Fisika Dasar I

VEKTOR

Vektor adalah besaran yang memiliki baik besar maupun arah untuk suatu deskripsi yang lengkap. Berbagai besaran dalam fisika termasuk kecepatan, percepatan, gaya, dan momentum adalah vektor. Sejumlah besaran fisika tidak memiliki arah, dan hanya memerlukan bilangan tunggal dan satuannya untuk menyatakan deskripsi yang lengkap. Besaran-besaran ini disebut besaran skalar. Massa, volume, massa jenis, dan suhu merupakan contoh besaran skalar. Vektor dapat dilukis dengan sebuah garis yang salah satu ujungnya dilengkapi dengan anak panah.

Keterangan:

Anak panah : menyatakan arah vektor.

Panjang garis : menyatakan nilai vektor.

Nilai vektor tidak pernah berharga negatif. Vektor A dapat dituliskan dalam komponen vektor Ax , Ay , dan Az .

Ā = Axi + Ayj + Azk

Vektor i, j, dan k berturut-turut adalah vektor satuan dalam arah x, y, dan z. Besar vektor A dituliskan :

A = |A| = Ax2 + Ay2 + Az2

Dua vektor yang membentuk sudut dapat dilakukan dengan menggunakan metoda jajaran genjang, segitiga, dan sumbu koordinat.

1. Metoda jajaran genjang.

Besar resultan vektornya :

C = |C| = A2 + B2 + 2AB cos α

Sifat-sifat operasi dasar vektor :

a. A + B = B + A

b. A + ( B + C ) = ( A + B ) + C

c. m ( A + B ) = mA + mB

2. Metoda segitiga

Resultan vektor A dan B dapat diperoleh dengan menempatkan vektor B diujung vektor B, atau sebaliknya. Pangkal vektor A dihubungkan dengan ujung vektor B untuk mendapatkan vektor resultan C.

3. Metoda sumbu koordinat

Caranya memproyeksikan vektor A dan B ke sumbu X dan Y, lalu dijumlahkan.

Resultan vektornya :

Cx = Ax + By = Acos θ1 + Bcos θ2

Cy = Ax + By = Asin θ1 + Bsin θ2

C = Cx + Cy

Perkalian vektor antara lain:

a. Perkalian titik

Sifat-sifat perkalian titik:

1. A.B = B.A

2. i.i = j.j = k.k = 1

3. i.j = i.j = j.k = 0

4. Jika A.B = 0 maka A tegak lurus B

Persamaan perkalian titik :

A.B = ABcos θ

Jika A dan B menempati ruang tiga dimensi, maka:

A.B = (Axi + Ayj + Azk) (Bxi + Byj + Bzk)

A.B = (Ax Bx + Ay By + Az Bz)

b. Perkalian silang

Sifat-sifat perkalian silang :

1. A x B = – B x A

2. i.i = j.j = k.k = 0

i x j = k ; j x k = i ; k x i = j

3. |A x B| = luas jajaran genjan yang dibentuk oleh A dan B

4. Jika A x B = 0 maka A sejajar

Contoh soal

Hitunglah hasil perkalian silang antara dua vektor berikut:

A = i + 3j + 5k dan B = 2i + 4j + 6k

Penyelesaian

A x B = (AyBz - AzBy)i + (AzBx – AxBz)j + (AxBy – AyBx)k

= [(3)(6)-(5)(4)]i + [(5)(2)-(1)(6)]j + [(1)(4)-(3)(2)]k

= -2i + 4j -2k

KINEMATIKA PARTIKEL

Kinematika adalah bagian dari mekanika yang mempelajari tentang gerak tanpa memperhatikan apa/siapa yang menggerakkan benda tersebut. Partikel adalah benda dengan ukuran yang sangat kecil. Partikel merupakan suatu pendekatan/model dari benda yang diamati. Pendekatan benda sebagai partikel dapat dilakukan bila benda melakukan gerak translasi murni. Gerak disebut gerak translasi bila selama bergerak sumbu kerangka acuan yang melekat pada benda (x’,y’,z’) selalu sejajar dengan keranggka acuannya sendiri (x,y,z).

y

x

1. Pergeseran

Posisi dari suatu partikel di dalam suatu sistem koordinat dapat dinyatakan dengan vektor posisi r = x i + y j.

y

(x,y)

r = x i + y j

x

Partikel bergerak dari pisisi pertama r1 ke posisi kedua r2 melalui lintasan sembarang (tidak harus lurus). Pergeseran merupakan suatu vektor yang menyatakan perpindahan partikel dari posisi pertama ke posisi kedua melalui garis lurus. Pergeseran didefinisikan :

y

A

Dr = r2 – r1

r1 B

r2

x

2. Kecepatan

Partikel bergerak dengan suatu lintasan tertentu. Pada sat t1 partikel pada posisi r1 dan pada t1 partikel pada posisi r1. Kecepatan adalah pergeseran partikel per satuan waktu.

Kecepatan rata-rata,

vrata-rata = r2 – r1

t2 – t1

Kecepatan sesaat

Bila selang waktu pengukuran Dt mendekati harga nol maka diperoleh kecepatan sesaat.

vs = lim Dx/Dt

Dt ® 0

vs = dr/dt

Dalam 2 dimensi r dapat dinyatakan sebagai r = x i + y j maka diperoleh kecepatan

v = dr/dt

v = dx/dt i + dy/dt j

= vx i + vy j

Dalam 1 dimensi dimana gerak dari pertikel hanya dalam satu arah saja (misal- kan dalam arah sumbu x) maka vy = 0.

Maka percepatan partikel dalam 1 dimensi (sumbu x) adalah

v = vx i

3. Percepatan

Selama pergeseran tersebut kecepatan pertakel dapat mengalami perubahan. Perubahan kecepatan per satuan waktu disebut percepatan. Percepatan rata-rata adalah perubahan kecepatan dalam selang waktu Dt.

ar = Dv = v2 – v1

Dt t2 – t1

Percepatan sesaat

Bila selang waktu Dt mendekati nol maka diperoleh harga sesaat dari percepatan.

as = lim Dv/Dt

Dt ® 0

as = dv/dt.

Dalam 2 dimensi v dapat dinyatakan sebagai v = vx i + vy j maka diperoleh percepatan

a = dv/dt

= dvx/dt i + dvy/dt j

= ax i + ay j

Dalam 1 dimensi dimana gerak dari pertikel hanya dalam satu arah saja (misal- kan dalam arah sumbu x) maka ay = 0. Maka percepatan partikel dalam 1 dimensi (sumbu x) adalah a = ax i. Apabila partikel bergerak dengan percepatan konstan, maka ar = as = a.

DINAMIKA PARTIKEL

Pada saat sepatu atau sandal baru, kita merasakan betapa nyamannya berjalan. Bandingkan dengan sepatu atau sandal yang lama, dimana alasnya tipis dan aus (gundul). Kita merasa kurang nyaman berjalan, karena khawatir tergelincir atau terpeleset. Alas sepatu atau sandal yang kita pakai semakin lama semakin tipis (aus). Hal ini terjadi akibat adanya gesekan antara alas sepatu atau sandal dengan lantai saat berjalan. Gesekan yang terjadi antara alas sepatu atau sandal pada akhirnya menimbulkan gaya yang disebut dengan gaya gesekan.

Gambar 1. Gaya gesekan antara alas sepatu dengan lantai.

Beberapa contoh gaya gesekan dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya gaya gesekan yang terjadi antara ban mobil atau sepeda motor dengan jalan, gaya gesekan antara head radio tape dengan pita kaset yang menghasilkan bunyi yang merdu hingga gaya gesekan antara pena dengan kertas saat menulis. Cobalah dorong sebuah lemari! Lemari tersebut tidak akan bergerak. Karena lemari yang didorong dengan gaya F akan bergerak apabila gaya yang diberikannya lebih besar dari gaya penghambat atau gaya gesekannya. Gaya yang menghambat gerak lemari akan semakin besar apabila permukaan lantainya lebih kasar sehingga akan diperlukan gaya dorong F lebih besar lagi agar lemari dapat bergerak.

Gambar 2. Seorang anak mendorong sebuah lemari buku pada lantai kasar

dengan gaya dorong F.

Kekasaran lantai atau permukaan suatu benda dinyatakan dengan koefisien gesekan. Besarnya koefisien gesekan sangat tergantung pada kekasaran dari permukaan kedua benda yang saling bersentuhan. Selain itu gaya penghambat atau gaya gesekan juga bergantung terhadap gaya normal yang bekerja pada suatu benda. Besarnya gaya normal yang bekerja pada suatu benda sebanding dengan gaya berat benda tersebut, perhatikan kembali gambar 2 di halaman dua yang menggambarkan penguraian gaya-gaya yang bekerja pada suatu benda.

1. Gaya Gesekan di Bidang Datar

Gambar 3. Sebuah balok di atas lantai yang kasar.

Pada balok bekerja beberapa komponen gaya yang dapat Anda uraikan seperti gambar di bawah ini. Anggap balok didorong oleh gaya F ke kanan.

Gambar 4. Penguraian gaya pada balok yang terletak di bidang datar.

Bila benda belum bergerak (diam), maka pada benda berlaku hukum I Newton, perhatikan persamaan berikut ini: ΣF = 0, gaya tersebut dapat uraikan dalam arah sumbu x dan sumbu y, sehingga menjadi:

ΣF = 0

pada sumbu x

(lihat gambar 4 pada sumbu x)

F – f = 0

Pada sumbu y

(lihat gambar 4 pada sumbu y)

N – w = 0

N = w, karena w = m.g maka

N = m.g

Untuk benda yang bergerak, berlaku hukum II Newton. Sehingga persamaan di atas tidak berlaku untuk benda yang bergerak. Penurunan persamaannya dapat dirumuskan sebagai berikut:

Pada sumbu x

= m.a (lihat gambar 4 pada sumbu x)

F – f = m.a, pindah f ke ruas kanan dan ma ke ruas kiri, maka F – m.a = f atau

f = F – m.a

Pada sumbu y

y ΣF = m.a (lihat gambar 4 pada sumbu y, dimana a = 0)

N – w = 0

N = w

N = m.g

Keterangan: f = gaya gesek (N)

F = gaya dorong (N)

N = gaya normal (N)

W = gaya berat (N)

a = percepatan benda (ms-2)

m = massa benda (kg)

g = percepatan gravitasi (10 ms-2)

2. Gaya Gesekan di Bidang Miring

Secara kualitatif persamaan gaya gesekan pada bidang miring dapat diuraikan sebagai berikut.

Gambar 5. Sebuah balok terletak pada bidang miring.

Ada dua kemungkinan gerak yang dialami balok di bidang miring tersebut, yaitu: pertama, balok meluncur turun ke bawah dan kedua, balok naik ke atas jika terdapat gaya dorong F yang mendorong balok naik ke atas.

Persamaan gaya yang bekerja pada balok yang turun ke bawah di bidang miring dapat Anda uraikan sebagai berikut.

Gambar 6. Penguraian gaya di bidang miring.

Untuk benda yang bergerak turun, maka pada benda berlaku hukum II Newton.

Pada sumbu x

ΣF = m.a (lihat gambar 6 pada sumbu x)

mg sin α – f = m.a

mg sin α – m.a = f, atau

f = m.g sin – m.a

Pada sumbu y

= ma (lihat gambar 6 pada sumbu y, dimana a = 0)

N – W cos = 0, dengan memindahkan W cos α ke ruas kanan maka

N = W cos , dimana W = mg, sehingga :

N = mg cos

Untuk benda yang bergerak naik, karena adanya gaya dorong pada benda maka persamaannya dapat dirumuskan sebagai berikut:

Gambar 7. Penguraian gaya di bidang miring akibat gaya dorong F.

Pada sumbu x

= m.a (lihat gambar 7 pada sumbu x)

F – w sin – f = m.a

F – w sin – m.a = f atau

f = F – w sin – m.a dimana

w = m.g, sehingga:

f = F– m.g sin – m.a

Pada sumbu y

= m.a (lihat gambar 7 pada sumbu y, dimana a = 0)

N – w cos = 0

N = w cos dimana w = m.g sehingga:

N = m.g cos α

Keterangan: α (dibaca alfa) = sudut kemiringan bidang

3. Gaya Gesekan di Bidang Tegak

Gaya gesekan di bidang tegak biasanya dialami oleh sebuah batu yang meluncur turun jatuh dari sebuah bukit yang memiliki sudut kemiringan 900 atau tegak lurus bidang permukaan tanah datar. Agar batu tersebut dapat bergesekan dengan dinding bukit maka umumnya pada batu bekerja gaya luar yang menahan batu tersebut agar selalu menempel pada bukit. Bila Anda analogikan sebuah bukit dengan sebuah dinding rumah maka gaya gesekan yang terjadi di bidang tegak dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 8. Penguraian gaya di bidang tegak.

Pada batu bekerja beberapa komponen gaya yang dapat Anda uraikan dengan menggunakan hukum II Newton, seperti persamaan di bawah ini.

Pada sumbu x

= m.a (lihat gambar 8 di atas, dimana a = 0)

N – F = 0 atau

N = F

Sedangkan pada sumbu y:

= m.a

w – f = m.a (lihat gambar 8 di atas)

Sehingga f = w – m.a, dimana w = m.g

f = m.g – m.a

USAHA DAN ENERGI

Usaha (W) yang dilakukan pada sebuah benda oleh suatu gaya tetap (tetap dalam besar dan arah) didefinisikan sebagai perkalian antara besar pergeseran (s) dengan komponen gaya (F) yang sejajar dengan pergeseran tersebut.

W = F . s

Satuan usaha adalah joule (J), di mana:

1 joule = (1 Newton) . (1 meter)

1 J = 1 N . m

Energi kinetik adalah energi yang dimiliki oleh benda yang sedang bergerak sehingga memiliki kemampuan untuk melakukan usaha.

F . s = ½ . m . v22 – ½ . m . v12

di mana besaran ½ . m . v2 disebut energi kinetik benda (K).

W = F . s = K2 – K1 = ∆K

Energi potensial gravitasi adalah energi yang berhubungan dengan berat dan ketinggian suatu benda relatif terhadap tanah.

F . s = m . g . y2 – m . g . y1

di mana besaran m . g . y disebut energi potensial gravitasi (U).

W = F . s = U2 – U1 = ∆U

Hukum kekalan energi mekanik.

Jika hanya gaya-gaya konservatif yang bekerja, maka energi mekanik total suatu sistem tidak akan bertambah maupun berkurang dalam setiap proses.

½ . m . v22 + m . g . y2 = ½ . m . v12 + m . g . y1

Energi potensial elastis adalah energi yang berhubungan dengan benda yang terdeformasi, dan setelah terdeformasi, benda tersebut akan kembali ke bentuk dan ukuran semula.

W = ½ . k . x22 – ½ . k . x12

MOMENTUM, IMPULS, DAN TUMBUKAN

Impuls dari gaya total konstan yang bekerja untuk selang waktu dari t1 sampai t2 adalah

J = F . (t2 - t1)

Momentum sebuah benda didefinisikan sebagai hasil kali massa benda dengan kecepatannya.

p = m . v

Perubahan momentum sebuah benda tiap satuan panjang waktu sebanding dengan gaya total yang bekerja pada benda dan bearah sama dengan gaya tersebut.

F = dp

Dt

Kekekalan momentum: jika gaya eksternal resultan yang bekerja pada sistem sama dengan nol, maka vektor momentum total sistem besar dan arahnya tetap.

Tumbukan dapat diklasifikasikan berdasarkan hubungan energi dan kecepatan akhir. Dalam tumbukan elastis antara dua benda, energi kinetik total awal dan akhir adalah sama dan kecepatan relatif awal dan akhir mempunyai besar yang sama.

½ . mA . vA12 + ½ . mB . vB12 = ½ . mA . vA22 + ½ . mB . vB22

mA . (vA12 – vA22) = mB . (vB22 – vB12)

mA . vA1 + mB . vB1 = mA . vA2 + mB . vB2

mA . (vA1 – vA2) = mB . (vB2 – vB1)

vA1 + vA2 = vB2 + vB1

Dalam tumbukan tidak elastis dua benda, energi kinetik total akhir lebih kecil daripada energi kinetik total awal. Jika dua benda mempunyai kecepatan akhir yang sama, terjadi tumbukan tidak elastis sempurna.

mA . vA1 + mB . vB1 = (mA + mB) . v2

GERAK LURUS

Gerak lurus adalah gerak suatu obyek yang lintasannya berupa garis lurus. Dapat pula jenis gerak ini disebut sebagai suatu translasi beraturan. Pada rentang waktu yang sama terjadi perpindahan yang besarnya sama. Gerak lurus dapat dikelompokkan menjadi gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan yang dibedakan dengan ada dan tidaknya percepatan. Gerak lurus beraturan (GLB) adalah gerak lurus suatu obyek, dimana dalam gerak ini kecepatannya tetap atau tanpa percepatan, sehingga jarak yang ditempuh dalam gerak lurus beraturan adalah kelajuan kali waktu.

s = v \cdot t \!

dengan arti dan satuan dalam SI:

  • s = jarak tempuh (m)
  • v = kecepatan ([meter|m]/s)
  • t = waktu (s)

Gerak lurus berubah beraturan (GLBB) adalah gerak lurus suatu obyek, di mana kecepatannya berubah terhadap waktu akibat adanya percepatan yang tetap. Akibat adanya percepatan rumus jarak yang ditempuh tidak lagi linier melainkan kuadratik.

v = v_0 + a \cdot t \!

s = v_0 \cdot t +  \frac{1}{2} a \cdot t^2 \!

dengan arti dan satuan dalam SI:

  • v0 = kecepatan mula-mula (m/s)
  • a = percepatan (m/s2)
  • t = waktu (s)
  • s = Jarak tempuh/perpindahan (m)

GERAK MELINGKAR

Gerak melingkar dapat dibedakan menjadi dua jenis, atas keseragaman kecepatan sudutnya \omega\!, yaitu: gerak melingkar beraturan, dan gerak melingkar berubah beraturan.

Gerak melingkar beraturan

Gerak Melingkar Beraturan (GMB) adalah gerak melingkar dengan besar kecepatan sudut \omega\!tetap. Besar Kecepatan sudut diperolah dengan membagi kecepatan tangensial v_T\! dengan jari-jari lintasan R\!.

\omega = \frac {v_T} R

Arah kecepatan linier v\! dalam GMB selalu menyinggung lintasan, yang berarti arahnya sama dengan arah kecepatan tangensial v_T\!. Tetapnya nilai kecepatan v_T\! akibat konsekuensi dar tetapnya nilai \omega\!. Selain itu terdapat pula percepatan radial a_R\! yang besarnya tetap dengan arah yang berubah. Percepatan ini disebut sebagai percepatan sentripetal, di mana arahnya selalu menunjuk ke pusat lingkaran.

a_R = \frac {v^2} R = \frac {v_T^2} R

Bila T\! adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu putaran penuh dalam lintasan lingkaran \theta = 2\pi R\!, maka dapat pula dituliskan:

v_T = \frac {2\pi R} T \!

Kinematika gerak melingkar beraturan adalah \theta(t) = \theta_0 + \omega\ t dengan \theta(t)\! adalah sudut yang dilalui pada suatu saat t\!, \theta_0\! adalah sudut mula-mula dan \omega\!adalah kecepatan sudut (yang tetap nilainya).

Gerak melingkar berubah beraturan (GMBB) adalah gerak melingkar dengan percepatan sudut \alpha\! tetap. Dalam gerak ini terdapat percepatan tangensial a_T\! (yang dalam hal ini sama dengan percepatan linier) yang menyinggung lintasan lingkaran (berhimpit dengan arah kecepatan tangensial v_T\!).

\alpha = \frac {a_T} R

Kinematika GMBB adalah

\omega(t) = \omega_0 + \alpha\ t \!

\theta(t) = \theta_0 + \omega_0\ t  + \frac12 \alpha\ t^2 \!

\omega^2(t) = \omega_0^2 + 2 \alpha\ (\theta(t) - \theta_0) \!

dengan \alpha\! adalah percepatan sudut yang bernilai tetap dan \omega_0\! adalah kecepatan sudut mula-mula.

Kecepatan tangensial dan kecepatan sudut

Kecepatan linier total dapat diperoleh melalui v  = \sqrt{v_x^2 + v_y^2} dan karena batasan implementasi persamaan parametrik pada gerak melingkar, maka

v_T  = v = \sqrt{v_x^2 + v_y^2}

dengan

v_x  = \dot{x} = \frac{dx}{dt}

v_y  = \dot{y} = \frac{dy}{dt}

diperoleh

v_x  = -\omega R \sin(\omega t + \phi_x) \!

v_y  = \omega R \cos(\omega t + \phi_x) \!

sehingga

v_T  = \sqrt{(-\omega)^2 R^2 \sin^2(\omega t + \phi_x) + \omega^2 R^2 \cos^2(\omega t + \phi_x)}\!

v_T  = \omega R \sqrt{\sin^2(\omega t + \phi_x) + \cos^2(\omega t + \phi_x)}\!

v_T  = \omega R\!

Percepatan tangensial dan kecepatan sudut

Dengan cara yang sama dengan sebelumnya, percepatan linier total dapat diperoleh melalui

a  = \sqrt{a_x^2 + a_y^2}

dan karena batasan implementasi persamaan parametrik pada gerak melingkar, maka

a_T  = a = \sqrt{a_x^2 + a_y^2}

dengan

a_x  = \ddot{x} = \frac{d^2x}{dt^2}

a_y  = \ddot{y} = \frac{d^2y}{dt^2}

diperoleh

a_x  = -\omega^2 R \cos(\omega t + \phi_x) \!

a_y  = -\omega^2 R \sin(\omega t + \phi_x) \!

sehingga

a_T  = \sqrt{(-\omega)^4 R^2 \cos^2(\omega t + \phi_x) + \omega^4 R^2 \sin^2(\omega t + \phi_x)}\!

a_T  = \omega^2 R \sqrt{\cos^2(\omega t + \phi_x) + \sin^2(\omega t + \phi_x)}\!

a_T  = \omega^2 R\!

Contoh soal

Sebuah elektron bergerak mengelilingi inti atom dengan lintasan berbentuk lingkaran yang jari-jarinya 5,29 x 10-11 m. Bila kecepatan elektron 2,19 x 106 m/s dan massanya 9,1 x 10-31 kg, berapa periode orbit elektron?

Penyelesaian

ν = 2πr

T

Periode (T) = 2πr = 2(3,14)( 5,29 x 10-11 m)

v (2,19 x 106 m/s)

= 1,52 x 10-16 s

GERAK PARABOLA

Q: Sebuah massa dilemparkan dari ketinggian 100m dengan sudut 30 derajat Terhadap garis horizontal, jarak massa awal sampai ke tanah adalah 1000m, berapa Vo dan berapa jarak titik puncaknya?

A: gambar ilustrasi soal yang anda tanyakan adalah sebagai berikut:

Untuk kasus ini kecepatan dengan arah x tidak dipengaruhi oleh percepatan, sehingga dan

Sedangkan kecepatan dengan arah sumbu y dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi, sehingga

dan

di saat massa sampai ke tanah dengan jarak 1000 m dengan arah sumbu x dari posisi awal dimana x =1000 m dan y = 0 m, sehingga:

………(1)

dan

……….(2)

substitusi t dari persamaan 1 ke persamaan 2:

masukkan nilai-nilai sin 30 dan cos 30 serta g = 10 m/s2

sehingga didapat

Untuk titik tertinggi (ymaks)sehingga didapat titik maksimum:

dengan masukkan nilai v0 yang didapat sebelumnya didapat

kemudian masukkan v0 dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik maksimum ke persamaan

sehingga didapat puncak tertinggi yaitu 223,08 m dari tanah.

