan penyaringan terhadap masing-masing campuran secara terpisah dengan menggunakan kertas saring biasa. Diamati filtrat yang diperoleh dari masing-masing campuran.

5. Disiapkan dua buah tabung sentrifugasi. Tabung pertama diisi dengan campuran A dan tabung kedua dengan campuran B hingga tabung terisi dua pertiganya. Dilakukan sentrifugasi pada kedua tabung selama 15 menit pada kecepatan 2000-3000 rpm. Diamati apakah ada perubahan yang terjadi pada setiap tabung.

6. Diukur pH campuran A dan B. Diturunkan pH dari masing-masing campuran sebanyak 2 satuan dengan cara menambah HCl pekat. Diamati apakah ada perubahan yang terjadi.

7. Diambil 20 ml campuran A dan B, ditempatkan dalam gelas beker terpisah. Ditambahkan 1-2 gram tawas dalam setiap campuran, dan didiamkan selama 20 menit. Diamati apakah ada perubahan yang terjadi.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil dan Perhitungan

1. Hasil

Langkah Percobaan

Hasil Pengamatan

Disiapkan garam dapur, lalu dilarutkan dalam 100 ml akuades

m = 10 gram

Larutan A

Disiapkan susu cair.

m = 100 ml

Larutan B

Dilalukan penyinaran terhadap:

-Campuran A

-Campuran B

Tembus cahaya

Tidak tembus cahaya

Diambil sebanyak 20 ml, lalu masing-masing campuran disaring.

Campuran A

Jernih dan tidak terdapat endapan.

Campuran B

Lebih jernih dan tidak terdapat endapan.

Dimasukkan masing-masing campuran ke dalam tabung sentrifugasi hingga dua pertiganya, kemudian dilakukan sentrifugasi selama 15 menit dengan kecepatan 2000-3000 rpm.

Campuran A

Tidak ada perubahan.

Campuran B

Membeku dan terdapat endapan.

Diukur pH masing-masing campuran A dan B, kemudian diturunkan pH masing-masing sebanyak 2 satuan dengan menambahkan HCl pekat.

Campuran A

pH awal = 5,49

pH setelah ditambah 4 tetes HCl = 3,83

Campuran B

pH awal = 5,53

pH setelah ditambah 4 tetes HCl = 3,44

Dimasukkan campuran A dan B dalam gelas beker sebanyak 20 mL, kemudian ditambahkan tawas sebanyak 1-2 gram, dan didiamkan selama 20 menit.

Campuran A

Keruh dan tidak terdapat endapan.

Campuran B

Koogulasi (menggumpal) dan terdapat endapan.

B. Pembahasan

Pada percobaan kimia koloid ini praktikan diharapkan dapat mengetahui sifat-sifat koloid. Pertama-tama praktikan harus membuat campuran A, yaitu dengan mencampurkan 10 gram NaCl dengan 100 ml akuades. Yang kedua membuat campuran B yang terbuat dari 100 ml susu cair.

Langkah pertama yang ditempuh pada percobaan ini adalah dengan menyinari kedua campuran tersebut dengan senter. Pada campuran A dapat ditembus cahaya lampu senter, karena sinar diteruskan atau tidak diserap. Sedangkan pada campuran B tidak dapat ditembus cahaya, karena sinar tidak diteruskan atau diserap.

Langkah yang kedua menyaring campuran A dan B. Data yang dapat diambil dari langkah yang kedua ini adalah pada larutan A tidak terdapat endapan dan berwarna jernih daripada sebelum dilakukan penyaringan. Sedangkan pada campuran B tidak terdapat endapan dan cairannya lebih jernih.

Langkah ketiga dengan memasukkan campuran A dan B ke dalam tabung hingga dua pertiga dari tabung tersebut. Dan kemudian melakukan sentrifugasi pada kedua tabung tersebut selama 15 menit dengan kecepatan 2000-3000 rpm. Hasil yang diperoleh dari langkah ini adalah pada campuran A tidak ada perubahan sehingga menyebabkan tidak terdapat agregat (endapan). Sedangkan pada campuran B membeku sehingga menyebabkan terdapat agregat.

Langkah keempat dengan menambahkan HCl pekat sebanyak 4 tetes pada campuran A untuk menurunkan pH. Dan diperoleh pH awalnya adalah sebesar 5,49 sedangkan untuk pH akhirnya sebesar 3,83. Pada campuran A ini pHnya turun hingga 2 satuan, warnanya bening. Untuk campuran B ditambahkan HCl pekat sebanyak 4 tetes, dengan pH awalnya 5,53 dan pH akhirnya 3,44. Pada campuran B ini pHnya turun sebesar 2 satuan, campuran ini mengalami koagulasi (menggumpal).

Langkah kelima dengan menambahkan tawas sebanyak 2 gram ke dalam 20 ml campuran A dan B selama 20 menit. Untuk campuran A keruh dan tidak terdapat endapan.(tidak terbentuk agregat). Sedangkan pada campuran B terjadi koogulasi (menggumpal) dan terdapat endapan (terbentuk agregat). Dari beberapa langkah di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa pada larutan A itu mempunyai sifat-sifat larutan, sedangkan pada campuran B itu memiliki sifat-sifat koloid.

VI. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. Sifat kolid yang tidak tembus cahaya yaitu dapat dilihat dari penyinaran kedua campuran A dan B dengan lampu senter.

2. Campuran dapat dikatakan bersifat koloid apabila dilakukan penyaringan maka akan terdapat endapan dan campurannya lebih pekat.

3. Sifat koloid yang lain adalah terdapat agregat ketika campuran tersebut disentrifugasi. Akan terbentuk agregat ketika ditambahkan tawas.

4. Ketika ditambahkan HCl pekat maka akan terjadi koagulasi atau penggumpalan.

DAFTAR PUSTAKA

Keenan, dkk. 1984. Kimia Untuk Universitas. Erlangga: Jakarta

Respati. 1992. Dasar-Dasar Ilmu Kimia. Rienika Cipta: Jakarta.

Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 2. ITB: Bandung.

About these ads

11 thoughts on “KIMIA KOLOID

  1. izin copy artikel ini untuk praktikum anak didik saya. kebetulan saya guru biologi yang ditugaskan pula mengajar kimia. Terima kasih karena artikelnya sangat membantu.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s