GERAK OSILASI

Jika suatu gaya bervariasi terhadap waktu, maka kecepatan dan percepatan pada benda tersebut juga bervariasi terhadap waktu. Suatu kasus kusus gaya tersebut berbanding lurus dengan pergeserannya dari titik setimbang. Jika gaya ini selalu bekerja mengarah ke titik setimbangnya, maka gerak bolak-balik berurutan/berulang akan terjadi pada benda tersebut. Gerak ini merupakan suatu contoh apa yang disebut gerak periodik atau gerak osilasi.

Gerak periodik ini apabila merupakan fungsi sinus/cosinus sering disebut sebagai gerak harmonik. Dan bila melalui lintasan yang sama disebut osilasi/vibrasi/getaran.

Osilator harmonik sederhana

Sebuah benda bermassa m yang diikatkan pada pegas ideal dengan konstanta gaya k dan bebas bergerak di atas permukaan horizontal yang licin (tanpa gesekan), merupakan contoh osilator harmonik sederhana.

F = – kx

x

F = 0

F = – kx

x

titik setimbang (x = 0)

Gaya pemulih pada balok oleh pegas, F = – kx, gaya ini selalu menuju ke titik setimbang (x = 0).

Dari hukum Newton, F = ma diperoleh:

F = m d2x

dt2

- kx = m d2x

dt2

d2x + k x = 0 (Persamaan defferensial)

dt2 m

Persamaan tersebut dikenal sebagai persamaan gerak osilator harmonik sederhana. Penyelesaian dari PD tersebut dapat dilakukan dengan cara :

d2x = - k x

dt2 m

x(t) adalah sebuah fungsi x yang turunan keduanya adalah negatif dari fungsi tersebut dikalikan konstanta k/m. Fungsi yang memenuhi kondisi ini misalnya, x = A cos t atau x = A cos t.

Penyelesaian dari PD tersebut adalah:

x = A cos ( wt + j)

GRAVITASI

Gravitasi adalah gaya tarik-menarik yang terjadi antara semua partikel yang mempunyai massa di alam semesta. Fisika modern mendeskripsikan gravitasi menggunakan Teori Relativitas Umum dari Einstein, namun hukum gravitasi universal Newton yang lebih sederhana merupakan hampiran yang cukup akurat dalam kebanyakan kasus. Sebagai contoh, Bumi yang memiliki massa yang sangat besar menghasilkan gaya gravitasi yang sangat besar untuk menarik benda-benda disekitarnya, termasuk makhluk hidup, dan benda benda yang ada di bumi. Gaya gravitasi ini juga menarik benda-benda yang ada diluar angkasa, seperti bulan, meteor, dan benda angkasa laiinnya, termasuk satelite buatan manusia.

Beberapa teori yang belum dapat dibuktikan menyebutkan bahwa gaya gravitasi timbul karena adanya partikel gravitron dalam setiap atom.

Hukum gravitasi universal Newton dirumuskan sebagai berikut: setiap massa titik menarik semua massa titik lainnya dengan gaya segaris dengan dengan garis yang menghubungkan kedua titik. Besar gaya tersebut berbanding lurus dengan perkalian kedua massa tersebut dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua massa titik tersebut.

F = G \frac{m_1 m_2}{r^2}

F adalah besar of the gaya gravitasi antara kedua massa titik tersebut

G adalah konstanta gravitasi

m1 adalah besar massa titik pertama

m2 adalah besar massa titik kedua

r adalah jarak antara kedua massa titik

Dalam sistem Internasional, F diukur dalam newton (N), m1 dan m2 dalam kilograms (kg), r dalam meter (m), dsn konstanta G kira-kira sama dengan 6,67 × 10−11 N m2 kg−2.

Dari persamaan ini dapat diturunkan persamaan untuk menghitung Berat. Berat suatu benda adalah hasil kali massa benda tersebut dengan percepatan gravitasi bumi. Persamaan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut: W = mg. W adalah gaya berat benda tersebut, m adalah massa dan g adalah percepatan gravitasi. Percepatan gravitasi ini berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain.

FLUIDA

Kerapatan suatu benda, ρ, didefinisikan sebagai massa per satuan volume:

ρ = m

v

dengan m adalah massa benda dan v adalah volumenya. Satuan kerapatan adalah kg/m3.

Berat jenis suatu benda, didefinisikan sebagai perbandingan kerapatan benda tersebut terhadap kerapatan air pada suhu 4º C. Berat jenis adalah besaran murni tanpa dimensi maupun satuan.

Tekanan, P, didefinisikan sebagai gaya per satuan luas, dengan gaya F dianggap bekerja secara tegak lurus terhadap luas permukaan A:

P = F

A

Satuan tekanan adalah N/m2 atau pascal (Pa).

Tekanan oleh fluida tak bergerak.

Besarnya tekanan disuatu titik di dalam zat cair tidak bergerak sebanding dengan kedalaman titik itu (h) dan sebanding dengan massa jenis (ρ) zat cair tersebut. Secara matematis, besarnya tekanan oleh fluida tak bergerak dapat dirumuskan sebagai:

P = ρ . g . h

Hukum utama hidrostatis.

Tekanan pada titik yang mempunyai kedalaman yang sama adalah sama. Menurut hukum hidrostatis:

PA = PB = PC = P0 + ρ . g . h

Hukum Pascal.

Tekanan yang diberikan kepada zat cair di dalam ruang tertutup akan diteruskan sama besar ke dalam segala arah. Menurut hukum Pascal: tekanan yang ada di piston 1 sama dengan yang ada di piston 2.

P1 = P2

F1 = F2

A1 A2

F2 = A2 F1

A2

Hukum Archimedes.

Benda yang tercelup ke dalam fluida akan mengalami gaya ke atas sebesar berat fluida yang dipindahkan oleh benda itu. Secara matematis, hukum Archimedes dapat dirumuskan sebagai:

FA = ρf . g . vf

FA = gaya ke atas oleh fluida

ρf = massa jenis fluida

vf = volume fluida yang dipindahkan (= volume benda yang tercelup/berada di dalam fluida)

g = percepatan gravitasi bumi

GERAK MELINGKAR

MAKALAH

FISIKA DASAR I

GERAK MELINGKAR

Disusun Oleh :

1. Annisa Syabatini (J1B107032)

2. Budi Prayitno (J1B107067)

3. Kurniawati (J1B107007)

4. Muhammad Habibie (J1B107054)

5. Nolika Wiji Jayanti (J1B107041)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI S–1 KIMIA

BANJARBARU

2007

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya jualah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ‘”Gerak Melingkar” sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Pada kesempatan ini kami tak lupa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini.

Kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan guna kesempurnaan penulisan makalah di masa yang akan datang.

Banjarbaru, 31 Desember 2007

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………..i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………….ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………………1

1.2 Tujuan Penulisan……………………………………………………………………..2

1.3 Metode Penulisan……………………………………………………………………..2

1.4 Batasan Masalah………………………………………………………………………3

BAB II ISI

2.1 Besaran Gerak melingkar……………………………………………………….4

2.1.1 Turunan dan integral………………………………………………………4

2.1.2 Hubungan antar besaran sudut dan tangensial………………………5

2.2 Jenis Gerak Melingkar………………………………………………………………5

2.2.1 Gerak melingkar beraturan………………………………………………..5

2.2.2 Gerak melingkar berubah beraturan……………………………………6

2.3 Persamaan Parametrik………………………………………………………………6

2.3.1 Hubungan antar besaran linier dan angular………………………….7

2.3.2 Kecepatan tangensial dan kecepatan sudut…………………………..7

2.3.3 Percepatan tangensial dan kecepatan sudut…………………………8

2.3.4 Kecepatan sudut tidak tetap……………………………………………….9

2.4 Gerak Berubah Beraturan………………………………………………………..11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………12

3.2 Saran…………………………………………………………………………………….12

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gerak melingkar.

Gerak melingkar adalah gerak suatu benda yang membentuk lintasan berupa lingkaran mengelilingi suatu titik tetap. Agar suatu benda dapat bergerak melingkar ia membutuhkan adanya gaya yang selalu membelokkannya menuju pusat lintasan lingkaran. Gaya ini dinamakan gaya sentripetal. Suatu gerak melingkar beraturan dapat dikatakan sebagai suatu gerak dipercepat beraturan, mengingat perlu adanya suatu percepatan yang besarnya tetap dengan arah yang berubah, yang selalu mengubah arah gerak benda agar menempuh lintasan berbentuk lingkaran.

Gerak melingkar merupakan contoh sederhana lain dari suatu tempat di mana peletakan suatu kerangka acuan padanya akan menyebabkan kerangka acuan menjadi non-inersia, walapun gerak melingkar yang dimaksud memiliki kecepatan putar tetap (gerak melingkar beraturan). Ada banyak contoh tentang gerak melingkar, misalnya gerak rotasi. Kecepatan putaran tetap adalah kecepatan linier yang diubah selalu arahnya setiap saat (dipercepat) dengan teratur, jadi pada dasarnya adalah suatu gerak berubah beraturan. Dalam gerak melingkar baik yang vertikal, horisontal maupun di antaranya, terdapat perbedaan pengamatan antara pengamat yang diam di atas tanah P2 dengan pengamat yang bergerak bersama obyek O yang diamati P1, Pengamat P2 dengan jelas melihat adanya gaya tarik menuju pusat yang selalu merubah arah gerak obyek sehingga bergerak melingkar (tanpa adanya gaya ini obyek akan terlempar keluar, hukum inersia Newton), akan tetapi P1 tidak menyadari hal ini. P1 tidak mengerti mengapa ia tidak jatuh (meluncur) padahal ia membuat sudut A dengan arah vertikal. Dalam kasus ini timbul gaya fiktif yang seakan-akan menahan pengamat P1 sehingga tidak jatuh.

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan pembuatan makalah ini, yaitu:

1. Untuk memenuhi tugas penulisan makalah yang diberikan kepada penulis;

2. Untuk memahami materi gerak melingkar lebih mendalam.

1.3 Metode Penulisan

Dalam penyelesaian makalah ini penulis menggunakan dua metode penulisan yaitu:

1. Metode internet, yaitu dengan mengumpulkan data-data berdasarkan atas informasi dari media internet.

2. Metode pustaka, yaitu dengan mengumpulkan data-data, perbendaharaan pengetahuan, mencari beberapa masalah yang berhubungan dengan gerak melingkar, sehingga terkumpulah informasi yang dapat membantu penyelesaian makalah ini.

1.4 Batasan Masalah

Dalam menjelaskan masalah yang penulis kemukakan di sini, dipandang perlu untuk menentukan batasan masalah yang akan dikemukakan. Sehingga masalah yang dibahas tidak keluar dari jangkauan pemikiran penulis.

Yang menjadi pokok masalah yang dikemukakan penulis sebagai sub bab dalam makalah ini adalah:

1. Besaran gerak melingkar,

2. Jenis gerak melingkar,

3. Persamaan parametrik,

4. Gerak berubah beraturan.

BAB II

ISI

2.1 Besaran Gerak Melingkar

Besaran-besaran yang mendeskripsikan suatu gerak melingkar adalah \theta\!, \omega\!dan \alpha\! atau berturur-turut berarti sudut, kecepatan sudut dan percepatan sudut. Besaran-besaran ini bila dianalogikan dengan gerak linier setara dengan posisi, kecepatan dan percepatan atau dilambangkan berturut-turut dengan r\!, v\! dan a\!.

Besaran gerak lurus dan melingkar

Gerak lurus

Gerak melingkar

Besaran

Satuan (SI)

Besaran

Satuan (SI)

poisisi r\!

m

sudut \theta\!

rad

kecepatan v\!

m/s

kecepatan sudut \omega\!

rad/s

percepatan a\!

m/s2

percepatan sudut \alpha\!

rad/s2

-

-

perioda T\!

s

-

-

radius R\!

m

2.1.1 Turunan dan integral

Seperti halnya kembarannya dalam gerak linier, besaran-besaran gerak melingkar pun memiliki hubungan satu sama lain melalui proses integrasi dan diferensiasi.

\int \omega\ dt = \theta \ \ \leftrightarrow\ \ \omega = \frac{d\theta}{dt}

\int \alpha\ dt = \omega \ \ \leftrightarrow\ \ \alpha = \frac{d\omega}{dt}

\int \int \alpha\ dt^2 = \theta \ \ \leftrightarrow\ \ \alpha = \frac{d^2\theta}{dt^2}

2.1.2 Hubungan antar besaran sudut dan tangensial

Antara besaran gerak linier dan melingkar terdapat suatu hubungan melalui R\! khusus untuk komponen tangensial, yaitu

\theta = \frac{r_T}{R}\ \ , \ \ \omega = \frac{v_T}{R}\ \ , \ \ \alpha = \frac{a_T}{R}

Perhatikan bahwa di sini digunakan r_T\! yang didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh atau tali busur yang telah dilewati dalam suatu selang waktu dan bukan hanya posisi pada suatu saat, yaitu

r_T \approx |\overrightarrow{r}(t+\Delta t)-\overrightarrow{r}(t)|\!

untuk suatu selang waktu kecil atau sudut yang sempit.

2.2 Jenis Gerak Melingkar

Gerak melingkar dapat dibedakan menjadi dua jenis, atas keseragaman kecepatan sudutnya \omega\!, yaitu: gerak melingkar beraturan, dan gerak melingkar berubah beraturan.

2.2.1 Gerak melingkar beraturan

Gerak Melingkar Beraturan (GMB) adalah gerak melingkar dengan besar kecepatan sudut \omega\!tetap. Besar Kecepatan sudut diperolah dengan membagi kecepatan tangensial v_T\! dengan jari-jari lintasan R\!.

\omega = \frac {v_T} R

Arah kecepatan linier v\! dalam GMB selalu menyinggung lintasan, yang berarti arahnya sama dengan arah kecepatan tangensial v_T\!. Tetapnya nilai kecepatan v_T\! akibat konsekuensi dar tetapnya nilai \omega\!. Selain itu terdapat pula percepatan radial a_R\! yang besarnya tetap dengan arah yang berubah. Percepatan ini disebut sebagai percepatan sentripetal, di mana arahnya selalu menunjuk ke pusat lingkaran.

a_R = \frac {v^2} R = \frac {v_T^2} R

Bila T\! adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu putaran penuh dalam lintasan lingkaran \theta = 2\pi R\!, maka dapat pula dituliskan

v_T = \frac {2\pi R} T \!

Kinematika gerak melingkar beraturan adalah \theta(t) = \theta_0 + \omega\ t dengan \theta(t)\! adalah sudut yang dilalui pada suatu saat t\!, \theta_0\! adalah sudut mula-mula dan \omega\!adalah kecepatan sudut (yang tetap nilainya).

2.2.2 Gerak melingkar berubah beraturan

Gerak Melingkar Berubah Beraturan (GMBB) adalah gerak melingkar dengan percepatan sudut \alpha\! tetap. Dalam gerak ini terdapat percepatan tangensial a_T\! (yang dalam hal ini sama dengan percepatan linier) yang menyinggung lintasan lingkaran (berhimpit dengan arah kecepatan tangensial v_T\!).

\alpha = \frac {a_T} R

Kinematika GMBB adalah

\omega(t) = \omega_0 + \alpha\ t \!

\theta(t) = \theta_0 + \omega_0\ t  + \frac12 \alpha\ t^2 \!

\omega^2(t) = \omega_0^2 + 2 \alpha\ (\theta(t) - \theta_0) \!

dengan \alpha\! adalah percepatan sudut yang bernilai tetap dan \omega_0\! adalah kecepatan sudut mula-mula.

2.3 Persamaan Parametrik

Gerak melingkar dapat pula dinyatakan dalam persamaan parametrik dengan terlebih dahulu mendefinisikan: titik awal gerakan dilakukan (x_0,y_0)\!, kecepatan sudut putaran \omega\! (yang berarti suatu GMB), pusat lingkaran (x_c,y_c)\!untuk kemudian dibuat persamaannya. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menghitung jari-jari lintasan R\! yang diperoleh melalui:

R = \sqrt{(x_0 - x_c)^2 + (y_0 - y_c)^2} \!

Setelah diperoleh nilai jari-jari lintasan, persamaan dapat segera dituliskan, yaitu

x(t) = x_c + R cos(\omega t + \phi_x) \!

y(t) = y_c + R sin(\omega t + \phi_y) \!

dengan dua konstanta \phi_x \!dan \phi_y \!yang masih harus ditentukan nilainya. Dengan persyaratan sebelumnya, yaitu diketahuinya nilai (x_0,y_0)\!, maka dapat ditentukan nilai \phi_x \!dan \phi_y \!:

\phi_x = \arccos \left( \frac{x_0 - x_c}{R} \right)\!

\phi_y = \arcsin \left( \frac{y_0 - y_c}{R} \right)\!

Perlu diketahui bahwa sebenarnya \phi_x = \phi_y \! karena merupakan sudut awal gerak melingkar.

2.3.1 Hubungan antar besaran linier dan angular

Dengan menggunakan persamaan parametrik, telah dibatasi bahwa besaran linier yang digunakan hanyalah besaran tangensial atau hanya komponen vektor pada arah angular, yang berarti tidak ada komponen vektor dalam arah radial. Dengan batasan ini hubungan antara besaran linier (tangensial) dan angular dapat dengan mudah diturunkan.

2.3.2 Kecepatan tangensial dan kecepatan sudut

Kecepatan linier total dapat diperoleh melalui v  = \sqrt{v_x^2 + v_y^2}

dan karena batasan implementasi persamaan parametrik pada gerak melingkar, maka

v_T  = v = \sqrt{v_x^2 + v_y^2}

dengan

v_x  = \dot{x} = \frac{dx}{dt}

v_y  = \dot{y} = \frac{dy}{dt}

diperoleh

v_x  = -\omega R \sin(\omega t + \phi_x) \!

v_y  = \omega R \cos(\omega t + \phi_x) \!

sehingga

v_T  = \sqrt{(-\omega)^2 R^2 \sin^2(\omega t + \phi_x) + \omega^2 R^2 \cos^2(\omega t + \phi_x)}\!

v_T  = \omega R \sqrt{\sin^2(\omega t + \phi_x) + \cos^2(\omega t + \phi_x)}\!

v_T  = \omega R\!

2.3.3 Percepatan tangensial dan kecepatan sudut

Dengan cara yang sama dengan sebelumnya, percepatan linier total dapat diperoleh melalui

a  = \sqrt{a_x^2 + a_y^2}

dan karena batasan implementasi persamaan parametrik pada gerak melingkar, maka

a_T  = a = \sqrt{a_x^2 + a_y^2}

dengan

a_x  = \ddot{x} = \frac{d^2x}{dt^2}

a_y  = \ddot{y} = \frac{d^2y}{dt^2}

diperoleh

a_x  = -\omega^2 R \cos(\omega t + \phi_x) \!

a_y  = -\omega^2 R \sin(\omega t + \phi_x) \!

sehingga

a_T  = \sqrt{(-\omega)^4 R^2 \cos^2(\omega t + \phi_x) + \omega^4 R^2 \sin^2(\omega t + \phi_x)}\!

a_T  = \omega^2 R \sqrt{\cos^2(\omega t + \phi_x) + \sin^2(\omega t + \phi_x)}\!

a_T  = \omega^2 R\!

2.3.4 Kecepatan sudut tidak tetap

Persamaan parametrik dapat pula digunakan apabila gerak melingkar merupakan GMBB, atau bukan lagi GMB dengan terdapatnya kecepatan sudut yang berubah beraturan (atau adanya percepatan sudut). Langkah-langkah yang sama dapat dilakukan, akan tetapi perlu diingat bahwa

\omega \rightarrow \omega(t) = \int \alpha dt = \omega_0 + \alpha t \!

dengan \alpha\! percepatan sudut dan \omega_0\! kecepatan sudut mula-mula. Penurunan GMBB ini akan menjadi sedikit lebih rumit dibandingkan pada kasus GMB di atas.

Persamaan parametrik di atas, dapat dituliskan dalam bentuk yang lebih umum, yaitu:

x(t) = x_c + R \cos \theta \!

y(t) = y_c + R \sin \theta \!

di mana \theta = \theta(t) \! adalah sudut yang dilampaui dalam suatu kurun waktu. Seperti telah disebutkan di atas mengenai hubungan antara \theta \!, \omega \! dan \alpha \! melalui proses integrasi dan diferensiasi, maka dalam kasus GMBB hubungan-hubungan tersebut mutlak diperlukan.

Dengan menggunakan aturan rantai dalam melakukan diferensiasi posisi dari persamaan parametrik terhadap waktu diperoleh

v_x(t) = - R \sin \theta\ \frac{d\theta}{dt} =  - \omega(t) R \sin \theta \!

v_y(t) = R \cos \theta \ \frac{d\theta}{dt} = \omega(t) R \cos \theta \!

dengan

\frac{d\theta}{dt} = \omega(t) = \omega_0 + \alpha\ t \!

Dapat dibuktikan bahwa

v(t) = v_T(t) = \sqrt{v_x^2(t) + v_y^2(t)} = \omega(t) R \!

sama dengan kasus pada GMB.

Percepatan total diferensiasi lebih lanjut terhadap waktu pada kecepatan linier memberikan

a_x(t) = - R \cos \theta \ \left( \frac{d\theta}{dt} \right)^2  - R \sin \theta \frac{d^2\theta}{dt^2} \!

a_x(t) = - R \sin \theta \ \left( \frac{d\theta}{dt} \right)^2  + R \cos\theta \frac{d^2\theta}{dt^2} \!

yang dapat disederhanakan menjadi

a_x(t) = - \omega^2 R \cos \theta  - \alpha R \sin \theta \!

a_x(t) = - \omega^2 R \sin \theta  + \alpha R \cos \theta \!

Selanjutnya

a^2(t) = a_x^2(t) + a_y^2(t) = R^2\left(\omega^4(t) + \alpha^2 \right) \!

yang umumnya dituliskan

a^2(t) = a_R^2(t) + a_T^2(t) \!

dengan

a_T = \alpha R \!

yang merupakan percepatan sudut, dan

a_R = \omega^2 R = a_S \!

yang merupakan percepatan sentripetal. Suku sentripetal ini muncul karena benda harus dibelokkan atau kecepatannya harus diubah sehingga bergerak mengikuti lintasan lingkaran.

2.4 Gerak Berubah Beraturan

Gerak melingkar dapat dipandang sebagai gerak berubah beraturan. Bedakan dengan gerak lurus berubah beraturan (GLBB). Konsep kecepatan yang berubah kadang hanya dipahami dalam perubahan besarnya, dalam gerak melingkar beraturan (GMB) besarnya kecepatan adalah tetap, akan tetapi arahnya yang berubah dengan beraturan, bandingkan dengan GLBB yang arahnya tetap akan tetapi besarnya kecepatan yang berubah beraturan.

Gerak berubah beraturan

Kecepatan

GLBB

GMB

Besar

berubah

tetap

Arah

tetap

berubah

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah:

1. Suatu benda yang bergerak melingkar memiliki dua gerakan, yaitu gerak

2. Penyebab benda bergerak melingkar adalah adanya gaya sentripetal (Fsp) yang arahnya selalu menuju pusat lingkaran.

3. Hubungan antara kecepatan sudut dengan kecepatan linier adalah v = ω. r .

4. Perubahan besar kecepatan menghasilkan percepatan tangensial (aT) dan percepatan sentripetal (aS).

5. Percepatan sentripetal selalu tegak lurus dengan percepatan tangensial.

4.1 Saran

Materi gerak melingkar ini perlu dikaji lebih mendalam. Hal ini agar materi gerak melingkar dapat dikuasai dengan sempurna oleh mahasiswa sehingga mahasiswa dapat dengan mudah mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Praktikum gerak melingkar perlu dilakukan secara menyeluruh tidak hanya pada rotasi benda tegar saja.

DAFTAR PUSTAKA

Http://id.wikipedia.org/wiki/Gerak_melingkar. 29 Desember 2007.

Tipler, Paul A. 1998. Fisika untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Erlangga.

FOTOSINTESIS

FOTOSINTESIS

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

OLEH

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 3

ASISTEN : NONI ARAI SETYORINI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA

BANJARBARU

NOVEMBER, 2007

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam beberapa aspek fisiologi tumbuhan berbeda dengan fisiologi hewan atau fisiologi sel. Tumbuhan dan hewan pada dasarnya telah berkembang melalui pola atau kebiasaan yang berbeda. Tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang melalui pola atau kebiasaan yang berbeda. Tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang sepanjang hidupnya. Kebanyakan tumbuhan tidak berpindah, memproduksi makanannya sendiri, menggantungkan diri pada apa yang diperolehnya dari lingkungannya sampai batas-batas yang tersedia. Hewan sebagian besar harus bergerak, harus mencari makan, ukuran tubuhnya terbatas pada ukuran tertentu dan harus menjaga integritas mekaniknya unntuk hidup dan pertumbuhan.

Suatu ciri hidup yang hanya dimiliki khusus oleh tumbuhan hijau adalah kemampuan dalam menggunakan zat karbon dari udara untuk diubah menjadi bahan organik serta diasimilasi dalam tubuh tumbuhan. Tumbuhan tingkat tinggi pada umumnya tergolong pada organisme autotrof, yaitu makhluk hidup yang dapat mensintesis sendiri senyawa organik yang dibutuhkannya. Senyawa organik yang baku adalah rantai karbon yang dibentuk oleh tumbuhan hijau dari proses fotosintesis. Fotosintesis atau asimilasi karbon adalah proses pengoubahan zat-zat anorganik H2O dan CO2 oleh klorofil menjadi zat organik karbohidrat dengan bantuan cahaya. Proses fotosintesis hanya bisa dilakukan oleh tumbuhan yang mempunyai klorofil. Proses ini hanya akan terjadi jika ada cahaya dan melalui perantara pigmen hijau daun yaitu klorofil yang terdapat dalam kloroplas.

Kalau fotosintesis adalah suatu proses penyusunan (anabolisme atau asimilasi) di mana energi diperoleh dari sumber cahaya dan disimpan sebagai zat kimia, maka proses respirasi adalah suatu proses pembongkaran (katabolisme atau disasimilasi) di mana energi yang tersimpan dibongkar kembali untuk menyelenggarakan proses – proses kehidupan.

1.2 Tujuan Percobaan

Tujuan praktikum ini adalah untuk membuktikan bahwa dalam fotosintesis dihasilkan oksigen (O2) dan untuk mengamati pengaruh cahaya dan CO2 terhadap pembentukan oksigen pada proses fotosintesis; untuk mengetahui ada tidaknya simpanan amilum dalam jaringan daun yang diberi perlakuan cahaya matahari berbeda.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tumbuhan terutama tumbuhan tingkat tinggi, untuk memperoleh makanan sebagai kebutuhan pokoknya agar tetap bertahan hidup, tumbuhan tersebut harus melakukan suatu proses yang dinamakan proses sintesis karbohidrat yang terjadi dibagian daun satu tumbuhan yang memiliki kloropil, dengan menggunakan cahaya matahari. Cahaya matahari merupakan sumber energi yang diperlukan tumbuhan untuk proses tersebut. Tanpa adanya cahaya matahari tumbuhan tidak akan mampu melakukan proses fotosintesis, hal ini disebabkan kloropil yang berada didalam daun tidak dapat menggunakan cahaya matahari karena kloropil hanya akan berfungsi bila ada cahaya matahari (Dwidjoseputro, 1986)

Karbohidrat merupakan senyawa karbon yang terdapat di alam sebagai molekul yang kompleks dan besar. Karbohidrat sangat beraneka ragam contohnya seperti sukrosa, monosakarida, dan polisakarida. Monosakarida adalah karbohidrat yang paling sederhana. Monosakarida dapat diikat secara bersama-sama untuk membentuk dimer, trimer dan lain-lain. Dimer merupakan gabungan antara dua monosakarida dan trimer terdiri dari tiga monosakarida (Kimball, 2002).

Fotosintesis berasal dari kata foton yang berarti cahaya dan sintesis yang berarti penyusunan. Jadi fotosintesis adalah proses penyusunan dari zat organic H2O dan CO2 menjadi senyawa organik yang kompleks yang memerlukan cahaya. Fotosintesis hanya dapat terjadi pada tumbuhan yang mempunyai klorofil, yaitu pigmen yang berfungsi sebagai penangkap energi cahaya matahari (Kimball, 2002).

Energi foton yang digunakan untuk menggerakkan elektron melawanan gradient panas di dalam fotosistem I dari sebuah agen dengan tenaga reduksi kuat, yang secara termodinamis mampu mereduksi CO2 di dalam fotosistem II dari air dengan pelepasan O2, jika sebuah molekul pigmen menyerap sebuah foton masuk ke dalam sebuah keadaan tereksitasi, karena satu elektronnya pada keadaan dasar pindah ke orbit (Anwar, 1984).

Orang yang pertama kali menemukan fotosintesis adalah Jan Ingenhousz. Fotosintesis merupakan suatu proses yang penting bagi organisme di bumi, dengan fotosintesis ini tumbuhan menyediakan bagi organisme lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Jan Ingenhosz melakukan percobaan dengan memasukkan tumbuhan Hydrilla verticillata ke dalam bejana yang berisi air. Bejana gelas itu ditutup dengan corong terbalik dan diatasnya diberi tabung reaksi yang diisi air hingga penuh, kemudian bejana itu diletakkan di terik matahari. Tak lama kemudian muncul gelembung udara dari tumbuhan air itu yang menandakan adanya oksigen (Kimball, 1993).

Pada tahun 1860, Sach membuktikan bahwa fotosintesis menghasilkan amilum. Dalam percobaannya tersebut ia mengguanakan daun segar yang sebagian dibungkus dengan kertas timah kemudian daun tersebut direbus, dimasukkan kedalam alkoholdan ditetesi dengan iodium. Ia menyimpulkan bahwa warna biru kehitaman pada daun yang tidak ditutupi kertas timah menandakan adanya amilum (Malcome, 1990).

Fotosistem ada dua macam, yaitu fotosistem I dan fotosistem II. Fotosistem I tersusun oleh klorifil a dan klorifil b dengan perbandingan 12:1 dan tereksitasi secara maksimum oleh cahaya pada panjang gelombang 700 nm. Pada fotosistem II perbandingan klorofil a dan klorofil b yaitu 1:2 dan tereksitasi secara maksimum oleh cahaya pada panjang gelombang 680 nm (Syamsuri, 2000).

Fotosintesis merupakan proses sintesis senyawa organik (glukosa) dari zat anorganik (CO2 dan H2O) dengan bantuan energi cahaya matahari. Dalam proses ini energi radiasi diubah menjadi energi kimia dalam bentuk ATP dan NADPH + H yang selanjutnya akan digunakan untuk mereduksi CO2 menjadi glukosa. Maka persamaan reaksinya dapat dituliskan :

Kloropil

6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2 + Energi

Sinar matahari

Tergantung pada bahan yang digunakan, maka jumlah mol Co2 yang dilepaskan dan jumlah mol O2 yang diperlukan tidak selalu sama. Persamaan reaksi kimia respirasi merupakan kebalikan dari reaksi kimia fotosintesis (Syamsuri, 2000).

Fotosintesis berlangsung dalam 2 tahap, yaitu :

1. Reaksi Terang

Reaksi terang fotosintesis merupakan reaksi pengikatan energi cahaya oleh klorofil yang berlangsung digrana yang dilaksanakan oleh fotosistem. Fotosistem merupakan unit yang mampu menangkap energi cahay matahari dalam rantai transfor elektron pada fotosintesis. Tersusun atas kompleks antene pusat reaksi dan akseptor elektrona (Saimbolon, 1989).

2. Reaksi gelap

Reaksi gelap fotosintesis merupakan reaksi pengikatan CO2 oleh molekul RBP (Ribolosa Bifosfat) untuk mensintesis gula yang berlangsung distroma, reaksi gelap meliputi 3 hal penting, yaitu:

a. Karboksilasi, merupakan pengikatan CO2 oleh RPB untuk membentuk molekul PGA.

b. Reduksi ; PGA (3C) direduksi oleh NADPH menjadi PGAL (3C).

c. Regenerasi ; pembentukan kembali RBP.

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 21 November 2007 dari pukul 08.00 – 10.00 Wita. Bertempat di Laboratorium Dasar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

3.2 Alat dan Bahan

1. Fotosintesis

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah beaker gelas, corong kaca, tabung reaksi, kawat dan cutter.

Bahan yang diperlukan adalah Hydrilla verticillata, air kolam dan larutan 0,25 % NaHCO3.

2. Pembentukan karbohidrat pada fotosintesis

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah beaker gelas, cawan petri, lampu spiritus/ kompor, kaki tiga dan penjepit.

Bahan yang digunakan adalah daun tumbuhan segar, larutan JKJ, alkohol 95 %, air dan kertas karbon/aluminium foil.

3.3 Prosedur Kerja

1. Fotosintesis

Ø Memasukkan beberapa cabang Hydrilla verticillata yang sehat sepanjang kira-kira 15 cm ke dalam corong kaca.

Ø Memasukkan corong kaca (1) ke dalam beaker gelas yang berisi medium, di mana setiap 100 ml air ditambahkan 2 ml NaHCO3 0,25 % dengan posisi corong menghadap ke bawah.

Ø Menutup bagian atas corong dengan tabung reaksi yang diusahakan berisi sebagian besar medium, dalam keadaan terbalik ( di dalam bak yang berisi air).

Ø Menandai masing-masing perlakuan dengan label A, B, C, D, E dan F, yang mana keterangannya sebagai berikut :

A = medium air dan diletakan ditempat terang dalam ruangan(intensitas cahaya I).

B = medium air dan diletakkan di luar ruangan dibawah pohon (intensitas cahaya II ).

C = medium air dan diletakkan diluar ruangan, ditempat ysng terbuka (intensutas cahaya III).

D = medium air + larutan NaHCO3, diletakkan ditempat terang dalam ruangan (intensitas cahaya I)

E = medium air + larutan NaCO3, Diletakkan diluar ruangan dibawah pohon (intensitas cahaya II).

F = medium air + larutan NaHCO3, diletakkan dilur ruangan terbuka (intensitas cahayaa III).

Ø Mengamati timbulnya gelembung-gelembung gas yang muncul dari potongan cabang / ranting yang terjadi selama 15’ ,30’ dan 45’. Banyaknya gelembung per satuan waktu dapat digunakan sebagai petunjuk laju fotosintesis. Perhitungan dilakukan sebanyak 3 kali dan diambil rata-ratanya.

Ø Hasil pengamatan / data yang diperoleh ditampilkan dalam bentuk grafik. Buatlah pembahasan dan kesimpulannya.

2. Pembentukan Karbohidrat Pada Fotosintesis

Ø Menutup daun tumbuhan yang belum kena sinar matahari sebagiannya dengan aluminium foil / kertas karbon dan jepit selama 2 x 24 jam.

Ø Merebus air dalam beaker gelas sampai mendidih pada lampu spiritus atau panci berisi air mendidih di atas kompor.

Ø Memanaskan alkohol di dalam beaker gelas kecil pada air mendidih(2).

Ø Memasukkan daun tumbuhan yang akan diuji ke dalam air panas (5 menit) sampai layu, kemudian ke dalam alkohol panas (5 menit).

Ø Mengulangi percobaan ini dengan daun yang lain yang tidak diberi perlakuan air panas.

Ø Mencuci daun (4) tersebut dengan air panas dan masukkan ke dalam larutan JKJ selama beberapa menit.

Ø Mencuci daun dengan air kemudian bentangkan dan amatilah perubahan yang terjadi. (Ingatlah amilum + JKJ memberikan warna biru sampai kehitam-hitaman).


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Hasil yang didapatkan setelah melakukan percobaan adalah :

1. Fotosintesis

Ø Data hasil pengamatan dengan medium air di tempat yang terang.

Waktu

Jumlah gelembung

Air + NaHCO3

5 menit

0

9

10 menit

14

16

15 menit

17

21

Tabel 1. Dengan medium air ditempat terang

Ø Data hasil pengamatan dengan medium air di tempat yang gelap.

Waktu

Jumlah gelembung

Air + NaHCO3

5 Menit

0

0

10 Menit

0

0

15 Menit

2

0

Tabel 2. Dengan medium air diluar ruangan dibawah pohon

2. Pembentukan karbohidrat pada fotosintesis

No.

Perlakuan

Gambar

Keterangan

1

Bekas tertutup aluminium foil

Daun berwarna hijau tua

2

Direndam di dalam air mendidih

Daun menjadi layu

3

Direndam dalam alkohol mendidh

Warna daun bekas ditutup aluminium foil lebih muda daripada yang tidak tertutup.

4

Setelah direndam larutan JKJ

Daun yang tidak tertutup aluminium foil berwarna biru kehitaman

4.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini ada terdapat tiga percobaan yang akan dibahas yaitu tentang fotosintesis, dan penentuan karbohidrat pada daun tumbuhan.

Fotosintesis adalah suatu proses biologi yang kompleks, proses ini menggunakan energi matahari yang dapat dimanfaatkan oleh kloropil yang terdapat dalam kloroplas. Fotosintesis selain memerlukan cahaya matahari sebagai bahan bakar juga memerlukan karbondioksida dan air sebagai bahan anorganik yang akan diproses untuk menghasilkan karbohidrat dan melepaskan oksigen.

Reaksi yang terjadi saat fotosintesis adalah :

CO2 + H2O C6H12O6 + O2 + Energi panas

Dari reaksi tersebut kita dapat memperkirakan bahwa pada fotosintesis terbentuk oksigen. Percobaan pertama mencoba membuktikan hal tersebut. Hydrilla dimasukkan ke dalam gelas beaker yang terlebih dahulu telah dilengkapi dengan corong penutup dan gelas kimia, kemudian dimasukkan air yakinkan pada saat air memenuhi gelas beaker dan masuk kedalam gelas kimia tidak terdapat gelembung udara dari luar. Gelas beaker yang berisi air ini diletakkan di 2 tempat yang berbeda kadar cahaya yang bertujuan untuk memperoleh hasil gelembung yang berbeda pula jumlahnya sehingga didapatkan hubungan antara jumlah gelembung dengan kadar cahaya yang ada. Tempat yang dipilih adalah didalam ruangan dan diluar ruangan dengan cahaya yang maksimum dengan lama pengamatan bervariasi dari 5 menit, 10 menit, dan 15 menit.

Gelembung udara yang dihasilkan menandakan bahwa proses fotosintesis pada Hydrilla verticilata menghasilkan oksigen. Berdasarkan hasil pengamatan jumlah gelembung udara yang dihasilkan pada perlakuan A dalam medium air di tempat terang dalam ruangan lebih sedikit dibandingkan dengan perlakuan B yang ditempatkan diluar ruangan ditempat terbuka dengan intensitas cahaya II walaupun waktu yang digunakan sama. Hal ini membuktikan bahwa intensitas cahaya sangat mempengaruhi proses fotosintesis. Intensitas cahaya yang optimum sangat baik untuk proses fotosintesis, sebaliknya dengan intensitas cahaya yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat menghambat berlangsungnya proses fotosintesis.

Sedangkan perlakuan C yang menggunakan medium air ditambah larutan NaHCO3 yang diletakkan ditempat terang dalam ruangan menghasilkan jumlah gelembung udara yang lebih sedikit dibandingkan dengan perlakukan D yang diletakkan di luar ruangan (ditempat terbuka) yang mengunakan medium tambahan yaitu NaHO3. Hal ini disebabkan karena intensitas cahaya dan larutan NaHCO3 yang terurai menjadi NaOH dan CO2.

Selain intensitas cahaya dan kadar CO2, juga terdapat faktor lain yang mempengaruhi proses fotosintesis adalah temperatur, kadar 02, kadar air dan unsur mineral yang ada. Laju pembentukan oksigen dapat digunakan sebagai suatu petunjuk untuk laju fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan.

Percobaan kedua yaitu penentuan karbohidrat pada fotosintesis pada daun tumbuhan berupa daun mangga. Percobaan ini dilakukan pada daun yang segar dan dibungkus dengan kertas karbon kurang lebih 24 jam, kemudian daun tersebut dimasukkan kedalam air panas setelah dilepas dari pohonnya yang bertujuan untuk mematikan sel-sel yang ada. Setelah direbus kemudian daun dimasukkan kedalam larutan alkohol agar klorofil pada daun tersebut larut sehingga warna daun berubah menjadi pucat, daun yang telah dimasukkan kedalam alkohol tadi kemudian dimasukkan kembali ke dalam air panas dan selanjutnya kedalam larutan JKJ dan kemudian diangkat.

Dari hasil pengamatan di peroleh bahwa warna daun setelah diberi perlakuan seperti diatas berubah menjadi pucat untuk bagian yang tertutup dengan kertas aluminium foil dan bagian yang tidak ditutup menjadi berwarna cokelat tua. Warna cokelat tua menandakan bahwa telah terjadi proses fotosintesis yang telah terbentuk amilum yang berwarna cokelat jika bereaksi dengan larutan iod (larutan JKJ). Hal ini menandakan bahwa cahaya sangat berperan dalam peristiwa fotosintesis, dimana cahaya yang diterima dengan bebas tanpa adanya suatu penghalang, maka akan membuat perubahan pada daun. Secara garis besar dapat dikatakan stomata akan berperan sebagai pengatur penguapan dalam peristiwa fotosintesis.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum kali ini adalah:

1) Fotosintesis adalah proses pembentukan bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan cahaya dan kloroplas.

2) Selain klorofil fotosintesis juga memerlukan CO2 dan cahaya matahari.

3) Semakin besar intensitas cahaya dan konsentrasi CO2 maka proses fotosintesis berlangsung semakin cepat.

4) Hasil dari fotosintesis adalah glukosa dan oksigen.

5.2 Saran

Percobaan seperti ini memerlukan pengamatan yang harus benar-benar diperhatikan, terlebih lagi saat memperhatikan gelembung udara yang dihasilkan dari proses fotosintesis. Agar proses pembuktian adanya karbohidrat pada daun yang melakukan fotosintesis.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, A. 1984. Ringkasan Biologi. Ganeca Exact. Bandung.

Dwidjoseputro. 1986. Biologi. Erlangga. Jakarta.

Kimball, J. W. 1993. Biologi Umum. Erlangga. Jakarta.

Kimball, J.W. 2002. Fisiologi Tumbuhan. Erlangga. Jakarta.

Malcome. B. W. 1990. Fisiologi Tanaman. Bumi Aksara. Bandung.

Simbolon, Hubu dkk. 1989. Biologi Jilid 3. Erlangga. Jakarta.

Syamsuri. I. 2000. Biologi. Erlangga. Jakarta.

GENETIKA

GENETIKA

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

OLEH

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 3

ASISTEN : NONI ARAI SETYORINI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA

BANJARBARU

DESEMBER, 2007

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu aspek yang penting pada organisme hidup adalah kemampuannya untuk melakukan reproduksi dan dengan demikian dapat melestarikan jenisnya. Pada organisme yang berkembang biak secara seksual individu baru adalah hasil kombinasi informasi genetik yang di sumbangkan oleh 2 gamet yang berbeda yang berasal dari kedua parentalnya.

Genetika merupakan ilmu pengetahuan dasar bagi ilmu terapan, misalnya pemuliaan tanaman dan hewan, masalah penyakit dan kelainan pada tubuh manusia. Beberapa istilah yang sering digunakan dalam bidang genetika ini seperti : gen, genotif, resesif, dominan, alela, homozigot, heterozigot hendaknya sudah diketahui dan dipahami.

Ciri-ciri yang diamati (secara kolektif dan fenotif) suatu organisme dikendalikan oleh gen. Pada orgabnisme diploid setiap sifat fenotiof dikendalikan oleh setidak-tidaknya oleh satu pasang gen satu anggota pasangan tersebut diwariskan dari setiap induknya. Jika anggota pasangan tadi berlainan dalam efeknya yang tepat terhadap fenotifnya maka disebut alelik. Alel adalah bentuk alternatif suatu gen tunggal seperti misalnya gen yang mengendalikan warna bniji pada ercis.

Suatu organisme dengan sepasang alel yang identik untuk sifat tertentu dikatakan bersifat homozigot terhadap alelnya, dan satu dengan alel yang berlainan disebut heterozigot. Pada heterozigot, satu alel dapat dinyatakan dengan menyatakan atau meniadakan yang lainnya (dominasi). Atau kedua-duanya alel itu dapat berpengaruh terhadap fenotipnya (kodomonasi/resesif).

Bila gamet–gamet (spora pada tumbuhan) terbentuk karena meiosis, pasangan–pasangan gen menjadi terpisah–pisah dan didistribusikan satu–satu kepada setiap gamet atau spora (Hukum Mendel tentang seregasi).

Mendel menemukan bahwa pewarisan satu pasangan gen sama sekali tidak bergantung pada pewarisan pasangan lainnya (Hukum pemilahan bebas). Beberapa sifat dikendalikan secara aditif oleh lebih dari satu pasang alel. Pewarisan poligenik atau faktor berganda sedemikian rupa merupakan kekhasan sifat, seperti contoh pada berat tubuh, yang cenderung beragam dalam suatu cara yang berkesinambungan dari suatu ekstrim kepada yang lain, dengan sebagian individunya mempunyai suatu fenotip diantara ekstrim-ekstrimnya.

1.2 Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui golongan darah seseorang yang diturunkan dari tetuanya.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Darah adalah cairan yang berwarna merah yang terdapat dalam pembuluh darah. Volume darah manusia ± 7 % dari berat badan atau ± 5 liter untuk laki–laki dan 4,5 liter untuk perempuan. Penyimpanan darah dapat dilakukan dengan memberikan natrium sitrat atau natrium oksalat, karena garam–garam ini menyingkirkan ion–ion kalsium dari darah yang berperan penting dalam proses pembekuan darah (Abbas, 1997).

Darah merupakan suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut dengan plasma. Secara keseluruhan darah dapat dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas karena pada dasarnya terdiri atas unsur-unsur sel dan substansi interselular yang berbentuk plasma. Secara fungsional darah merupakan jaringan pengikat yang dalam artiannya menghubungkan seluruh bagian-bagian dalam tubuh sehingga merupakan integritas. Darah yang merupakan suspensi tersebut terdapat gen, dimana gen merupakan ciri-ciri yang dapat diamati secara kolektif atau fenotifnya dari suatu organisme. Pada organisme diploid, setiap sifat fenotif dikendalikan oleh setidak-tidaknya satu pasang gen dimana satu pasang anggota tersebut diwariskan dari setiap tertua. Jika anggota pasangan tadi berlainan dalam efeknya yang tepat terhadap fenotifnya, maka disebut alelik. Alel adalah bentuk alternatif suatu gen tunggal, misalnya gen yang mengendalikan sifat keturunannya (Subowo. 1992).

Penggumpalan darah terjadi karena fibrinogen (protein yang larut dalam plasma) diubah menjadi fibrin yang berupa jaring-jaring. Perubahan tersebut disebabkan oleh trombin yang terdapat dalam darah sebagai pritrombin. Pembentukan trombin dari protrombin tergantung pada adanya tromboplastin dan ion Ca2+ (Poejadi, 1994).

Darah mempunyai fungsi antara lain: mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh, mengangkut karbondioksioda dari jaringan tubuh ke paru-paru, mengangkut sari-sari makanan ke seluruh tubuh, mengangkut sisa-sisa makanan dari seluruh jaringan tubuh ke alat-alat ekskresi, mengangkut hormon dari kelenjar endokrin ke bagian tubuh tertentu, mengangkut air untuk diedarkan ke seluruh tubuh, menjaga stabilitas suhu tubuh dengan memindahkan panas yang dihasilkan oleh alat-alat tubuh yang aktif ke alat-alat tubuh yang tidak aktif, menjaga tubuh dari infeksi kuman dengan membentuk antibodi (Abbas, 1997).

Golongan darah pada manusia bersifat herediter yang ditentukan oleh alel ganda. Golongan darah seseorang dapat mempunyai arti yang penting dalam kehidupan. Sistem penggolongan yang umum dikenal dalam sistem ABO. Pada tahun 1900 dan 1901 Landstainer menemukan bahwa penggumpalan darah (Aglutinasi) kadang-kadang terjadi apabila eritrosit seseorang dicampur dengan serum darah orang lain. Pada orang lain lagi, campuran tersebut tidak mengakibatkan penggumpalan darah. Berdasarkan hal tersebut Landstainer membagi golongan darah manusia menjadi 4 golongan, yaitu: A, B, AB, dan O. Dalam hal ini di dalam eritrosit terdapat antigen dan aglutinogen, sedangkan dalam serumnya terkandung zat anti yang disebut sebagai antibodi atau aglutinin. Dikenal 2 macam antigen yaitu α dan β, sedangkan zat antinya dibedakan sebagai anti A dan anti B. Antigen dan antibodi yang dikandung oleh darah seseorang dengan golongan darah tertentu adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Antigen dan Antibodi yang dikandung oleh darah seseorang

Golongan

Antigen

Zat anti

A

α

B

B

β

A

AB

-

A + B

O

α maupun β

-

Bila antigen α bertemu dengan anti A dalam darah seseorang maka akan terjadi penggumpalan darah dan dapat menyebabkan kematian. Berdasarkan hal ini golongan darah penting sekali untuk diperhatikan, terutama dalam transfusi darah. Untuk menghindari jangan sampai terjadi penggumpalan, maka sebelum dilakukan transfusi darah, baik darah si pemberi (donor) maupun si penerima (resipien) harus diperiksa atau diketahui terlebih dahulu golongan darahnya (Kimball, 1990).

Golongan darah menurut system ABO, pada permulaan abad ini K. Landsteiner menemukan bahwa penggumpalan darah kadang-kadang terjadi apabila sel darah merah seseorang dicampur dengan serum darah orang lain. Akan tetapi pada orang lain campuran tadi tidak mengakibatkan penggumpalan darah. Berdasarkan reaksi tadi maka Landsteiner membagi orang menjadi tiga golongan yaitu A, B, dan O. Golongan keempat yang jarang ditemui yaitu golongan darah AB telah ditemukan oleh dua orang mahasiswa Landsteiner yaitu A. V. Von Decastelo dan A. Sturli pada tahun 1902. Golongan darah menurut system MNSs, dalam tahun 1972 K. Landsteiner dan P. Levine menemukan antigen baru yang disebut antigen-M dan antigen-N. Dikatakan bahwa sel darah merah seseorang dapat mengandung salah satu atau kedua antigen tersebut. Golongan darah menurut sistem Rh, K. Landsteiner dan A. S. Wiener pada tahun 1940 menemukan antigen baru lagi yang dinamakan faktor Rh (singkatan dari kata Rhesus, ialah sejenis kera di India yang dulu banyak dipakai untuk penyelidikan darah orang). Golongan darah dibedakan atas dua kelompok, yaitu: Golongan darah Rh positif (Rh+) ialah orang yang memiliki antigen Rh dalam eritrositnya sehingga waktu darahnya dites dengan anti serum yang mengandung anti Rh maka eritrositnya menggumpal, golongan darah Rh negatife (Rh-) ialah orang yang tidak memiliki antigen Rh di dalan eritrositnya, sehingga eritrositnya tidak menggumpal pada waktu dites (Suryo, 2001).

Menurut sistem A, B, O, ada 4 macam golongan darah, berdasarkan macam aglutinogennya. Keempat golongan darah itu ditentukan oleh 3 macam alela yang diberi simbol I ( isoaglutinogen): gen IA pembentuk aglutinogen A, gen IB pembentuk aglutinogen B, gen IO yang tidak dapat membentuk aglutinogen (Foster, 2002).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Tempat dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 5 Desember 2007 pukul 08.00-10.00, bertempat di Laboratorium Dasar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

3.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah objek glass, jarum franke atau blood lanset, tusuk gigi yang bersih dan kering, dan kaca pembesar atau mikroskop.

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah darah manusia, serum anti A dan anti B, kapas dan alkohol 70 %.

3.3 Cara Kerja

1. Menyiapkan objek glass dan memberi tanda untuk serum anti A dan serum anti B berdampingan.

2. Membersihkan bagian jari tangan yang akan ditusuk (diambil darahnya) dengan kapas beralkohol 70 %. Kemudian menusuk dengan blood lanset dan meneteskan pada masing-masing bagian objek glass tadi.

3. Menambahkan 2 tetes serum pada masing-masing tetes darah, yang satu dengan anti A dan yang lain dengan anti B. Kemudian mencampurkan/meratakan dengan baik hingga membentuk gambaran oval.

4. Mengamati dan menentukan golongan darahnya.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

No

Golongan Darah

Anti B

Anti A

Keterangan

1.

A

Anti A:

Menggumpal

Anti B:

Tidak menggumpal

2.

B

Anti A:

Tidak menggumpal

Anti B:

Menggumpal

3.

AB

Anti A:

Menggumpal

Anti B:

Menggumpal

4.

O

Anti A:

Tidak menggumpal

Anti B:

Tidak menggumpal

4.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil percobaan dan pengamatan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa golongan darah pada manusia bersifat herediter yang ditentukan oleh alel ganda dan golongan darah seseorang dapat mempunyai arti yang penting dalam kehidupan. Pada objek glass yang terdapat darah terlihat, setelah darah tersebut ditetesi anti A maka darah tidak mengalami penggumpalan dan setelah ditetesi anti B maka darah tersebut mengalami penggumpalan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel darah yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah bergolongan B.

Apabila antigen a bertemu dengan anti A dalam darah seseorang, maka akan terjadi penggumpalan darah dan dapat menyebabkan kematian. Hal ini berarti golongan darah orang tersebut adalah A.Apabila antigen b bertemu dengan anti B dalam darah seseorang, maka akan terjadi penggumpalan darah dan dapat menyebabkan kematian. Hal ini berarti golongan darah orang tersebut adalah B.

Apabila dalam darah seseorang diberi zat anti A, maka akan terjadi penggumpalan. Begitu juga bila darah orang tersebut diberi zat anti B. Hal ini berarti golongan darah orang itu adalah AB. Apabila dalam darah seseorang diberi zat anti A dan zat anti B tidak mengalami penggumpalan, maka golongan darah orang tersebut adalah O. Berdasarkan hal ini, golongan darah penting sekali untuk diperhatikan, terutama dalam transfusi darah. Golongan darah seseorang harus diperiksa terlebih dahulu sebelum melakukan transfusi darah baik darah si pemberi (donor) maupun si penerima (resepien) untuk menghindari terjadinya penggumpalan atau aglutinasi.

Antingen adalah sebuah zat yang menstimulasi tanggapan imun, terutama dalam produksi antibodi. Antingen biasanya berupa protein atau polisarida, tetapi dapat juga berupa molekul lainnya, termasuk molekul kecil dipasangkan dengan protein pembawa. Anti gen ini dibagi menjadi anti gen A dan anti gen B. dimana anti gen A hanya terdapat dan dihasilkan pada seseorang bergolongan darah A dan O, sedangkan anti gen B hanya terdapat pada seseorang bergolongan darah B dan O. Serum adalah zat anti yang disebut sebagai antibodi atau agglutinin yang dihasilkan di dalam sel darahnya, sehingga yang disebut dengan anti serum adalah zat anti atau agglutinin yang tidak dihasilkan seseorang di dalam sel darahnya.


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Berdasarkan sistem ABO, darah terbagi atas empat golongan, yaitu golongan darah A, B, AB, dan O.]

2. Golongan darah A, B, AB, dominan terhadap O. Golongan darah O muncul dalam keadaan resesif.

3. Golongan darah disebabkan oleh alel ganda.

4. Pengetahuan tentang golongan darah sangat penting untuk kebutuhan transfusi darah.

5. Golongan darah A mengandung antigen a dan zat anti B, golongan darah B mengandung antigen b dan zat anti A, golongan darah AB mengandung zat anti A + B dan golongan darah O mengandung antigen a maupun b.

5.2 Saran

Dalam hal ini, peranan asisten sangat diperlukan untuk memberikan penjelasan tentang golongan darah terutama menyangkut antigen dan zat anti yang terkandung di dalam darah, karena kebanyakan praktikan mengalami kesulitan dalam membedakan antara golongan darah yang satu dengan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, M. 1997. Biologi Cetakan KeTiga. Yudistira. Jakarta.

Foster, B. 2002. Buku Pelajaran Siap SPMB IPA. Ganesha Operation. Bandung.

Kimball, J. W. 1990. Biologi Jilid 1, 2, dan 3. Erlangga. Jakarta.

Krisdianto, dan kawan-kawan. 2005. Penuntun Praktikum Biologi Umum. FMIPA Universitas Lambung Mangkurat.Banjarbaru.

Poejadi, A. 1994. Dasar – Dasar Biokimia. Universitas Indonesia. Yogyakarta.

Subowo. 1992. Histologi Umum. Bumi Aksara. Jakarta.

Suryo. 2001. Genetika Manusia Cetakan Kesembilan. UGM Press. Yogyakarta

PEMBUATAN DAN PEMURNIAN KALIUM SULFIT

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR I

PERCOBAAN VI

PEMBUATAN DAN PEMURNIAN KALIUM SULFIT

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 1.4

ASISTEN : RAIHANAH

PROGRAM STUDI KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARBARU

2007

PERCOBAAN VI

PEMBUATAN DAN PEMURNIAN KALIUM SULFIT

I. TUJUAN PERCOBAAN

Tujuan praktikum ini adalah untuk memahami cara sintesis sederhana dari suatu senyawa kimia dan metode pemisahan dan pemurnian senyawa hasil sintesis secara rekristalisasi.

II. DASAR TEORI

Pada umumnya campuran digolongkan sebagai materi heterogen, artinya tidak seluruh bagian materi ini mempunyai sifat yang sama. Akan tetapi, ada suatu campuran yang partikel-partikelnya tidak dapat dibedakan dengan mata biasa. Campuran tersebut dinamakan larutan. Oleh karenanya, larutan dianggap sebagai materi homogen walaupun keadaan yang sesungguhnya tidak homogen benar (Kitty, 1996).

Oleh karena proses pembentukkan campuran merupakan proses fisis, maka partikel-partikel pembentuk campuran mudah dipisahkan kembali secara fisis. Pemisahan tersebut berdasarkan perbedaan sifat fisis dari partikel-partikel pembentuk campuran yang dapat dilakukan dengan berbagai cara (Kitty, 1996).

Pada umumnya di alam terdapat banyak campuran, maka kita perlu mempelajari cara-cara pemisahannya untuk mendapatkan zat yang dihasilkan tertentu yang murni. Suatu campuran dapat dipisahkan dengan cara filtrasi, distilasi, kristalisasi, ekstrasi, absorbsi, dan kromatografi (Brady, 1999).

Adapun beberapa cara pemisahan dan pemurnian suatu zat adalah sebagai berikut :

v Kristalisasi

Kristalisasi adalah cara memperoleh zat padat yang larut dalam cairan, ada dua cara kristalisasi yang umum dilakukan, yaitu :

ü Cara penguapan

Cairan diuapkan melalui pemanasan sehingga dihasilkan kristal padat.

ü Cara Pendinginan

Zat yang mudah larut dalam air panas dari pada dalam air dingin lebih mudah menggunakan cara ini. Jika suatu larutan didinginkan, maka kelarutannya akan berkurang.

Pemisahan campuran dengan kristalisasi ini dilakukan untuk memisahkan campuran padat dalam air, jika zat padat yang terlarut merupakan zat padat kristal. Caranya adalah dengan menguapkan zat cairnya.

v Destilasi

Destilasi adalah penguapan campuran zat cair dengan cara memanaskan, kemudian mengembunkan uap zat cair dan menampungnya dalam suatu wadah bersih dan kering sehingga diperoleh zat cair yang murni. Prinsip penentuan zat kadar air dengan destilasi adalah menguapkan air dengan “pembawa” cairan kimia yang mempunyai titik didih lebih tinggi daripada air dan tidak dapat bercampur dengan air serta mempunyai berat jenis lebih rendah daripada air. Berbagai jenis destilasi diantaranya yaitu destilasi besar/sederhana, destilasi uap, destilasi vakum dan destilasi flaksionat (Sudarmadji, 1989).

v Ekstrasi

Ekstrasi adalah suatu cara yang dilakukan untuk memisahkan senyawa organik dari campurannya yang dihasilkan dari suatu reaksi kimia atau yang terdapat dalam bahan alam. Beberapa macam prinsip ekstrasi yaitu ekstrasi sederhana, penyaringan, penyaringan selaput dan ekstrasi berkesinambungan.

v Sublimasi

Cara ini digunakan untuk pemurnian senyawa-senyawa organik yang berbentuk padatan. Pemanasan yang dilakukan terhadap senyawa organik akan menyebabkan terjadinya perubahan sebagai berikut :

Apabila zat tersebut pada suhu kamar berada dalam keadaan padat, pada tekanan tertentu zat tersebut akan meleleh kemudian mendidih. Di sini terjadi perubahan fase dari padat ke cair lalu ke fase gas. Apabila zat tersebut pada suhu kamar berada dalam keadaan cair, pada tekanan tertentu dan temperatur tersebut pula (pada titik didihnya) akan berubah menjadi fase gas. Apabila zat tersebut pada suhu kamar berada dalam keadaan padat, pada tekanan dan temperatur tertentu akan langsung berubah menjadi fase gas tanpa melalui fase cair terlebih dahulu.

v Rekristalisasi

Zat padat sebagai hasil reaksi biasanya bercampur dengan zat padat lain. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan zat zat apdat yang kita inginkan, perlu dimurnikan terlebih dahulu. Prinsip proses ini adalah perbedaan kelarutan zat pengotornya. Rekristalisasi dapat dilakukan dengan cara melarutkan cuplikan ke dalam pelarut yang sesuai.

v Kromatografi

Kromatografi telah didefinisikan terutama sebagai suatu proses pemisahan yang digunakan untuk pemisahan campuran yang pada hakekatnya molekuler (Basset, 1994).

v Penukaran Ion (Dengan Menggunakan Resin Penukar Ion)

Penukar ion adalah elektrolit tak larut berion lebih yang mudah dipertukarkan dengan ion medium sekitarnya tanpa mengalami perubahan fisik dan struktur elektrolitnya sendiri. Penukar ion berkelebihan muatan atau ion tetap yang ternetralkan oleh muatan ion labilnya disebut kation pada penukar kation dan disebut anion pada penukar anion (Dorfner, 1995).

Pada pembuatan kalium sulfit dari natrium sulfit dengan kalium klorida, garam yang terjadi direkristalisasi dengan air. Proses rekristalisasi ini dilaksanakan sehingga hanya terdapat ion K+ dan ion SO32+ saja yang tinggal di dalam larutan atau tidak ditemukan lagi ion Na+ dan Cl-.

III. ALAT DAN BAHAN
A. ALAT

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah Erlenmeyer 50 ml, neraca analitis, pengaduk gelas, corong, kertas saring, beaker gelas 400 ml, hotplate.

B. BAHAN

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Na2SO3, KCl, aquades.

IV. PROSEDUR KERJA

· Ditimbang 1,26 gram Na2SO3 dan 1,49 gram KCl dengan menggunakan gelas arloji dan neraca analitik

· Dimasukkan kedua macam kristal tersebut ke dalam gelas beker 50 mL

· Ditambahkan akuades 50 mL, diaduk hingga seluruh reaktan larut sempurna

· Dipanaskan larutan ini di atas hot plate sampai volumnya tinggal setengah dari volume larutan mula-mula, kemudian didinginkan larutan

· Begitu larutan mencapai suhu kamar, dimasukkan gelas beker berisi larutan tersebut ke dalam gelas beker yang berisi air es

· Didinginkan larutan dalam penangas es tersebut hingga di peroleh endapan

· Dipisahkan endapan dari larutan dengan disaring menggunakan corong kertas saring

· Dianaskan kembali sisa filtrate yang diperoleh hingga volumenya tinggal separuh, didinginkan dalam air es hingga diperoleh endapan kristal

· Digabungkan kristal yang diperoleh dari langkah (8) dan langkah (9)

· Dilarutkan kristal yang diperoleh dalam 15 mL akuades, diuapkan larutan ini

· Didinginkan larutan dalam air es hingga diperoleh endapan kristal

· Ditimbang berat kertas saring kosong

· Dipisahkan endapan dari pelarutnya dengan menggunakan corong dan kertas saring yang telah ditimbang sebelumnya, dikeringkan dalam oven

· Setelah kering, ditimbang berat kristal yang diperoleh

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil dan Perhitungan

1. Hasil

a. Pembuatan K2SO3

No

Percobaan

Pengamatan

1.

Ditimbang 1,26 gram Na2SO3 dan 1,49 gram KCl

Dimasukkan ke dalam gelas beker

Ditambah 50 mL akuades

Ditimbang kertas saring

m = 0,46 gram

2.

Diuapkan atau dipanaskan sampai volumenya tinggal separuh.

Kemudian didinginkan dalam penangas es

Saat mendidih ada gelembung udara.

Tidak timbul endapan.

3.

Diuapkan lagi dan didinginkan

b. Pemurnian K2SO3

No

Percobaan

Pengamatan

1.

Kristal yang dihasilkan direkristalisasi dengan air distilat. Ditambahkan 15 ml air suling kepada kristal tersebut

2.

Diuapkan atau dipanaskan larutan ini, kemudian didinginkan dalam penangas es.

Tidak terbentuk endapan

3.

Diulangi proses rekristalisasi

Perhitungan

Dari data yang diperoleh dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut :

Diketahui : Massa Na2SO3 = 1,26 gram

BM Na2SO3 = 126 gr/mol

Massa KCl = 1,49 gram

BM KCl = 74,5 gr/mol

BM K2SO3 = 158 gr/mol

Massa kertas saring = 0,46 gram

Ditanya : Rendemen = ……?

Jawab : Reaksi yang terjadi

Na2SO3 + 2 KCl K2SO3 + 2 NaCl

mula-mula 0,01 0,02 - -

bereaksi 0,01 0,02 0,01 0,02

sisa - - 0,01 0,02

Jadi, mol K2SO3 yang terbentuk berdasarkan reaksi sebesar 0,02 mol

mol Na2SO3 = = 0,01 mol

mol KCl = = 0,02 mol

BM K2SO3 = 158 gr/mol

mol K2SO3 =

0,01 =

gr K2SO3 = 0,01 x 158

= 1,58 gram

PEMBAHASAN

A. Pembuatan K2SO3

Pada percobaan praktikum kali ini yaitu pembuatan K2SO3 digunakan metode kristalisasi. Kristalisasi merupakan pemisahan suatu campuran zat padat dari zat cair dengan cara memanaskan larutan sampai jenuh, kemudian mendinginkannnya sehingga terbentuk kristal. Dilakukan pencampuran Na2SO3 sebanyak 1,26 gram dan KCl sebanyak 1,49 gram sehingga dihasilkan K2SO3. Dari hasil yang didapat melalui proses pembuatan K2SO3 dapat dituliskan melalui reaksi berikut :

Na2SO3 + 2 KCl K2SO3 + 2 NaCl

Pada proses pemurnian K2SO3 ini dilakukan proses rekristalisasi dengan air distilat yaitu pengrekritalisasi kristal yang dihasilkan dengan menambahkan 15 ml air suling kepada kristal yang telah didapatkan sebelumnya. Endapan yang diperoleh pada pemurnian tersebut adalah endapan K2SO3 yang berupa kristal padat dengan larutan NaCl. Mendapatkan kalium sulfit harus melakukan proses kristalisasi agar endapan hanya terdapat pada K+ dan SO3- saja dan tidak ditemukan lagi ion Na+ dan Cl- sedangkan untuk memperoleh endapan kalium sulfit yang bebas dari pengotornya maka dilakukan lagi rekristalisasi yaitu dimana suatu zat terlarut dimurnikan dengan pengkristalan berturut-turut dan dalam suatu pelarut agar zat terlarut dengan pelarutnya dapat terpisah. Endapan K2SO4 terjadi setelah larutan Na2SO3 dan KCl dipanaskan atau diuapkan dengan menggunakan hotplate sehingga larutan tinggal separuh. Saat Larutan Na2SO3 dan KCl mendidih terdapat gelembung udara. Kemudian larutan tersebut didinginkan dalam penangas es sehingga terbentuk endapan, lalu disaring dengan menggunakan kertas saring. Setelah itu dimasukkan ke dalam oven untuk memperoleh K2SO3 murni. Tetapi pada pemurnian ini tidak dihasilkan endapan K2SO3 yang berupa kristal padat dengan larutan NaCl. Hal ini mungin disebabkan terlalu banyak volume pelarut air. Karena tidak dihasilkannya endapan sehingga tidak dapat menghitung rendemen yang dihasilkan. Biasanya rendemen dalam presentase berkisar antara 0-100%. Jika diperoleh rendemen yan lebih besar dari 100%, berarti pada saat isolasi terdapat pencemar atau pengotor.

VII. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diambil setelah percobaan ini antara lain

  1. Beberapa teknik pemisahan yang dapat dilakukan adalah dengan penyaringan, penguapan, distilasi, kristalisasi dan ekstraksi
  2. Pencampuran Na2SO3 dan KCl menghasilkan K2SO3.
  3. Reaksi dari proses pembuatan K2SO3 adalah sebagai berikut:

Na2SO3 + 2 KCl K2SO3 + 2 NaCl.

  1. Pada pemurnian ini tidak dihasilkan endapan K2SO3 yang berupa kristal padat, karena terlalu banyak volume pelarut air.
  2. Tidak terbentuknya endapan, menyebabkan tidak dapat mengetahui atau menghitung hasil yang didapat dari rendemen.
  3. Jumlah mol K2SO3 0,01 dan massa K2SO3 1,58 gram.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, J.B.1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara, Jakarta.

Dorfner, Konkrad dan Anton J.Hartono.1995. IPTEK Penukar Ion. Andi Offset,Yogyakarta.

Sudarmadji, Slamet.1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Liberti, Yogyakarta.

Sura, Kitti.1996. Kimia I. Intan Pariwara, Jakarta.

STANDARISASI NATRIUM HIDROKSIDA DAN PENGGUNAANNYA UNTUK PENENTUAN KONSENTRASI ASAM ASETA

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR I

PERCOBAAN V

STANDARISASI NATRIUM HIDROKSIDA

DAN PENGGUNAANNYA UNTUK PENENTUAN

KONSENTRASI ASAM ASETAT

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 1.4

ASISTEN : RAIHANAH

PROGRAM STUDI KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARBARU

2007

PERCOBAAN V

STANDARISASI NATRIUM HIDROKSIDA

DAN PENGGUNAANNYA UNTUK PENENTUAN

KONSENTRASI ASAM ASETAT

I. TUJUAN PERCOBAAN

Tujuan praktikum ini adalah untuk memahami dan melakukan standarisasi larutan serta menggunakannya untuk analisis kuantitatif sampel.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Larutan yang mempunyai konsentrasi molar yang diketahui, dapat dengan mudah digunakan untuk reaksi-reaksi yang melibatkan prosedur kuantitaif. Kuantitas zat terlarut dalam suatu volume larutan itu, di mana volume itu diukur dengan teliti, dapat diketahui dengan tepat dari hubungan dasar berikut ini.

Mol = liter x konsentrasi molar atau mmol = mL x konsentrasi molar.

Perhitungan-perhitungan stoikiometri yang melibatkan larutan yang diketahui normalitasnya bahkan lebih sederhana lagi. Dengan definisi bobot ekuivalen, dua larutan akan bereaksi satu sama lain dengan tepat bila keduanya mengandung gram ekuivalen yang sama yaitu, jika V1 x N2 = V2 x N2.

Dalam hubungan ini kedua normalitas harus dinyatakan dengan satuan yang sama, demikian juga kedua volum, satuan-satuan itu dapat dipilih secara sembarang.

Larutan-larutan yang mempunyai normalitas yang diketahui sangat berguna walaupun hanya satu di antara pereaksi itu yang terlarut. Dalam hal ini jumlah gram ekuivalen (atau miliekuivalen) pereaksi yang tidak terlarut dapat dihitung dengan cara biasa, yaitu dengan membagi massa contoh dalam gram (atau miligram) dengan bobot ekuivalennya. Jumlah g-ek (atau mek) satu pereaksi tetap harus sama dengan g-ek (atau mek) zat yang lain (Brady, 1999).

Volumetri atau tirimetri adalah suatu cara analisis kuantitatif dari reaksi kimia. Pada analisis ini zat yang akan ditentukan kadarnya, direaksikan dengan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya, sampai tercapai suatu titik ekuivalen sehingga kepekatan (konsentrasi) zat yang kita cari dapat dihitung (Syukri, 1999).

Pada analisis volumetri diperlukan larutan standar. Proses penentuan konsentrasi larutan satandar disebut menstandarkan atau membakukan. Larutan standar adalah larutan yang diketahui konsentrasinya, yang akan digunakan pada analisis volumetri.

Ada dua cara menstandarkan larutan yaitu:

1. Pembuatan langsung larutan dengan melarutkan suatu zat murni dengan berat tertentu, kemudian diencerkan sampai memperoleh volume tertentu secara tepat. Larutan ini disebut larutan standar primer, sedangkan zat yang kita gunakan disebut standar primer.

2. Larutan yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan cara menimbang zat kemudian melarutkannya untuk memperoleh volum tertentu, tetapi dapat distandartkan dengan larutan standar primer, disebut larutan standar skunder.

Zat yang dapat digunakan untuk larutan standar primer, harus memenuhi persyaratan dibawah ini :

1. Mudah diperoleh dalam bentuk murni ataupun dalam keadaan yang diketahui kemurniannya. Pengotoran tidak melebihi 0,01 sampai 0,02 %

2. Harus stabil

3. Zat ini mudah dikeringkan tidak higrokopis, sehingga tidak menyerap uap air, tidak meyerap CO2 pada waktu penimbangan (Sukmariah, 1990).

Suatu reaksi dapat digunakan sebagai dasar analisis tirimetri apabila memenuhi persyaratan berikut :

1. Reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

2. Reaksi harus sederhana dan diketahui dengan pasti, sehingga didapat kesetaraan yang pasti dari reaktan.

3. Reaksi harus berlangsung secara sempurna.

4. Mempunyai massa ekuivalen yang besar

Larutan standar biasanya kita teteskan dari suatu buret ke dalam suatu erlenmeyer yang mengandung zat yang akan ditentukan kadarnya sampai reaksi selesai. Selesainya suatu reaksi dapat dilihat karena terjadi perubahan warna Perubahan ini dapat dihasilkan oleh larutan standarnya sendiri atau karena penambahan suatu zat yang disebut indikator. Titik di mana terjadinya perubahan warna indikator ini disebut titik akhir titrasi. Secara ideal titik akhir titrasi seharusnya sama dengan titik akhir teoritis (titik ekuivalen). Dalam prakteknya selalu terjadi sedikit perbedaan yang disebut kesalahan titrasi (Sukmariah, 1990).

Untuk analisis titrimetri atau volumetri lebih mudah kalau kita memakai sistem ekivalen (larutan normal) sebab pada titik akhir titrasi jumlah ekivalen dari zat yang dititrasi = jumlah ekivalen zat penitrasi. Berat ekivalen suatu zat sangat sukar dibuat definisinya, tergantung dari macam reaksinya. Pada titrasi asam basa, titik akhir titrasi ditentukan oleh indikator. Indikator asam basa adalah asam atau basa organik yang mempunyai satu warna jika konsentrasi hidrogen lebih tinggi daripada sutau harga tertentu dan suatu warna lain jika konsentrasi itu lebih rendah.

Tabel 1.1 Indikator untuk asam dan basa

Nama

Jangka pH dalam mana terjadi perubahan warna

Warna asam

Warna basa

Kuning metil

2 – 3

Merah

Kuning

Dinitrofenol

2,4 - 4,0

Tak berwarna

Kuning

Jingga metil

3 – 4,5

Merah

Kuning

Merah metil

4,4 – 6,6

Merah

Kuning

Lakmus

6 -8

Merah

Biru

Fenophtalein

8 – 10

Tak berwarna

Merah

Timolftalein

10 -12

Kuning

Ungu

Trinitrobenzena

12 -13

Tak berwarna

jingga

Sumber : Keenan, 1984.

Titrasi asam basa yaitu sebagai berikut:

1. Titrasi asam kuat dengan basa kuat

Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat. Misal : HCl + NaOH NaCl + H2O

2. Titrasi asam lemah dan basa kuat

Pada akhir titrasi terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat.

Misal : Asam asetat dengan NaOH

CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O

3. Titrasi basa lemah dan asam kuat

Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari basa lemah dan asam kuat.

Misal : NH4OH dan HCl

NH4OH + HCl NH4Cl + H2O

4. Titrasi asam lemah dan basa lemah

Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah. Misal : Asam asetat dan NH4OH

CH3COOH + NH4OH CH3COONH4 + H2O

pH larutan tergantung dari harga Ka dan Kb

Bila Ka > Kb larutan bersifat asam

Bila Kb < Ka larutan bersifat basa (Sukmariah, 1990).

III. ALAT DAN BAHAN

A. ALAT

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini meliputi gelas arloji, gelas beker 100 mL, pengaduk kaca, pipet tetes, pipet ukur, erlenmeyer 100 mL, labu takar 100 mL, dan buret 50 mL.

B. BAHAN

Bahan-bahan yang diperlukan pada percobaan ini meliputi asam oksalat dihidrat (H2C2O4.2H2O), larutan standart NaOH 0,1 N, akuades, cuka makan komersial, dan indikator fenophtalein.

IV. PROSEDUR KERJA

1. Pembuatan Larutan Standar Asam Oksalat dan Penggunaannya untuk Standarisasi Larutan NaOH.

a. Sebanyak 1,26 gram asam oksalat dihidrat (H2C2O4.2H2O) ditimbang dengan menggunakan gelas arolji dan neraca analitik.

b. Asam Oksalat dipindahkan dari gelas arloji ke dalam gelas beker 100 mL, tambahkan 25-30 mL akuades, kemuadian diaduk hingga larut. Setelah itu gelas arloji dibilas dengan sedikit akuades, dan masukkan air bilasan ke dalam gelas beker yang berisi larutan asam oksalat tersebut.

c. Larutan asam oksalat dipindahkan ke dalam labu takar 100 mL, kemudiam gelas beker dibilas dengan sedikit akuades, air bilasan tersebut dimasukkan ke dalam labu takar.

d. Akuades ditambahkan ke dalam labu takar hingga tepat tanda batas dan dikocok hingga homogen.

e. Buret yang akan digunakan dicuci dengan menggunakan akuades kemuadian dikeringkan.

f. Larutan asam oksalat yang telah dibuat dimasukkan ke dalam buret 50 mL.

g. 10 mL larutan NaOH yang akan distandarisasi dimasukkan kedalam erlenmeyer kemudian ditambahkan 2-3 tetes indikator fenophtalein.

h. Larutan NaOH dititrasi dengan larutan asam oksalat dari buret.

i. Jika terjadi perubahan warna yang konstan titrasi dihentikan kemudian dicatat volume asam oksalat yang digunakan untuk titrasi.

j. Dilakukan titrasi kembali sebanyak dua kali dan dihitung rata-rata volume asam oksalat yang digunakan dari tiga kali titrasi yang telah dilakukan

2. Penentuan Konsentrasi Asam Asetat dalam Asam Cuka Komersial.

a. 2 mL asam cuka komersial dituangkan kedalam labu takar 250 mL dengan menggunakan pipet ukur.

b. Akuades ditambahkan ke dalam labu takar hingga tanda batas kemudian labu takar tersebut ditutup dan dikocok hingga larutan homogen.

c. 15 mL asam cuka yang telah diencerkan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 mL, kemudian sebanyak 2-3 tetes indikator fenophtalein ditambahkan kedalam larutan tersebut.

d. Buret yang akan digunakan dicuci dengan akuades kemudian dikeringkan.

e. Larutan standart NaOH 0,1 M yang telah distandarisasi di masukkan ke dalam buret.

f. Larutan asam cuka encer dititrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 M dalam buret.

g. Jika terjadi perubahan warna yang konstan titrasi dihentikan dan dicatat volume NaOH yang digunakan.

h. Dilakukan kembali titrasi sebanyak tiga kali dan dihitung volume rata-rata yang digunakan saat titrasi.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil dan Perhitungan

1. Hasil

No.

Percobaan

Pengamatan

1.

2.

- Ditambahkan 2 tetes indikator fenoftalein ke dalam erlenmeyer yang berisi NaOH

- Dititrasi larutan NaOH dengan larutan asam oksalat yang ada di dalam buret.

- Perubahan warna.

- Asam cuka didalam gelas ukur.

- Diencerkan asam cuka didalam labu takar dengan akuades.

- Ditambahkan 2 tetes indikator fenoftalein ke dalam erlenmeyer yang berisi asam cuka encer.

- Dititrasi larutan asam cuka encer dengan larutan standar NaOH 0,1 M didalam buret.

- Perubahan warna yang terjadi.

Volume NaOH = 10 mL

Volume titrasi = 4,9 mL

Ungu menjadi bening

Volume = 10 mL

Volume = 250 mL

Volume = 10 mL

Volume titrasi = 0,45 mL

Bening menjadi ungu

2. Perhitungan

I. Standarisasi Larutan NaOH

Konsentrasi Larutan Asam Oksalat

Diketahui : Massa asam oksalat = 1,26 gr

Mr asam oksalat = 126 gr

Volume larutan asam oksalat = 100 mL = 0,1 L

Molaritas asam oksalat =(massa asam oksalat/ Mr asamoksalat)

= Volume larutan asam oksalat

= (1,26/126) mol = 0,1 mol/L

= 0,1 L

Ditanya : Normalitas asam oksalat = ………?

Jawab : H2C2O4 2H+ + C2O4-

Normalitas asam oksalat = n. M

= (2 ek / mol) x (0,1 mol/L)

= 0,2 ek/L

Penentuan Konsentrasi NaOH

Diketahui : Volum NaOH saat titrasi = 10 mL

Volum rata-rata asam oksalat saat titrasi = 4,9 mL

Normalitas asam oksalat = 0, 2 ek/L

Pada saat titik ekuivalen

(N.V)asam = (N.V)basa

(N.V)oksalat = (N.V)NaOH

0,2 ek /L. Voksalat = NNaOH. 10 mL

NNaOH = 0,2 ek/L. 4,9 mL

10 mL

= 0,098 N ≈ 0,01 N

b. Penentuan Konsentrasi Asam Asetat dalam Asam Cuka

Diketahui : Volum asam asetat yang dititrasi = 10 mL

Volum rata-rata NaOH untuk titrasi = 0,45 mL

Normalitas NaOH digunakan untuk titrasi = 0,098 N

Ditanya : Normalitas asam asetat yang dititrasi = …………..?

Jawab : Pada saat titik ekivalen titrasi

jumlah ekuivalen asam = jumlah ekuivalen basa

(N.V)asam = (N.V)basa

N asetat .Vasetat = N NaOH . VNaOH

N asetat . 10 mL = 0,098 . 0,45

N asetat = 0,098 . 0,45

10

N asetat = 0,00441 mol/L

= 4,41 x 10-3 mol/L

Karena asam asetat adalah asam monoproptik, maka n asam asetat = 1 ek/mol, sehinngga :

CH3COOH CH3COO- + H+

Masetat = Nasetat / n

= 4,41 x 10-3 /1

= 4,41 x 10-3 M

Karena pengenceran yang dilakukakn sebanyak 50x maka konsentrasi asam asetat setelah diencerkan dapat dihitung sebagai berikut;

4,41 x 10-3 x 50 = 0,2205 N

Konsentrasi asam asetat sebelum diencerkan dapat dihitung sebagai berikut;

(M.V) sebelum pengenceran = (M.V) setelah pengenceran

M sebelum pengenceran = Masetat. (250 mL / 10 mL)

= 0,2205 x (25)

= 5,5125 M

Konsentrasi asam asetat dinyatakan dalam persentase (b/v) adalah

%CH3COOH (b/v) = Masetat x Mrasetat x (1L/1000 mL) x 100

= Masetat (M).60 (gr/mol) x (1L/1000 mL) x 100

= 5,5125 x 60 (1/1000) x 100

= 33,075 % (b/v)

Jadi, konsentrasi asam asetat 33,075 gr dalam 100 mL pelarut air.

B. PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini kita melakukan analisis kuantitatif untuk menentukan kadar asam asetat dalam asam cuka komersial, yang beredar di pasaran. Di mana pada percobaan ini digunakan asam cuka botol cap sendok. Analisis yang dilakukan adalah analisis tirimetri karena kadar komposisi ditetapkan berdasarkan volum pereaksi (konsentrasi diketahui). Penggunaan analisi tirimetri ini menggunakan larutan NaOH 0,1 N sebagai larutan standarnya. Karena NaOH merupakan larutan standar sekunder, maka sebelum digunakan terlebih dahulu larutan NaOH tersebut distandarisasi dengan larutan asam oksalat yang merupakan suatu standar primer.

Berdasarkan hasil percobaan dapat diketahui bahwa telah terjadi reaksi asam basa antara asam oksalat dan larutan standar NaOH 0,1 N dan asam asetat dengan larutan standar NaOH. Pada pembuatan larutan standar asam oksalat indikator yang digunakan yaitu fenophtalein. Perubahan warna yang terjadi pada proses penitrasian ini adalah berubah menjadi bening dengan warna asal mula adalah ungu. Jangka pH pada saat terjadi perubahan warna adalah berkisar antara 8-10. Perubahan warna ini terjadi karena telah tercapainya titik ekuivalen, yaitu titik di mana jumlah larutan standar NaOH dengan larutan asam oksalat. Volume larutan asam oksalat yang diperlukan untuk titrasi sebanyak 4,9 mL.

Pada penentuan Konsentrasi asam asetat terjadi reaksi antara asam lemah (CH3COOH) dengan basa kuat (NaOH). Sebelum dititrasi, asam asetat telah diencerkan terlebih dahulu. Karena asam asetat adalah asam monoproptik, maka n asam asetat sebesar 1 ek/mol.

Reaksi yang terjadi pada saat penitrasian adalah :

CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O

Pada proses penitrasian antara asam asetat dengan larutan standar NaOH 0,1 M terjadi perubahan warna dimana setelah ditetesi indikator fenophtalein sebanyak 2 tetes warna yang terjadi yaitu bening menjadi berwarna ungu. Seperti halnya dengan titrasi di atas, perubahan warna ini terjadi pada pH dengan kisaran 8-10. Penyebab perubahan warna ini karena telah terjadi pencapaian titik ekuivalen. Volume NaOH yang diperlukan pada saat titrasi sebanyak 0,45 mL.

Pada penentuan konsentrasi NaOH didapat normalitas NaOH sebesar 0,098 N, sedangkan pada penentuan konsentrasi asam asetat dalam asam cuka didapat normalitas asetat sebesar 4,41 x 10-3 N. Setelah itu nilai ini digunakan untuk mencari konsentrasi asetat sebelum pengenceran maka didapat hasil sebesar 5,5125 M. Konsentrasi asam asetat yang dinyatakan dalam persentase sebesar 33,075 %.

VII. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil setelah melakukan percobaan ini adalah sebagai berikut :

1. Standarisasi larutan bertujuan untuk menetukan konsentrasi dari larutan standar.

2. Pada penentuan konsentrasi NaOH didapatkan normalitas NaOH sebesar 0,098 N, sedangkan pada penentuan konsentrasi asam asetat dalam asam cuka didapat normalitas asetat sebesar 4,41 x 10-3 N.

3. Persentase asam asetat cap sendok sebesar 33,075 %.

4. Analisis kuantitatif memberikan informasi mengenai berapa banyak komposisi suatu komponen dalam sampel.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Bina Rupa Aksara, Jakarta.

Sukmariah. 1990. Kimia Kedokteran edisi 2. Bina Rupa Aksara, Jakarta.

Syukri.1999. Kimia Dasar 2. ITB, Bandung.

HUBUNGAN PRODUSEN DAN KONSUMEN


HUBUNGAN PRODUSEN DAN KONSUMEN

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

OLEH

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 3

ASISTEN : NONI ARAI SETYORINI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA

BANJARBARU

DESEMBER, 2007

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Hubungan antara produsen dan konsumen dalam kaitannya dengan siklus karbon mutlak diperlukan dalam suatu ekosistem untuk menjaga kestabilannya. Di lingkungan terbuka, sangat sulit untuk menentukan faktor yang mempengaruhinya. Untuk membatasinya, maka pengamatan dapat dilakukan pada lingkungan tertutup seperti bejana yang tertutup rapat.

Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi (objek astronomis lainnya bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama meskipun hingga kini belum diketahui).

Banyaknya fotosintesis yang berlangsung di dunia sangat mencengangkan. Jumlah karbon yang ditambat tiap tahun diperkirakan berkisar antara 70-120 trilyun ton (setara dengan 170-290 gigaton bobot kering dengan rumus empiris menyerupai CH2O). Selama beberapa dasawarsa, secara kasar diperkirakan bahwa sekitar dua pertiga produktivitas ini terjadi di daratan dan hanya sepertiga di laut dan samudera. Produktivitas yang sangat tinggi ini terjadi sekalipun konsentrasi CO21 atmosfer rendah: hanya sekitar 0,0352% berdasarkan volume atau 352 mol-1.

Meskipun karbon merupakan unsur yang sangat langka dalam sektor bumi yang tak hidup, tetapi di dalam benda hidup terdapat 18%. Kemampuan saling mengikat pada atom-atom karbon merupakan dasar untuk keragaman molekular dan ukuran molekular dan tanpa ini kehidupan tidak dapat ada. Selain pada bahan organik, karbon ditemukan sebagai gas karbon dioksida dan sebagai batuan karbonat (batu kapur, koral). Autotrof itulah (terutama tumbuhan hijau) yang menangkap karbon dioksida dan mereduksinya menjadi senyawa organik: karbohidrat, protein, lipid dan lain-lain. Produsen darat mendapat karbon dioksida dari atmosfer dan produsen air dapat memanfaatkan karbon dioksida yang terlarut (sebagai bikarbonat, HCO3) dalam air.

Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi yang berupa unsurunsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan Materi dasar makhluk hidup dan tak hidup. Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia. Siklus-siklus tersebut antara lain: siklus air, siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus sulfur.

Proses pengambilan dan pembebasan karbon dioksida dari atmosfer tidak berimbang. Kandungan karbon dioksida dalam atmosfer secara bertahap meningkat. Barangkali peningkatan ini bermula dengan dimulainya revolusi industri. Dengan membakar sejumlah batu arang, minyak, dan gas alam yang semakin meningkat, kita kembalikan ke udara karbon yang tersimpan di dalam bumi selama berjuta-juta tahun. Akan tetapi, meningkatnya karbon dioksida di atmosfer kira-kira hanyalah sepertiganya dari yang diharapkan dari data yang pasti mengenai penggunaan bahan bakar fosil. Ke mana sisanya menghilang? Mungkin sebagian daripadanya telah menstimulasi dan dikonsumsi oleh laju fotosintesis yang lebih besar dan menyeluruh di muka bumi.

Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi yang berupa unsurunsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan Materi dasar makhluk hidup dan tak hidup. Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia. Siklus-siklus tersebut antara lain: siklus air, siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus sulfur.

Dalam praktikum kali ini, pengamatan akan dilakukan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas hubungan antara produsen dan konsumen dalam siklus karbon seperti : sinar matahari, CO2, O2, dan karbohidrat.

1.2 Tujuan Praktikum

Untuk memahami peran produsen dan konsumen dalam siklus karbon.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tanpa mikroorganisme, komponen kimia tidak akan terjadi dan nutrisi tidak akan cukup memenuhi kehidupan. Mengarah ke sana untuk mengatasi masalah tentang hilangnya sumber daya alam yang penting diperbaharui di pelaharan mikroekologi yang ditujukan dengan interaksi dari mikroorganisme komponen biotik dan abiotik. Kumpulan habitat dari populasi mikrobiologi berinteraksi dengan sebuah habitat maka disebut komunitas dan komunitas ini bersama-sama dengan faktor abiotik di lingkungan yang memasok bahan-bahan mentah untuk kehidupan yang berupa ekosistem. Demikian itulah yang tidak hanya akibat populasi di dalamnya berupa sebuah kunitas biologi, tapi juga dalam menghamparkan kelengkapan kimia pada kehidupan. Bagian ini akan mempertimbangkan kepentingan pada interaksi ini dan efek mereka dalam keadaan alam sekitar (Lim, 1998).

Tabel 2.1 Komponen kimia terkandung di prokariotik sel

Komponen

%berat

Karbon

Oksigen

Nitrogen

Hidrogen

Fosfor

Sulfur

Kalium Sulfat

Sodium

Kalsium

Magnesium

Komponen lain

50,0

20,0

12,0

10,0

4,0

1,0

< 1,0

< 1,0

< 0,5

< 0,5

< 0,5

(Lim, 1998)

Satu elemen penting di biosfer adalah karbon. Karbon adalah tulang belulang dari komponen organik dan tersusun mendekati dari 40% sampai 50% dari berat keadaan alam sekitar. Ada lebih komponen yang terbuat dari karbon dari pada kombinasi elemennya. Banyak dari karbon di bumi ditransfer dalam bentuk bahan bakar fosil, batu bara, tanah yang dipakai sebagai bahan bakar, minyak, dan gas alam (Lim, 1998).

Produksi utama pada atmosfer yaitu karbondioksida ke dalam suatu senyawa organik, yang termasuk dalam siklus karbon. Aliran karbon Asam sitrit, kita tahu bahwa aspek metabolisme aliran karbon termasuk respirasi. Setiap tahap-tahap pada respirasi dari glukosa mengandung tahap biokimia yang sama seperti pada glikolisis sebagai catatan, satu kunci terpenting dalam glikolisis adalah piruvat, bilamana pada fermentasi piruvat diubah jadi hasil fermentasi namun pada respirasi piruvat dioksidasi penuh menjadi CO2. satu yang terpenting pada asam piruvat adalah dengan mengoksidasi kompleks menjadi CO2 yang disebut siklus asam sitrit (Citrit Acid Cycle) (Madigan, 1997).

Respirasi berperan penting dalam penimbunan karbon selama pertumbuhan tumbuhan. Tapi, peranan ini sukar ditetapkan karena tidak mudah untuk mengetahui seberapa besar respirasi berlangsung ketika tumbuhan berada di bawah cahaya. Biasanya, respirasi gelap dianggap tetap sama selama ada cahaya, tapi dapat diketahui bahwa terdapat bukti kuat yang menyatakan tidak demikian. Bagaimanapun, jelas bahwa sebagian dari energi yang ditangkap dalam fotosintesis digunakan untuk pertumbuhan dan untuk memelihara sel hidup. Bagian itu mungkin sekitar 30% sampai 40% dari energi yang ditangkap dalam fotosintesis. Perbedaan setiap tumbuhan dalam persentase itu penting secara ekologi. Sebagai contoh, beberapa tumbuhan menggunakan jauh lebih banyak energi dari pada tumbuhan lain dalam mensintesis bahan sekunder pelindung seperti tannin/alkaloid, atau bahan structural seperti lignin (Salisbury & Ross, 1995).

CARBON CYCLE

Gambar 4.1 The Carbon Cycle (Lim, 1998)

Gambar 4.2 Gambaran siklus karbon (Lim, 1998)

Siklus karbon adalah suatu proses yang mana carbon ini mengalami perputaran dari udara, tanah, tanaman, binatang, dan bahan fosil. Carbon terbesar di bumi ini terletak di atmosfer yaitu karbon dioksida (CO2). Siklus karbon dioksida dilakukan oleh tanaman selama proses fotosintesis untuk membentuk molekul organik (glukosa, sebagai makanan). Ini merupakan berasal dari pemberi makanan untuk semua organisme heterotropik. Binatang melakukan hal sebaliknya dari tanaman. Mereka mengeluarkan karbon dioksida ke udara sebagai hasil dari proses respirasi. Pengurai di mana mereka mengolah bahan organik, juga mengeluarkan karbon dioksida ke udara. Pengurai merupakan hal penting, sebab tanpa pengurai semua karbon di planet ini akan menutupi bangkai-bangkai dan sampah lainnya. Dan tidak mengijinkan karbon untuk masuk ke jaringan makanan. Carbon juga dihasilkan oleh bahan fosil (fosil) seperti batu bara, minyak tanah, dan gas alam. Ketika semua ini mengalami pembakaran, maka karbon dioksida keluar ke udara. Vulkanik dan api juga mengeluarkan karbon dioksida yang besar ke atmosfer. Karbon dioksida dapat dilarutkan di air, di mana zat ini akan kembali lagi ke udara. Dan hasilnya akan membentuk kalsium karbonat (CaCO3) yang mana akan terbentuk kerangka, batuan, tulang dari protozoa, dan karang (Anonim, 2007).

Adapun macam-macam karbon yang ada antara lain :

a) Karbon di Atmosfer

Bagian terbesar dari karbon yang berada di atmosfer Bumi adalah gas karbon dioksida (CO2). Meskipun jumlah gas ini merupakan bagian yang sangat kecil dari seluruh gas yang ada di atmosfer (hanya sekitar 0,04% dalam basis molar, meskipun sedangmengalami kenaikan), namun iamemiliki peran yang penting dalam menyokong kehidupan. Gas-gas lain yangmengandung karbon di atmosfer adalah metan dan kloroflorokarbon atau CFC (CFC ini merupakan gas artifisial atau buatan). Gas-gas tersebut adalah gas rumah kaca yang konsentrasinya di atmosfer telah bertambah dalam dekade terakhir ini, dan berperan dalam pemanasan global (Janzen, 2005).

b) Karbon di Biosfer

Sekitar 1900 gigaton karbon ada di dalam biosfer. Karbon adalah bagian yang penting dalam kehidupan di Bumi. Ia memiliki peran yang penting dalam struktur, biokimia, dan nutrisi pada semua sel makhluk hidup (Janzen, 2004).

c) Karbon di Laut

Laut mengandung sekitar 36.000 gigaton karbon, dimana sebagian besar dalam bentuk ion bikarbonat. Karbon anorganik, yaitu senyawa karbon tanpa ikatan karbon-karbon atau karbon-hidrogen, adalah penting dalam reaksinya di dalam air. Pertukaran karbon ini menjadi penting dalam mengontrol pH di laut dan juga dapat berubah sebagai sumber (source) atau lubuk (sink) karbon. Karbon siap untuk saling dipertukarkan antara atmosfer dan lautan. Pada daerah upwelling, karbon dilepaskan ke atmosfer. Sebaliknya, pada daerah downwelling karbon (CO2) berpindah dari atmosfer ke lautan. Pada saat CO2 memasuki lautan, asam karbonat terbentuk:

CO2 + H2O H2CO3

Reaksi ini memiliki sifat dua arah, mencapai sebuah kesetimbangan kimia. Reaksi lainnya yang penting dalam mengontrol nilai pH lautan adalah pelepasan ion hidrogen dan bikarbonat. Reaksi ini mengontrol perubahan yang besar pada pH:

H2CO3 H+ + HCO3

(Janzen, 2004).

Selama masa hidup kita, CO2 ditambahkan ke atmosfer oleh respirasi tumbuhan, mikroorganisme, dan hewan, oleh pembakaran bahan bakar fosil, serta oleh pembukaan lahan. Dalam kurun waktu geolegi (berlanjut sampai sekarang), CO2 ditambahkan ke atmosfer melalui semburan gunung api dan semburan mata air mineral. Dalam jangka pendek, fotosintesis merupakan salah satu mekanisme terpenting dalam pengambilan karbon dioksida dari atmosfer (Salisbury & Ross, 1995).

Tumbuhan hijau di permukaan bumi dan sistem karbonat di lautan sangat efektif dalam mengikat CO2 dari atmosfer. Akan tetapi, karena adanya peningkatan dari pemakaian bahan bakar minyak bumi yang disertai dengan penurunan kapasitas pemindahan dari tumbuhan hijau akan melampaui kontrol Cybernatik sehingga lambat laun kandungan CO2 di atmosfer meningkat. Diperkirakan pada pertengahan abad mendatang kandungan CO2 di atmosfer akan meningkat 2 kali lipat dari yang ada sekarang, sehingga keadaan iklim dunia akan menjadi semakin panas dengan rata-rata kenaikan temperatur sebesar 1,5-4,5oC yang diikuti dengan kenaikan permukaan air laut (karena pencairan es di daerah kutub) dan perubahan pola curah hujan yang dapat mengganggu produksi pertanian (Riyanto, 1985).

Urutan reaksi yang melibatkan penambatan CO2 dan pembentukan karbohidrat oleh fotosintesis baru terungkap setelah karbon-14 radioaktif tersedia sekitar tahun 1945. Penyelidikan terhadapa senyawa radioaktif tambahan yang terbentuk dengan cepat dari 14CO2 memastikan adanya gula fosfat lainnya yang mengandung empat, lima, enam, dan tujuh atom karbon (Campbell, 2002).

Tingginya kadar CO2 dapat mengurangi hilangnya energi yang disebabkan oleh fotorespirasi. Tanaman tropis dengan jalur C4 hanya sedikit melakukan fotorespirasi sebab kadar CO2 di dalam sel bersarangnya mempercepat reaksi karboksilase dibandingkan dengan reaksi oksigenase. Pengaruh ini terutama penting pada suhu tinggi. Distribusi geografis tanaman yang memiliki jalur ini memiliki keuntungan pada lingkungan bersuhu tinggi dan bila banyak cahaya (Stryer, 1995).

BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Waktu dan Tempat Percobaan

Waktu percobaan ini dilakukan pada hari Senin, tanggal 12 Desember 2007. Tempat pelaksanaan percobaan di Laboratorium Dasar MIPA, Lab. Biologi.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah tabung reaksi bertutup, rak tabung reaksi, dan cuter. Bahan yang digunakan dalam percobaan ini siput kecil, Hydrillia verticillata, gabus, air, dan larutan bromtimol biru.

3.3 Prosedur Percobaan

1. Tabung-tabung biakan dibagi menjadi 2 kelompok A dan B. Masing-masing kelompok dibagi menjadi A1, A2, A3, A4; B1, B2, B3, B4; dan C1, C2, C3, C4.

2. Seluruh tabung reaksi diisi dengan air sampai mencapai ketinggian kira-kira setengah dari tabung reaksi.

3. Bromtimol biru diteteskan sebanyak 3 tetes ke dalam masing-masing tabung.

4. Tabung dirangkai dan mulut tabung ditutup dengan sumbat berupa gabus. Masing-masing tabung ditempatkan sesuai rancangan percobaan.

· Pada tabung A1 diisi dengan siput dan ditempatkan pada kondisi inkubasi yang terang atau terkena cahaya matahari.

· Pada tabung A2 diisi dengan siput + hydrilla yang ditempatkan pada kondisi inkubasi terang.

· Pada tabung A3 diisi dengan hydrilla dan ditempatkan pada kondisi inkubasi yang terang juga.

· Pada tabung A4 tidak, hanya berupa air yang dicampur dengan larutan bromtimol biru dan ditempatkan pada kondisi inkubasi terang.

· Sedangkan untuk tabung B1 sama seperti pada tabung A1 diisi dengan siput tetapi dengan kondisi inkubasi yang gelap.

· Untuk tabung B2 diisi dengan siput + hydrilla ditempatkan pada kondisi inkubasi gelap.

· Pada tabung B3 diisi dengan hydrilla dan ditempatkan pada kondisi inkubasi gelap.

· Untuk tabung B4 hanya diisi dengan air yang telah tercampur dengan larutan bromtimol biru.

5. Rangkaian tabung A dipindahkan ke luar ruangan (cahaya), rangkaian tabung B dipindahkan ke dalam ruangan yang terang, dan rangkaian C dipindahkan ke dalam ruangan yang gelap (tanpa cahaya).

6. Setelah 24 jam, perubahan yang meliputi perubahan warna indikator, siput dan Hydrilla verticillata diamati dan dicatat pada tabel pengamatan.

Rangkaian percobaan ini diletakkan di ruangan terang

Keterangan gambar tabung :

A1 = larutan bromtimol biru + siput , warna indikator kuning

Siput tetap hidup

A2 = larutan bromtimol biru + siput + Hydrilla verticillata,

warna indikator kuning, keadaan siput hidup dan hydrilla dalam keadaan layu

A3 = larutan bromtimol biru + Hydrilla verticillata

Warna indikator biru, keadaan hydrilla tetap layu

A4 = larutan bromtimol biru

Rangkaian percobaan ini diletakkan di dalam ruang gelap

Keterangan gambar tabung :

B1 = larutan bromtimol biru + siput , keadaan warna indikator menjadi kuning, siput tetap hidup, tapi 1 mati

B2 = larutan bromtimol biru + siput + Hydrilla verticillata warna indikator kuning, siput tetap hidup dan hydrilla tampak layu

B3 = larutan bromtimol kuning + Hydrilla verticillata warna indikator bening, keadaan hydrilla terlihat layu

B4 = larutan bromtimol biru

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan

Tabel 4.1 Data Hasil Pengamatan

Kondisi Inkubasi

Tabung

Perubahan pada

Ket

Warna indikator

Siput

Hydrilla verticillata

Di luar ruangan

A1

Kuning

Hidup

-

Siput memakai O2 dan melakukan respirasi, bersifat asam

A2

Kuning

Hidup

Layu

Respirasi dari siput

tidak seimbang dengan fotosintesis hydrilla

A3

Biru

-

Layu

Aktifitas respirasi dan fotosintesis tinggi, tetapi fotosintesis dominan

A4

Biru

-

-

Kontrol dalam keadaan baik

Di dalam ruangan Gelap

B1

Kuning

1 Hidup 1 mati

-

Bromtimol bereaksi dengan CO2 yang dihasilkan siput

B2

Kuning

Hidup

Layu

Siput melakukan respirasi lebih kuat dari pada fotosintesis dan hydrilla

B3

Kuning

Layu

Aktifitas fotosintesis ada namun tidak seimbang dengan respirasi

B4

Tetap

-

-

Kontrol dalam keadaan baik

Gambar Rangkaian Percobaan.

Gambar 4.1 Rangkaian percobaan ini diletakkan di luar ruangan.

Keterangan gambar tabung :

A1 = larutan bromtimol biru + siput , warna indikator kuning

Siput tetap hidup

A2 = larutan bromtimol biru + siput + Hydrilla verticillata,

warna indikator biru pekat, keadaan siput hidup dan hydrilla dalam keadaan segar

A3 = larutan bromtimol biru + Hydrilla verticillata

Warna indikator biru, keadaan hydrilla tetap segar

A4 = larutan bromtimol biru

Gambar 4.2 Rangkaian percobaan ini diletakkan di dalam ruangan terang.

Keterangan gambar tabung :

B1 = larutan bromtimol biru + siput , keadaan warna indikator menjadi kuning, siput tetap hidup

B2 = larutan bromtimol biru + siput + Hydrilla verticillata warna indikator kuning, siput tetap hidup dan hydrilla terlihat segar

B3 = larutan bromtimol biru + Hydrilla verticillata warna indikator bening, keadaan hydrilla masih segar

B4 = larutan bromtimol biru

4.2 Pembahasan

Praktikum ini para praktikan melakukan percobaan untuk mengetahui peran produsen dan konsumen dalam suatu siklus karbon. Dalam siklus karbon ini terjadi suatu keseimbangan antara produsen dan konsumen yang saling berhubungan sangat erat dalam terbentuknya suatu siklus kehidupan.

Pertama-tama yang dilakukan yaitu menyediakan tabung reaksi sebanyak 12 buah. Masing-masing berlabel A1, A2, A3, A4; B1, B2, B3, B4; Masing-masing tabung diberi perlakuan tempat yang berbeda-beda. Tabung A diletakkan diluar ruangan, tabung B diletakkan di dalam ruangan terang, dan tabung C diletakkan di dalam ruangan gelap. Siput yang akan digunakan sebagai bahan percobaan sebelumnya diaklimatisasi yaitu penyesuaian habitat, yang asalnya dari air diparit-parit di pindahkan ke air yang berasal dari air kran. Setiap tabung, diisi dengan bahan yang berbeda-beda serta ditetesi dengan bromtimol biru sebanyak 2-3 tetes. Tabung 1 diisi dengan siput saja, tabung 2 diisi dengan Hydrilla verticillata, tabung 3 diisi dengan Hydrilla verticillata saja dan tabung 4 hanya larutan bromtimol biru, tabung terakhir ini digunakan sebagai kontrol, yaitu pembanding dengan tabung-tabung yang lain.

Perlakuan terhadap semua tabung tersebut dilakukan selama ±24 jam. Setelah itu, mengamati apa yang terjadi dengan warna indikator, siput dan Hydrilla verticillata. Pada tabung A yang diletakkan di luar ruangan, tabung A1 yaitu siput saja, keadaan warna indikator berubah menjadi kuning, dan siput tetap hidup namun lebih aktif. Hal ini dikarenakan siput melakukan respirasi. Tabung A2, Hydrilla verticillata + siput, keadaan warna indikator kuning, siput hidup, dan Hydrilla-nya tampak layu, ini dikarenakan tidak adanya keseimbangan siklus karbon yang terjadi, CO2 yang dihasilkan oleh siput di ambil tanaman untuk bahan fotosintesis kemudian menghasilkan O2 yang akan dipakai siput begitu seterusnya. Tabung A3, warna indikator berubah biru pekat, dan hydrilla-nya tetap layu, pada tabung ini aktifitas respirasi dan fotosintesis tinggi namun fotosintesis yang lebih dominan. Dan terakhir tabung A4, warna indikator biru, sebab tabung terakhir ini hanya sebagai kontrol.

Tabung selanjutnya yaitu tabung B yang diletakkan di dalam ruangan gelap. Tabung B1 siput saja, warna indikator kuning dan siput tetap hidup, karena di dalam air siput masih melakukan respirasi, bromtimol bereaksi dengan CO2 yang dihasilkan oleh siput saat respiras, membuat larutan jadi kuning. Tabung B2 siput + Hydrilla verticillata, warna indikator kuning, siput hidup, dan hydrilla layu, warna indikator kuning dikarenakan respirasi yang terjadi lebih banyak dibandingkan fotosintesis, CO2 yang dihasilkan lebih banyak keluar sehingga bereaksi dengan bromtimol biru berubah menjadi kuning. Fotosintesis hanya terjadi sedikit, sebab perlu adanya penyeleksian cahaya yang masuk, sehingga perlu energi besar untuk melakukan fotosintesis. Tabung B3 hydrilla saja, warna indikator kuning dan hydrilla layu, karena kegiatan fotosintesis yang dilakukan oleh hydrilla tidak giat atau tidak lancar, salah satu penyebabnya adalah pengaruh cahaya yang kurang, sebab di dalam ruangan cahaya yang diperlukan sangat sedikit, tanaman perlu mengeluarkan tenaga yang besar untuk melakukan fotosintesis. Tabung B4, warna indikator tetap biru.

Peristiwa yang dapat ditunjukkan oleh adanya perubahan warna bromtimol biru adalah adanya reaksi antara CO2 dengan bromtimol biru yang mengakibatkan perubahan warna indikator menjadi kuning. Yang terjadi pada tabung yang berisi dengan organisme adalah pada tabung A, tabung A1 siput tetap hidup dan aktif. Tabung A2, siput hidup dan hydrilla segar. Tabung A3, hydrilla segar. Selanjutnya tabung B, tabung B1, siput tetap hidup. Tabung B2 siput hidup dan hydrilla juga hidup. Tabung B3 hydrilla hidup. Bromtimol biru tidak mengalami perubahan pada tabung A4, dan B4, , ini dikarenakan tidak ada reaksi apapun yang terjadi terhadap larutan bromtimol biru pada tabung. Dan tabung ini digunakan sebagai kontrol perubahan warna pada tabung yang lain. Hasil yang diharapkan pada percobaan bila semua tabung ditempatkan ditempat gelap adalah semua organisme yang ada pada tabung akan mati sebab siklus karbon yang seharusnya terjadi menjadi terhambat karena tempat tabung berada tidak cukup atau kaya akan cahaya.


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah :

1. Respirasi yang merupakan proses oksidasi serupa yang terkendali secara efektif inilah yang membuat semua organisme tetap hidup. Dalam respirasi, zat kimia yang dihasilkan berupa CO2 (Karbon dioksida) dan H2O (uap air).

2. Proses siklus karbon tanaman memerlukan CO2 yang dikeluarkan oleh manusia atau hewan untuk membantu proses fotosintesis, dari proses ini dihasilkan O2 yang akan dipakai oleh manusia dan hewan untuk proses respirasi, dari respirasi akan dihasilkan lagi CO2 dan begitu seterusnya.

3. Bromtimol biru digunakan sebagai kontrol untuk membandingkan keadaan larutan (terutama perubahan warna larutan) pada tabung yang lain.

5.2 Saran

Praktikan harus lebih aktif dalam percobaan, serta perlu kerjasama yang baik antar sesama praktikan agar menghasilkan data yang baik, serta memperhatikan semua penjelasan yang diberikan oleh asisten, agar bisa mengerti apa yang sedang dilakukan dalam percobaan, serta data yang diambil dapat lebih akurat. Untuk asisten agar lebih meningkatkan cara menjelaskan apa-apa yang penting untuk disampaikan kepada praktikan agar data praktikum yang didapat oleh praktikan memuaskan serta membimbing praktikan dengan baik agar praktikan paham bagaimana proses percobaan yang dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell. 2002. Biolog/. Erlangga. Jakarta.

Kimbal, J.W. 1999. Biologi Edisi ke-5 Jilid 3. Erlangga : Jakarta

Lessie. 2007. The Carbon Cycle.

http://library.thinkquest.org/11353/the-carbon-cycle.htm

Diakses tanggal : 7 Desember 2007

Lim, D. 1998. Microbiology Second Edition. McGraw Hill Companies : New York

Madigan. 1997. Biology of Microorganisms Eight Edition. Prentice Hall International Inc : New Jersey

Salisbury & Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB : Bandung

Janzen, H.H. 2004. Carbon Cycling in Earth Systems — A Soil Science Perspective. Mc Graw Hill Book Company: New York.

Riyanto. 1985. Ekologi Dasar. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia

Bagian Timur: Ujung Pandang.

Stryer, L. 1995. Biochemistry 4. W. H. Freeman and Company: New York.

SEL-SEL PENYUSUN JARINGAN HEWAN

SEL-SEL PENYUSUN JARINGAN HEWAN

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

OLEH

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 3

ASISTEN : NONI ARAI SETYORINI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA

BANJARBARU

OKTOBER, 2007

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sel adalah segumpal protoplasma yang berinti, sebagai individu yang berfungsi menyelenggarakan seluruh aktivitas untuk kebutuhan hidupnya. Sel itu setelah tumbuh dan berdeferensiasi, akan berubah bentuknya sesuai dengan fungsinya, ada yang menjadi epidermis berfungsi untuk melindungi sel-sel sebelah dalamnya ada yang menjadi tempat penyediaan makanan, ada yang berfungsi menjadi tempat persediaan makanan dan lain-lain.

Sel hewan tak pernah berdinding, demikian pula sel protista. Dinding sel prokariot dan cendawan berbeda sekali dari dinding sel tumbuhan. Vakuola dapat ditemui pada anggota kelima dunia, namun vakuola besar di pusat sel ada pada hampir semua sel tumbuhan, cendawan, dan beberapa protista. Kloroplas hanya terdapat pada tumbuhan dan beberapa protista (bergantung pada golongannya).

Meskipun antara sel hewan dan sel tumbuhan berbeda namun terdapat persamaan-persamaan dasar tertentu mengenai sifat, bentuk, dan fungsi dari bagian sel tersebut. Secara umum bagian-bagian sel tersebut adalah membran sel, sitoplasma, mitokondria, retikulum endoplasma, aparatus golgi, lisosom, plastida, kloroplas, sentrosom, ribosom, vakuola, inti sel, membran inti, mikrofilamen, dan dinding sel.

Oleh beberapa penulis dianggap sebagai cairan yang bersifat seperti lender. Tahun 1829 oleh Hertwig diajukan teori protoplasma yang mempunyai konsepsi lebih umum dari teori sel Schwan. Dalam teorinya dikatakan bahwa sel adalah kumpulan substansi hidup yang disebut protoplasma dengan di dalamnya mengandung inti yang disebut nucleus dan diluarnya dibatasi oleh dinding sel. Ada beberapa organisme yang struktur selnya tidak jelas, tetapi terdiri atas protoplasma.

Sel-sel penyusun tubuh makhluk hidup sangat bervariasi baik ukuran, bentuk, struktur maupun fungsinya. Secara umum sel terdiri atas membran plasma, sitoplasma, nukleus, dan organel-organel yang memiliki bentuk khusus dan secara bersama-sama membentuk sistem yang kompak. Komponen utama sel tumbuhan adalah dinding sel, sitoplasma, apparatus golgi, mmitokondria, ribosom, vakuola dan komponen lainnya. Berdasarkan organisasi internal tipe sel mikroorganisme dibedakan menjadi dua bagian yaitu sel prokariotik dan sel eukariotik. Sel kariotik khas bagi hewan dan tumbuhan tetapi tidak termasuk alga hijau, alga biru dan bakteri.

1.2 Tujuan Praktikum

Praktikum kali ini bertujuan untuk mengamati bentuk-bentuk sel yang menyusun jaringan tubuh hewan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Sel-sel penyusun jaringan tubuh pada hewan lebih banyak dan kompleks. Jaringan adalah kumpulan struktur, fungsi, cara pertumbuhan dan cara perkembangan serupa. Jaringan pada hewan dibagi menjadi 4 jaringan utama, yaitu jaringan epitel, jaringan ikat atau penyambung, jaringan otot dan jaringan syaraf (Brotowidjoyo, 1989).

Jaringan epitel adalah jaringan yang melapisi suatu rongga atau suatu permukaan bebas. Sel-selnya tersusun rapat satu sama lain sehingga tidak terdapat ruang. Ruang antar sel yang biasanya berisi substansi interselular atau juga bisa disebut matriks. Dipandang dari banyaknya lapisan sel yang menyusunnya, epitel dibedakan atas epitel selapis dan epitel berlapis. Epitelium kulit melindungi jaringan di bawahnya terhadap kerusakan karena gesekan mekanis, radiasi ultraviolet, dan serangan bakteri. (Brotowidjoyo, 1989).

Jaringan epitel dibuat dari sel-sel memadat yang tersusun dalam lapisan pipih. Jaringan ini membentuk kulit yang membungkus tubuh. Jaringan epitel menjalankan berbagai fungsi. Dalam setiap kasus fungsi ini mencerminkan kenyataan bahwa epitel selalu terdapat di perbatasan antara massa sel dan rongga atau ruang. Epitelium juga berfungsi dalam mengangkut bahan-bahan dari jaringan dan ke rongga yang dipisahkannya. Epitel kolumner pada saluran pencernaan mengeluarkan enzim-enzim cerna ke dalam intestin dan juga menyerap produk akhir pencernaan makanan daripadanya. Semua kelenjar pencernaan pada tubuh dilapisi dengan epitelium. Epitelium juga melapisi tabung air dan dan rongga paru-paru (Kimball, 1992).

Jaringan ikat sering disebut jaringan penyokong atau penyambung. Letak sel-sel jaringan ikat ini tidak berhimpit rapat, tetapi berpencar-pencar dan jika berhubungan, hanya pada ujung-ujung protoplasmanya. Ciri khusus jaringan ikat adalah memiliki komponen interseluler yang disebut matriks. Bentuk sel-sel jaringan ikat ini tidak teratur, sitoplasma bergranula dan inti selnya mengelembung. Ada beberapa jenis sel-sel jaringan ikat yaitu, fibroblas, makrofag, sel tiang, sel lemak dan berbagai jenis sel darah putih. Jaringan ikat dibagi menjadi dua tipe dasar, yaitu jaringan ikat longgar dan jaringan ikat padat (Albert, 1994)

Jaringan pengikat berbeda dengan jaringan epitel, jaringan pengikat mengandung matriks yang sangat banyak. Jaringan pengikat berfungsi: untuk mengikat satu alat dengan alat lain, untuk membungkus alat-alat, untuk mengganti jaringan yang rusak (luka), untuk menetralkan racun dan untuk membentuk kerangka penyokong. Atas dasar struktur dan fungsinya, jaringan pengikat dibedakan atas tiga macam jaringan yang masing-masing dapat dibagi lagi menjadi jaringan-jaringan yang lebih khas: jaringan pengikat sebenarnya, jaringan pengikat rangka tulang rawan hialin, jaringan pengikat cair (Storer, 1957).

Sel otot disebut juga serat-serat otot. Serat otot mengandung filamen (benang) aktin dan miosin yang merupakan protein kontraktil yang memungkinkan otot memendek dan memanjang. Fungsi otot adalah sebagai alat gerak aktif. Jaringan otot tersusun atas sel-sel membujur dengan inti tampak jelas batasnya dan miofibril. Miofibril tersusun atas protein kontraktil yang terdapat di sepanjang sel dan tampak jelas pada otot rangka dan otot jantung. Batas antara sel otot terlihat jelas karena adanya sarkolema. Sarkolema adalah lapisan membran yang mengelilingi sel otot (Lim, 1998).

Jaringan otot, jaringan ini sebagian besar terdiri atas sel-sel yan berbentuk serabut-serabut dengan ukuran panjang bervariasi. Dapat dikatakan tidak mengandung matriks. Sel-sel tersusun dalam berkas-berkas yang dibungkus jaringan pengikat. Jaringan otot mempunyai daya kerut yang cukup tinggi, panjangnya dapat menyusut sampai separuh atau sepertiga panjang normal. Jaringan otot terbagi atas otot serat lintang, otot polos, otot jantung (Fahn, 1974).

Jaringan saraf terdiri atas sel-sel saraf (neuron) yang mempunyai ciri khusus, yaitu mempunyai juluran sitoplasma yang panjang. Selain disusun oleh neuron, sel saraf juga disusun oleh sel neuroglia yang terdapat di sistem saraf pusat. Sel saraf terletak menyebar di seluruh tubuh hewan. Di dalam satu sel neuron, sitoplasmanya mengandung ribosom, badan golgi, retikulum endoplasma, dan mitokondria. Neuron mendapatkan suplai makanan melalui sel neuroglia yang menyelubunginya. Neuron tersusun dari badan sel, dendrit, dan akson (Lim, 1998).

Badan sel mengandung inti sel. Setiap rangsangan akan dibawa ke badan sel oleh dendrit. Dendrit merupakan sejumlah serabut sitoplasma. Funsi dendrit adalah membawa rangsangan ke badan sel. Akson merupakan serabut sitoplasma tunggal. Fungsia akson adalah membawa rangsangan meninggalkan badan sel. Akson juga dapat bercabang-cabang di dekat ujungnya (terminal akson). Titik temu antara terminal akson neuron yang satu dengan neuron yang lainnya disebut sinapsis. Sinapsis berfungsi meneruskan rangsangan ke sel saraf yang lain (Hadioetomo, 1993).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 7 Oktober 2007 pukul 08.00-10.00, bertempat di Laboratorium Dasar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah: Mikroskop, Kaca benda, kaca penutup, pipet tetes, silet tajam dan tuisuk gigi.

Bahan-bahan yang digunakan adalah preparat jadi bagian kulit reptil yang mengelupas, prepaqrat jadi otot polos dan lurik, sel epitelium rongga mulut, preparat jadi sel darah merah atau eritrosit, preparat jadi tulang keras dan tulang rawan, nmetilen blue dan akuades.

3.3 Prosedur Kerja

1. Tusuk gigi digarukkan ke bagian pipi sebelah dalam kemudian pada gelas objek digoreskan

2. Objek ditetesi dengan metilen blue dan dibiarkan selama 5 menit dan kemudian ditutup dengan kaca penutup serta langsung diamati di bawah mikroskop. Digambar dan diberi keterangan bagian-bagian sel yang terlihat.

3. Untuk preparat awetan, diperhatikan bentuk dan bagaimana sel menyusun jaringan.

4. Dijelaskan bagaimana hubungan antara bentuk dan bagaimana sel menyusun jaringan dengan fungsi jaringan tersebut.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

No

Sel Hewan

Keterangan

1

Otot polos (Mammal smooth muscle)

1. Inti sel

2. Papila

3. Rongga udara

Berwarna merah

Perbesaran 40x

2

Sel darah merah/eritrosit (Human blood)

1. Inti sel

2. Keping darah

Berkoloni

Berwarna merah

Perbesaran 40x

3

Otot lurik (Mammal striated Muscle)

1. Inti sel

Berwarna merah

Perbesaran 40x

4

Preparat jadi tulang keras (Mammal compact bone)

1. Inti sel

Berwarna merah

Perbesaran 40x

5

Preparat jadi tulang rawan (Mammal developing cartilago bone)

1. Inti sel

Berwarna merah

Perbesaran 40x

6

Preparat kulit reptil yang mengelupas

1. Membran sel

2. Sitoplasma

Berbentuk lembaran

Berwarna biru keabu-abuan

Perbesaran 40x

7

Sel epitelium rongga mulut

1. Inti sel

Berwarna merah

Perbesaran 40x

4.2 Pembahasan

Jaringan tubuh hewan dibedakan atas empat kelompok utama yaitu jaringan epitel yaitu jaringan yang melapisi suatu rongga atau suatu permukaan bebas, jaringan pengikat yaitu jaringan yang mengadung matriks sangat banyak, jaringan otot yaitu jaringa yang sebagian besar terdiri dari sel-sel berbentuk serabut-serabut dengan ukuran panjang yang bervariasi, dan jaringan saraf. Jaringan epitel dibedakan lagi menjadi jaringan-jaringan yang lebih khusus sesuai dengan struktur dan fungsi masing-masing Jaringan pengikat mencakup beberapa jaringan yang struktur dan fungsinya sangat berlainan yaitu jaringan pengikat cair yang berupa darah. Darah yang terasusun atas matriks yang berupa cairan dan disebuut juga plasma darah, dan sel-sel yang bebas yang mengambang di dalam plasma darah .

Jaringan otot tidak banyak variasinya yaitu hanya otot seranlintang yaitu otot yang umumnya melekat pada tulang-tulang kecuali otot lidah, otot polos yaitu otot yang tersusun atas sel-sel atau serabut-serabut otot yang berbentuk kumparan pipih, kadang-kadang ujungnya belok,dan otot jantung yaitu otot yang serabut-serabutnya tidak terpisah satu sama lain, melainkan hubungan satu sama lain dengan perantara penghubung-penghubung yang berjalan condong sehingga membentuk jaringan kontraktil.

Untuk jaringan saraf yang perlu dipahami adalah perbedaan antara sel syaraf (neuron) dan bahan sel saraf (silton), serta pengertian tenyang unipolar, hipolar, multipolar, berbungkus, dan ak berbungkus.

Reptilia adalah vertebrata dengan kulit kering, tertutup oleh sisik-sisik atau papan epidermal. Tengkorak biasanya sedikit tertekan lateral, dengan sedikit kondoisi okspital. Sabuk-sabuk badan (girdle) tumbuh baik (kecuali pada ular yang tereduksi atau bahkan hilang sama sekali). Vertebrae terbagi dengan jelas menjadi 5 bagian: servikal, dada (toraks), lumbar, sakral, dan ekor (kaudal), jari-jari dan cakar.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut:

1. Sel hewan tidak memiliki dinding sel yang mengandung selulosa, tidak mempunyai plastida dan tidak memiliki vakuola.

2. Otot lurik mempunyai banyak nukleus. Sedangkan otot polos tersusun oleh sel- sel yang berbentuk kumparan halus dengan satu nukleus di tengahnya.

3. Jaringan tulang rawan mempunyai matriks yang keras tapi elastis.

4. Epitelium pada rongga mulut merupakan jaringan epitel pipih selapis.

5.2 Saran

Dalam melakukan percobaan ini sebaiknya praktikan membuat sediaan dengan cara memotong setipis-tipisnya, sehingga didapatkan gambaran mikroskopik sel yang jelas, selain itu juga diperlukan ketelitian dan kecermatan agar didapat hasil yang sesuai.

DAFTAR PUSTAKA

Albert, Bruce. 1994. Biologi Molekular Edisi kedua. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Brotowidjoyo. 1989. Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta

Fahn, A. 1974. Animal Anatomy. Pergamon Press. New York.

Hadioetomo, Ratna Siri. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Gramedia. Jakarta.

Kimball, J. W. 1992. Biologi Jilid 1 Edisi ke lima. Erlangga. Jakarta.

Lim, Daniel. 1998. Mikrobiologi Dasar. Erlangga. Jakarta.

Storer, T. I. 1957. General Zoology. Hill Book Company. New York.

KESETIMBANGAN HASIL KALI KELARUTAN

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR I

PERCOBAAN IV

KESETIMBANGAN HASIL KALI KELARUTAN

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 1.4

ASISTEN : ALFIAN NOOR

PROGRAM STUDI KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARBARU

2007

PERCOBAAN IV

KESETIMBANGAN HASIL KALI KELARUTAN

I. TUJUAN PERCOBAAN

Tujuan percobaan praktikum ini adalah dapat memahami sifat larutan jenuh, kelarutan suatu garam dalam pelarut air dan menentukan hasil kali kelarutannya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Kesetimbangan Hasil Kali Kelarutan

Kesetimbangan kimia adalah kesetimbangan dinamis, karena dalam sistem terjadi perubahan zat pereaksi menjadi hasil reaksi, dan sebaliknya. Sebagai contoh :

AB + CD AC + BD

Dalam kesetimbangan ini, terjadi reaksi AB dan CD menjadi AC dan BD, dan pada saat yang sama, AC dan BD bereaksi menjadi AB dan CD. Akibatnya keempat zat dalam sistem itu jumlahnya mendekati konstan.

Sistem kesetimbangan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu sistem kesetimbangan homogen dan sistem kesetimbangan heterogen. Kesetimbangan homogen merupakan kesetimbangan yang anggota sistemnya mempunyai kesamaan fase, sehingga sistem yang terbentuk itu hanya memiliki satu fase. Kesetimbangan heterogen merupakan suatu kesetimbangan yang anggota sistemnya mempunyai lebih dari satu fase, sehingga sistem yang terbentuk pun mempunyai lebih dari satu macam fase.

Dalam kimia terdapat hubungan antara konstanta kesetimbangan dengan persamaan reaksi yang disebut Hukum Kesetimbangan. Konstanta kesetimbangan konsentrasi adalah hasil perkalian antara zat hasil reaksi dibagi dengan perkalian konsentrasi zat pereaksi, dan masing-masing dipangkatkan dengan koefisien reaksinya (Syukri, 1999).

II.2. Larutan Jenuh

Larutan jenuh didefinisikan sebagai larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah yang diperlukan untuk adanya kesetimbangan antara zat terlarut yang larut dan yang tak larut. Pembentukan larutan jenuh dapat dipercepat dengan pengadukan yang kuat dari zat terlarut yang berlebih. Banyaknya zat terlarut yang melarut dalam pelarut yang banyaknya tertentu, untuk menghasilkan suatu larutan jenuh disebut kelarutan zat terlarut. Lazimnya kelarutan dinyatakan dalam gram zat terlarut per 100 cm3 atau 100 gram pelarut pada temperatur yang sudah ditentukan.

Suatu larutan tak jenuh kalah pekat (lebih encer) dari pada larutan jenuh. Dan suatu larutan lewat jenuh lebih pekat dibandingkan dengan larutan jenuh. Suatu larutan lewat jenuh biasanya dibuat dengan membuat larutan jenuh pada temperatur yang lebih tinggi. Zat terlarut haruslah lebih banyak larut dalam dalam pelarut panas dari pada dalam pelarut dingin. Jika tersisa zat terlarut yang belum larut, sisa itu disingkirkan. Larutan panas itu kemudian didinginkan dengan hati-hati untuk menghindari pengkristalan. Artinya larutan itu tidak boleh digetarkan atau diguncang, dan debu maupun materi asing dilarang masuk. Jika tidak ada zat terlarut yang memisahkan diri selama pendinginan, maka larutan yang dingin itu bersifat lewat jenuh (Brady, 1999).

Sejauh ini, larutan jenuh yang mengandung ion-ion berasal dari satu sumber padatan murni. Namun, bagaimana pengaruhnya pada kesetimbangan larutan jenuh jika ion-ion dari sumber lain dimasukkan ke dalam larutan pertama. Menurut prinsip Le Chatelier, sistem pada keadaan setimbang menanggapi peningkatan salah satu pereaksinya dengan cara menggeser kesetimbangan ke arah dimana pereaksi tersebut dikonsumsi (Petrucci, 1987).

Suatu garam ionik apabila dilarutkan dalam air, akan terurai menjadi ion-ionnya. Apabila dalam air larutan tersebut telah lewat jenuh, maka garam tersebut akan mengendap. Pada keadaan tepat jenuh, terjadi kesetimbangan antar fase padat dari garam dengan ion-ionnya dalam larutan. Misalkan untuk garam timbal klorida, keadaan kesetimbangan dari perak klorida dalam larutan dapat dituliskan dalam persamaan kesetimbangan sebagai berikut :

PbCl(s) Pb2+(aq) + 2Cl-(aq)

II.3. Kelarutan Suatu Garam

Kelarutan dari suatu garam adalah banyaknya garam yang dapat larut dalam suatu pelarut sampai garam tersebut tepat akan mengendap. Besarnya kelarutan dari suatu garam nilainya beragam untuk setiap macam garam dan merupakan salah satu sifat fisis dari garam tersebut.

Jika suatu garam memiliki tetapan hasil kali larutan yang besar, maka dikatakan garam tersebut mudah larut. Sebaliknya jika harga tetapan hasil kali larutan dari suatu garam tertentu sangat kecil, dapat dikatakan bahwa garam tersebut sukar untuk larut.

Harga tetapan hasil kali kelarutan dari suatu garam dapat berubah dengan perubahan temperatur. Umumnya kenaikan temperatur akan memperbesar kelarutan suatu garam, sehingga harga tetapan hasil kali kelarutan garam tersebut juga akan semakin besar (Petrucci, 1987).

III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah gelas piala 100 mL, erlenmeyer 100 mL, pipet volume (ukuran 5, 20, dan 25 mL), buret 50 mL, corong kaca.

B. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan jenuh MgCO3, CaCO3, larutan standar HCl 0,001 M, larutan standar NaOH 0,001 M, indikator fenol merah.

IV. PROSEDUR KERJA

A. Larutan Jenuh MgCO3

1. Larutan jenuh MgCO3 sebanyak 25 mL dimasukkan ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan pipet gondok.

2. Larutan HCl 0,001 M sebanyak 5 mL ditambahkan dengan menggunakan pipet gondok.

3. Larutan NaOH 0,001 M sebanyak 10 mL ditambahkan dengan menggunakan pipet gondok.

4. Buret yang akan digunakan dicuci dengan akuades, lalu dikeringkan.

5. Buret diisi dengan larutan standar HCl 0,001 M.

6. Indikator fenol merah ditambahkan ke dalam erlenmeyer.

7. Larutan di dalam elenmeyer dititrasi dengan larutan HCl 0,001 M dari buret sampai terjadi perubahan warna yang konstan.

8. Titrasi dihentikan. Volume HCl yang diperlukan untuk titrasi dicatat.

9. Titrasi diulangi sebanyak dua kali. Volume HCl yang digunakan dirata-ratakan.

B. Larutan Jenuh BaCO3

1. Larutan jenuh BaCO3 sebanyak 25 mL dimasukkan ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan pipet gondok.

2. Larutan HCl 0,001 M sebanyak 5 mL ditambahkan dengan menggunakan pipet gondok.

3. Larutan NaOH 0,001 M sebanyak 10 mL ditambahkan dengan menggunakan pipet gondok.

4. Buret yang akan digunakan dicuci dengan akuades, lalu dikeringkan.

5. Buret diisi dengan larutan standar HCl 0,001 M.

6. Indikator fenol merah ditambahkan ke dalam erlenmeyer.

7. Larutan di dalam elenmeyer dititrasi dengan larutan HCl 0,001 M dari buret sampai terjadi perubahan warna yang konstan.

8. Titrasi dihentikan. Volume HCl yang diperlukan untuk titrasi dicatat.

9. Titrasi diulangi sebanyak dua kali. Volume HCl yang digunakan dirata-ratakan.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil dan Perhitungan

1. Hasil

a. Larutan jenuh MgCO3

No

Langkah Percobaan

Hasil Pengamatan

1

2

3

4

5

6

7

8

9

Larutan jenuh MgCO3 sebanyak 25 mL dimasukkan ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan pipet gondok.

Larutan HCl 0,001 M sebanyak 5 mL ditambahkan dengan menggunakan pipet gondok.

Larutan NaOH 0,001 M sebanyak 10 mL ditambahkan dengan menggunakan pipet gondok.

Buret yang akan digunakan dicuci dengan akuades, lalu dikeringkan

Buret diisi dengan larutan standar HCl 0,001 M.

Indikator fenol merah ditambahkan ke dalam erlenmeyer.

Larutan di dalam elenmeyer dititrasi dengan larutan HCl 0,001 M dari buret sampai terjadi perubahan warna yang konstan.

Titrasi dihentikan. Volume HCl yang diperlukan untuk titrasi dicatat.

Titrasi diulangi sebanyak dua kali. Volume HCl yang digunakan dirata-ratakan.

Berwarna bening.

Berwarna bening.

Berwarna bening.

Bening-merah.

Merah-kuning.

V HCl = 1,5 mL

V HCl = 1,8 mL.

V HClrata-rata = 1,65 mL

b. Larutan Jenuh BaCO3

No

Langkah Percobaan

Hasil Pengamatan

1

2

3

4

5

6

7

8

9

Larutan jenuh BaCO3 sebanyak 25 Ml dimasukkan ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan pipet gondok.

Larutan HCl 0,001 M sebanyak 5 mL ditambahkan dengan menggunakan pipet gondok.

Larutan NaOH 0,001 M sebanyak 10 mL ditambahkan dengan menggunakan pipet gondok.

Buret yang akan digunakan dicuci dengan akuades, lalu dikeringkan

Buret diisi dengan larutan standar HCl 0,001 M.

Indikator fenol merah ditambahkan ke dalam erlenmeyer.

Larutan di dalam elenmeyer dititrasi dengan larutan HCl 0,001 M dari buret sampai terjadi perubahan warna yang konstan.

Titrasi dihentikan. Volume HCl yang diperlukan untuk titrasi dicatat.

Titrasi diulangi sebanyak dua kali. Volume HCl yang digunakan dirata-ratakan.

Berwarna bening

Berwarna bening

Berwarna bening

Bening-merah

Merah-kuning

V HCl = 1 ml

V HCl = 2 mL

V HClrata-rata = 1,5 mL

2. Perhitungan

I. Larutan Jenuh MgCO3

Diketahui :

Konsentrasi HCl yang digunakan untuk menitrasi = 0,001 M

Volume HCl yang digunakan untuk titrasi = VHcl = 1,65 mL

Jumlah MgCO3 = X mmol

Jumlah mmol HCl yang ditambahkan pada langkah 2 = 0,001M X 5mL

Jumlah mmol NaOH yang ditambahkan pada langkah 3 = 0,005

Jumlah mmol HCl yang digunakan saat titrasi = N. V Titrasi

= 0,001 mmol/mL) x 1,65

= 0,00165 mmol = 1,65.10‾3

Ditanya : a) kelarutan MgCO3 = …..?

b) Ksp MgCO3 = …..?

Jawab :

Reaksi 1 MgCO3 + 2 HCl MgCl2 + H2O + CO2

mmol awal X mmol 0,005 mmol

bereaksi X mmol 2 X mmol

sisa - (0,005-2x) mmol

Reaksi 2

HCl + NaOH NaCl + H2O

mmol awal (0,005-2x)mmol 0,01mmol

bereaksi (0,005-2x)mmol (0,005-2x)mmol

sisa - (0,005+2x)mmol

Reaksi 3 (titrasi)

NaOH + HCl NaCl + H2O

mmol awal (0,005+2x)mmol (0,005+2x)mmol

bereaksi (0,005+2x)mmol (0,005+2x)mmol

sisa - -

Jumlah mmol NaOH = Jumlah mmol HCl

(0,005+2x)mmol = 0,001 mmol/mL x V titrasi

2x = [(0,001 x 1,65) – 0,005] mmol

X = 0,00165 – 0,005 = – 0,00335 = -0,001675

2 2

= -16,75.10‾4

a) kelarutan MgCO3 = X/25 mL = -0,001675mmol

25mL

= -6,7 x 10-5 mol/L

b) Ksp MgCO3 = [Mg2+] + [CO32-]

= S S

= S2

= (-6,7 x 10-5)2

= 4,489x 10-9

Ksp teoritisnya = 3,5×10-8

II. Larutan CaCO3

Diketahui :

MHcl = 0,001 M

VHCl = 1,5 mL

n MgCO3 = X mmol

n HCl yang ditambahkan = 0,001 M x 5 mL = 0,005 mmol

n NaOH yang ditambahkan = 0,001 M x 10 mL = 0,01 mmol

nHCl yang digunakan saat titrasi = N. Vtitrasi

= 0,001 M x 1,5 = 0,0015 mmol

Ditanya : a) Kelarutan CaCO3 =……..?

b) Ksp CaCO3 =……..?

Jawab :

Reaksi 1 CaCO3 + 2 HCl CaCl2 + H2O + CO2

mmol awal X mmol 0,005 mmol

bereaksi X mmol 2 X mmol

sisa - (0,005-2x) mmol

Reaksi 2

HCl + NaOH NaCl + H2O

mmol awal (0,005-2x)mmol 0,01mmol

bereaksi (0,005-2x)mmol (0,005-2x)mmol

sisa - (0,005+2x)mmol

Reaksi 3 (titrasi)

NaOH + HCl NaCl + H2O

mmol awal (0,005+2x)mmol (0,005+2x)mmol

bereaksi (0,005+2x)mmol (0,005+2x)mmol

sisa - -

Pada perhitungan reaksi sama dengan larutan MgCO3 yaitu:

Jumlah mmol NaOH = Jumlah mmol HCl

(0,005+2x)mmol = 0,001 mmol/mL x V titrasi

2x = [(0,001 x 1,5) – 0,005] mmol

X = 0,0015 – 0,005 = – 0,0035 = -0,00175

2 2

= -17, 5.10‾4

a) kelarutan CaCO3 =

=

= -7 x 10-5 mol/L

b) Ksp CaCO3 = [Ca2+] + [CO32-]

= S S

= S2

= (-7 x 10-5)2

= 4,9 x 10-9

Ksp teoritisnya = 2,8×10-9

B. PEMBAHASAN

1. Larutan Jenuh MgCO3

Percobaan yang dilakukan pada MgCO3 tidak telalu berbeda dengan perlakuan yang dilakukan pada CaCO3 yang berbeda adalah hanya pada hasil perhitungan. Titrasi ini dilakukan sebanyak dua kali, lalu merata-ratakan volume HCl yang digunakan saat titrasi yaitu 1,65 ml. Sehingga mol HCl pun dapat diketahui.

Pada penambahan NaOH, terjadi reaksi antara HCl dalam larutan dengan NaOH yang ditambahkan. Karena NaOH yang ditambahkan berlebih, maka setelah seluruh HCl sisa habis masih ada NaOH yang tersisa dalam larutan. Sisa NaOH ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar HCl 0,001 M sehingga menghasilkan jumlah HCl yang ditambahkan ke dalam larutan sama dengan jumlah NaOH yang tersisa dalam larutan. Tittik ekuivalen yang menyebutkan bahawa titik dalam titrasi di mana sejumlah basa yang ditambahkan sama dengan jumlah asam awal yang ada.

Setelah itu mencari mol MgCO3 , dengan perhitungan yang dilakukan mol MgCO3 yang diperoleh sebesar 0,00375. Kelarutan MgCO3 yang dihasilkan adalah -6,7 x 10-5 mol/L. Berdasarkan kelarutan ion Mg2+ dan ion CO32- sebesar -6,7 x 10-5 M, dapat diketahui besarnya Ksp MgCO3 yaitu 4,489 x 10-9. Sedangkan Ksp teoritisnya adalah 3,5×10-8.

Perbedaan ini terjadi karena :

1. Praktikan kurang cermat dalam mengukur volume dari bahan-bahan yang akan digunakan.

2. Kurang keahlian waktu menitrasi.

3. Kesalahan dalam membaca skala pada buret sehingga volume HCl yang digunakan tidak sesuai dengan yang seharusnya digunakan.

Reaksi yang terjadi pada pembuatan MgCO3 adalah sebagai berikut

MgCO3 + 2 HCl MgCl2 + H2O + CO2

HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O(aq)

NaOH + HCl NaCl + H2O

Dari data yang telah didapat dalam perhitungan di atas bahwa Ksp CaCO3 dan MgCO3 nilainya jauh lebih kecil dari nilai Ksp teoritisnya Perbedaan hasil percobaan dengan literatur memang sering terjadi. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya maka diperlukan ketelitian dalam melakukan praktikum ini.

2. Larutan Jenuh CaCO3

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Kalsium karbonat (CaCO3). Larutan jenuh CaCO3 adalah larutan yang tepat akan mengendap apabila di dalamnya ditambahkan padatan CaCO3 dimana padatan tersebut tidak akan larut dan membentuk endapan kembali. Larutan tersebut bersifat basa karena volume NaOH yang ditambahkan lebih besar dari pada HCl. Hal ini diindikasi oleh indikator fenol merah yang menunjukkan warna merah, warna merah yang dihasilkan setelah ditetesi fenol merah pada larutan NaOH akan beraksi dengan perubahan warna.

InOH In+ + OH-

Ion OH dari larutan NaOH yang berlebihan menyebabkan perubahan warna larutan. Lalu larutan itu dititrasi dengan HCl. Volume HCl yang berlebih yang digunakan dapat diketahui dengan penentuan titik akhir titrasi. Pada percobaan yang dilakukan pada saat tertentu larutan tersebut berubah warna menjadi kuning. Perubahan ini diakibatkan karena perubahan pH larutan campuran yang sebelumnya lebih bersifat basa, namun setelah dititrasi dengan HCl, pH larutan menjadi berubah.

Titrasi ini dilakukan sebanyak dua kali, lalu merata-ratakan volume HCl yang digunakan saat titrasi yaitu 1,5 ml. Sehingga mol HCl pun dapat diketahui.

Kemudian dapat mencari mol HCl dan mol NaOH dengan persamaan reaksi sebagai berikut :

CaCO3 + 2 HCl CaCl2 + H2O + CO2

HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O(aq)

Dan reaksi yang ketiga yaitu titrasi, reaksi yang terjadi adalah

NaOH + HCl NaCl + H2O

Berdasarkan persamaan di atas dapat diketahui mol HCl dan mol NaOH adalah sama karena memiliki koefisien yang sama. Setelah itu mencari mol CaCO3 , dengan perhitungan yang dilakukan mol CaCO3 yang diperoleh sebesar -0,00175 mmol. Kelarutan CaCO3 yang dihasilkan adalah -7 x 10-5 mol/L. Berdasarkan kelarutan ion Ca2+ dan ion CO32- sebesar -7 x 10-5 mol/L, dapat diketahui besarnya Ksp CaCO3 yaitu 4,9 x 10-9. Sedangkan Ksp teoritisnya adalah 2,8×10-9.

VI. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah :

1. Hasil kali kelarutan adalah nilai dari perkalian ion-ion dalam larutan dimana pada suhu tertentu terjadi keseimbangan antara ion-ion tersebut dengan padatan

2. Kelarutan MgCO3 pada percobaan ini adalah -6,7 x 10-5 mol/L

3. Hasil kali kelarutan (Ksp) MgCO3 pada percobaan ini adalah 4,489×10-9, sedangkan Ksp teoritisnya 3,5 x 10-8

4. Kelarutan CaCO3 pada percobaan ini adalah -7 x 10-5 mol/L

5. Hasil kali kelarutan (Ksp) CaCO3 pada percobaan ini adalah 4,9 x 10-9, sedangkan Ksp teoritisnya 2,8 x 10-9


DAFTAR PUSTAKA

Brady, James E. Kimia Universitas Asas Dan Struktur. Bina Rupa Aksara, Jakarta.

Petrucci. 1987. Kimia Dasar Jilid 2. Erlangga, Jakarta.

Syukri. 1999. Kimia Dasar 2. ITB, Bandung.

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR I

PERCOBAAN III

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 1.4

ASISTEN : ALFIAN NOOR

PROGRAM STUDI KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARBARU

2007

PERCOBAAN III

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

I. TUJUAN PERCOBAAN

Tujuan percobaan praktikum ini adalah dapat memahami pengaruh keberadaan suatu zat terlarut terhadap sifat fisis larutan, dan menggunakan penurunan titik didih suatu larutan unntuk menentukan massa molekul relatif dari zat terlarut.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut tetapi tergantung pada banyaknya partikel zat terlarut dalam larutan (Syukri, 1999). Sifat koligatif larutan dapat dibedakan menjadai dua macam, yaitu sifat larutan nonelektrolit dan elektrolit. Hal itu disebabkan zat terlarut dalam larutan elektrolit bertambah jumlahnya karena terurai menjadi ion-ion, sedangkan zat terlarut pada larutan nonelektrolit jumlahnya tetap karena tidak terurai menjadi ion-ion, sesuai dengan hal-hal tersebut maka sifat koligatif larutan nonelektrolit lebih rendah daripada sifat koligatif larutan elektrolit. Larutan merupakan suatu campuran yang homogen dan dapat berwujud padatan, maupun cairan. Akan tetapi larutan yang paling umum dijumpai adalah larutan cair, dimana suatu zat tertentu dilarutkan dalam pelarut berwujud cairan yang sesuai hingga konsentrasi tertentu (Sastrohamidjojo, 2001).

Penurunan tekanan uap menurut hukum Roult, tekanan uap salah satu cairan dalam ruang di atas larutan ideal bergantung pada fraksi mol cairan tersebut dalam larutan PA = XA . PAo. Dari hukum Roult ternyata tekanan uap pelarut murni lebih besar daripada tekanan uap pelarut dalam larutan. Jadi penurunan tekanan uap pelarut berbanding lurus dengan fraksi mol zat terlarut (Syukri, 1999).

Selisih antara titik beku dengan titik beku larutan disebut penurunan titik beku.

ΔTf = titik beku pelarut – titik beku larutan

Apabila suatu senyawa nonelekrolit terlarut di dalam pelarut. Sifat-sifat pelarut murni berubah dengan adanya zat terlarut. Sifat-sifat fisika seperti titik didih, titik beku, tekanan uap berbeda dengan pelarut murni. Adanya perubahan ini tergantung pada jumlah partikel-partikel pelarut yang terdapat di dalam larutan. Makin berat larutan, makin rendah titik beku, makin tinggi titik didih. Perubahan hampir sebanding dengan perubahan konsentrasi. Karena fraksi molar zat pelarut x merupakan fungsi linier fraksi zat terlarut X1 maka X + X1 = 1, sehingga ΔTf dapat dinyatakan sebagai fungsi X1, yaitu :

R (To)2 . X1

RTf =

ΔTf

Dimana : ΔTf = besarnya penurunan titik beku.

M. R T.2

Kf =

1000 ΔTf

Apabila melarutkan 1 mol zat terlarut ke dalam 1000 gr air, titik beku turun sebesar 1,86 oC. Apabila 2 mol zat terlarut di dalam 100 gram air. Titik beku air turun 2 x 1,86 oC. penurunan titik ini tidak bergantung pada jumlah partikel zat terlarut di dalam larutan. Tiap pelarut mempunyai tetapan penurunan titik beku molal (Kf) yang tertentu :

Untuk m mol zat terlarut ditambhakan ke dalam 1000 gram zat terlarut, maka larutan mempunyai fraksi molar zat terlarut sebesar :

m

X1 = 1000/(M + m)

dimana :

M = BM Zat terlarut

Untuk larutan yang sangat encer m 0, maka :

X1 =

Sehingga penurunan titik beku larutan

R (To)2 Mm

ΔTf =

ΔHf 1000

Apabila didistribusikan nilai :

Mo R To

Kf =

1000 ΔHf

Ke dalam persamaan di atas maka didapatkan :

ΔTf = Kf . m

Mm

X1 =

1000

;

W1 / M1

X1 =

W1 / M1+ W/m

1000 X1

m =

M

dimana : W1 = berat zat terlarut

M1 = BM zat terlarut

W2 = berat pelarut

M2 = MB Pelarut

W1 . M

X1 =

W . M1

Untuk larutan encer, maka W1/M1 <<< W/M dapat dijabarkan terhadap W/M, sehingga :

1000 . Kf . W1

ΔTf =

M1 W

1000 Kf x W1

M1 =

ΔTf W

Tetapan titik beku molal (Kf)

Pelarut

Titik beku (oC)

Kf (oC)

Air

Benzena

Fenol

Naftalena

Asam asetat

Kamfer

Nitrobenzena

0

5,4

39

80

16,5

180

5,6

1,86

5,1

7,3

7

3,82

40

6,9

Penurunan titik beku, ΔTf . bila kebanyakan larutan encer didinginkan, pelarut murni terkristalisasi lebih dahulu sebelum ada zat terlarut yang mengkristalisasi suhu dimana kristal-kristal pertama dalam keseimbangan dengan larutan disebut titik bekularutan. Titik beku larutan demikian selalu lebih rendah dari titik beku berbanding lurus dengan banyaknya molekul zat terlarut (atau molnya) di dalam massa tertentu pelarut, jadi penurunan titik beku ΔTf = (titik beku pelarut – titik bekularutan) = Kf . m dimana m ialah molaritas larutan. Jika persamaan ini berlaku sampai konsentrasi 1 molal, penurunan titik beku larutan 1 molal setiap non elektrolit yang tersebut di dalam pelarut itu ialah Kf yang karena itu dinamakan tetapan titik beku molal (molal Freezmapoint consatant) pelarut itu. Nilai numerik Kf adalah khas pelarut itu masing-masing (Anonim, 2003).

III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi besar, gelas beker besar (500 atau 1000 mL), pengaduk gelas, gelas ukur, neraca analitik, termometer.

B. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sikloheksana, larutan contoh: es batu

IV. PROSEDUR KERJA

I. Penentuan Titk Beku Pelarut

a. Semua peralatan gelas yang akan digunakan dikeringkan dengan menggunakan kain atau tisu.

b. Tabung reaksi dalam keadaan kosong ditimbang dengan menggunakan neraca analitik dicatat beratnya.

c. Tabung reaksi diisi dengan 20 mL sikloheksana. Tabung reaksi yang telah berisi sikloheksana ditimbang kembali beratnya. Ditutup tabung reaksi dengan menggunakan sumbat.

d. Diisi gelas beker besar dengan es batu, ingat ketinggian es batu kira-kira lebih tinggi dibandingkan tinggi larutan dalam tabung reaksi.

e. Dimasukkan tabung reaksi ke dalam gelas beker. Dicatat suhu awal larutan sebelum tabung reaksi dimasukkan.

f. Diaduk perlahan sikloheksana dalam tabung dengan menggunakan pengaduk gelas.

g. Diamati perubahan suhu yang terjadi dan dicatat suhu setiap 10 detik

h. Dilakukan pengamatam selama 8 menit.

II. Penentuan Titik Beku Larutan Contoh

Dilakukan prosedur yang sama dengan penentuan titik beku pelaruthanya isi tabung reaksi diganti dengan larutan conoth yang telah disediakan.

Susunan alat percobaan

termometer pengaduk

Es batu

Larutan contoh

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil dan Perhitungan

1. Hasil

a. Menentukan Titik Beku Pelarut (sikloheksana)

No

Langkah Percobaan

Hasil Pengamatan

1

2

3

4

5

Ditimbang tabung reaksi kosong.

Diambil 20 ml larutan sikloheksana, dimasukkan dalam tabung dan ditimbang (menggunakan gelas piala 200 ml untuk membantu penimbangan).

Dicatat suhu awal larutan sikloheksana.

Diletakkan tabung reaksi berisi larutan sikloheksana ke dalam gelas kimia besar yang berisi es batu dan diaduk serta dicatat perubahan suhu larutan setiap 10 detik selama 8 menit.

Menentukan titik beku larutan sikloheksana serta bentuk dan warna larutan.

68,94 gr

Tabung reaksi + larutan = 84,15 gr

T1 = 300C

Titik beku larutan 60 berbentuk padat kristal.

b. Menentukan Titik Beku Larutan Contoh

No

Langkah Percobaan

Hasil Pengamatan

1

2

3

4

5

Ditimbang tabung reaksi besar.

Diambil 20 ml larutan contoh, dimasukkan dalam tabung dan ditimbang (menggunakan gelas piala 200 ml untuk membantu penimbangan).

Dicatat suhu awal larutan contoh.

Diletakkan tabung reaksi berisi larutan contoh ke dalam gelas kimia besar yang berisi es batu dan diaduk serta dicatat perubahan suhu larutan setiap 10 detik selama 8 menit.

Menentukan titik beku larutan contoh serta bentuk dan warna larutan.

69,04

Tabung reaksi + larutan = 84,34 gr

T1 = 310C

Titik beku larutan -10C berbentuk padat kristal dan berwarna bening

Tabel Hasil Pengamatan Larutan Sikloheksana

t(detik)

T(oC)

t(detik)

T(oC)

t(detik)

T(oC)

t(detik)

T(oC)

0

30

130

9

250

6

370

6

10

26

140

9

260

6

380

6

20

19

150

9

270

6

390

6

30

18

160

8

280

6

400

6

40

18

170

8

290

6

410

6

50

18

180

7

300

6

420

6

60

15

190

7

310

6

430

6

70

14

200

7

320

6

440

6

80

12

210

6

330

6

450

6

90

11

220

6

340

6

460

6

100

11

230

6

350

6

470

6

120

11

240

6

360

6

480

6

Tabel Hasil Pengamatan Larutan Contoh

t(detik)

T(oC)

t(detik)

T(oC)

t(detik)

T(oC)

t(detik)

T(oC)

0

31

130

7

250

3

370

1

10

30

140

6

260

3

380

0

20

29

150

5

270

2

390

0

30

26

160

5

280

2

400

0

40

23

170

4

290

2

410

0

50

20

180

4

300

2

420

0

60

17

190

4

310

1

430

0

70

15

200

4

320

1

440

0

80

13

210

3

330

1

450

0

90

11

220

3

340

1

460

-1

100

9

230

3

350

1

470

-1

120

8

240

3

360

1

480

-1

2. Perhitungan

Tf sikloheksana

y = -0,1374x + 24,763

y = -0,0062x + 8,3208

-0,0062x + 8,3208 = -0,1374x + 24,763

-0,0062x + 0,1374x = 24,763 – 8,3208

0,1312x = 16,4422

x = 125,32

y = -0,1374 x 125,32 + 24,763

= -17,218 + 24,763

= 7,54 (Tf sikloheksana)

Tf larutan contoh

y = -0,1874x + 30,284

y = -0,0173x + 7,0856

-0,0173x + 7,0856 = -0,1874x + 30,284

-0,0173x + 0,1874x = 30,284 – 7,0856

0,1701x = 23,1984

x = 136,38

y = -0,1874 x 136,38 + 30,284

= -25,557 + 30,284

= 4,72(Tf larutan contoh )

I. Diketahui : Tf sikloheksana = 7,540C

Tf larutan contoh = 4,720C.

Ditanya : ΔTf = ………… ?

Jawab : ΔTf = Tf sikloheksana - Tf larutan contoh

= 7,54 – 4,72

= 2,82 0C

II. Diketahui : msolute = 15,30 gr

msolvent = 15,61 gr

ΔTf = 2,82 0C

Kf = 3,9

Ditanya : Mr = ….?

Jawab : ∆Tf = m x Kf

ΔTf = m larutan contoh

Mr larutan sikloheksana

2,82 = 15,30 X 20

15,61

Mr

2,82 x 15,61 = 306

Mr

44,02 Mr = 306

Mr = 6,95 gram/mol

Jadi, massa molekul relatif larutan contoh adalah 6,95 gram/mol

V. PEMBAHASAN

1. Menentukan Titik Beku Pelarut

Pada percobaan yang telah dilakukan, sikloheksana sebagai pelarut. Sikloheksana akan mengalami penurunan titik beku yang besarnya sebanding dengan konsentrasi molalnya.

Telah diketahui bahwa sifat koligatif larutan tergantung pada jumlah zat terlarut dan zat pelarut. Semakin banyak zat terlarut yang dilarutkan dalam zat pelarut, maka penurunan titik bekunya semakin tinggi pula. Hal ini dikarenakan konsentrasi molalnya juga bertambah sedangkan perubahan titik bekunya sebanding dengan konsentrasinya.

Dari percoban di atas dapat kita ketahui bahwa dalam mendapatkan titik beku dari grafik, yaitu dengan membuat grafik dari hasil percobaan sehingga kita dapatkan grafik yang dihasilkan akan memperlihatkan penurunan suhu yang curam pada beberapa detik diawal percobaan (1-60 detik pertama) dan perubahan suhu yang relatif kecil pada sisa waktu percobaan (penurunan suhu yang landai). Untuk mendapatkan titik beku pelarut atau larutan, tarik garis pada daerah curam (garis pertama) dan landai(garis kedua) sehingga garis tersebut membagi titik suhu dengan jarak yang sama. Perpotongan antara kedua garis tersebut merupakan titik beku pelarut/larutan. Sedangkan pada larutan contoh perubahan suhunya juga tidak konstan pada awal-awal pertama dan pada detik pengukuran terakhir pada pada suhu -1ºC. jadi dapat kita simpulkan bahwa perubahan yang terjadi pada penentuan titik beku pelarut dengan penentuan titik beku larutan contoh perubahan suhunya relatif tidak tetap dan penurunannya juga berjalan dengan tidak konstan. Dari grafik diketahui bahwa ΔTf dari larutan sikloheksana dan larutan contoh adalah 2,82ºC sedangkan Mr/BM dari larutan contoh adalah 6,95 gram/mol.

2. Menentukan Titik Beku Larutan Contoh

Dengan menggunakan percoban penurunan titik beku, digunakan larutan sikloheksana dan larutan contoh sebagai bahan untuk percoban. Dari percobaan tersebut, maka didapat berat larutan sikloheksana dan berat larutan contoh. Dari seluruh data penurunan titik beku larutan di atas, terbukti bahwa setiap adanya penambahan jumlah zat terlarut akan bertambah juga penurunan titik bekunya. Perbedaan ini terjadi karena suhu pendinginan yang tidak konstan, karena seharusnya menggunakan termostat. Juga karena es yang digunakan dalam praktikum sudah mencair sehingga data yang diperolehpun kurang tepat dan hal ini akan menyebabkan hasil yang diperoleh akan tidak mendekati nilai sebenarnya.

VI. KESIMPULAN

Dari seluruh percobaan di atas dapat disimpulkan bahwa :

1. Penurunan titik beku bergantung pada konsentrasi zat terlarut.

2. Sifat koligatif adalah sifat yang disebabkan hanya oleh kebersamaan (jumlah partikel) dan bukan oleh ukurannya. Sifat koligatif tergantung pada konsentrasi zat terlarut.

3. Dalam menentukan titik beku pelarut dan larutan, melalui percobaan dapat dicari dengan cara melihat titik perpotongan dalam waktu 1-60 detik pada grafik dan didapatkan titik beku pelarut (sikloheksana) sebesar 7,540C dan titik beku pelarut (larutan contoh) adalah 4,72.

4. Didapat ∆Tf adalah 2,820C yang didapat dari selisih antara titik beku sikloheksana dengan titik beku larutan contoh.

5. Besar berat molekul suatu senyawa bergantung pada titik beku larutan dan titik beku pelarut.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2003. Petunjuk Praktikum Kimia Dasar. UGM, Yogyakarta

Baroroh, Umi L U. 2004. Diktat Kimia Dasar I. Universitas Lambung Mangkurat,

Banjarbaru.

Sastrohamidjojo, Hardjono. 2001. Kimia Dasar. UGM, Yogyakarta.

Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 2. ITB, Bandung.