FOTOSINTESIS

FOTOSINTESIS

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

OLEH

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 3

ASISTEN : NONI ARAI SETYORINI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA

BANJARBARU

NOVEMBER, 2007

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam beberapa aspek fisiologi tumbuhan berbeda dengan fisiologi hewan atau fisiologi sel. Tumbuhan dan hewan pada dasarnya telah berkembang melalui pola atau kebiasaan yang berbeda. Tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang melalui pola atau kebiasaan yang berbeda. Tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang sepanjang hidupnya. Kebanyakan tumbuhan tidak berpindah, memproduksi makanannya sendiri, menggantungkan diri pada apa yang diperolehnya dari lingkungannya sampai batas-batas yang tersedia. Hewan sebagian besar harus bergerak, harus mencari makan, ukuran tubuhnya terbatas pada ukuran tertentu dan harus menjaga integritas mekaniknya unntuk hidup dan pertumbuhan.

Suatu ciri hidup yang hanya dimiliki khusus oleh tumbuhan hijau adalah kemampuan dalam menggunakan zat karbon dari udara untuk diubah menjadi bahan organik serta diasimilasi dalam tubuh tumbuhan. Tumbuhan tingkat tinggi pada umumnya tergolong pada organisme autotrof, yaitu makhluk hidup yang dapat mensintesis sendiri senyawa organik yang dibutuhkannya. Senyawa organik yang baku adalah rantai karbon yang dibentuk oleh tumbuhan hijau dari proses fotosintesis. Fotosintesis atau asimilasi karbon adalah proses pengoubahan zat-zat anorganik H2O dan CO2 oleh klorofil menjadi zat organik karbohidrat dengan bantuan cahaya. Proses fotosintesis hanya bisa dilakukan oleh tumbuhan yang mempunyai klorofil. Proses ini hanya akan terjadi jika ada cahaya dan melalui perantara pigmen hijau daun yaitu klorofil yang terdapat dalam kloroplas.

Kalau fotosintesis adalah suatu proses penyusunan (anabolisme atau asimilasi) di mana energi diperoleh dari sumber cahaya dan disimpan sebagai zat kimia, maka proses respirasi adalah suatu proses pembongkaran (katabolisme atau disasimilasi) di mana energi yang tersimpan dibongkar kembali untuk menyelenggarakan proses – proses kehidupan.

1.2 Tujuan Percobaan

Tujuan praktikum ini adalah untuk membuktikan bahwa dalam fotosintesis dihasilkan oksigen (O2) dan untuk mengamati pengaruh cahaya dan CO2 terhadap pembentukan oksigen pada proses fotosintesis; untuk mengetahui ada tidaknya simpanan amilum dalam jaringan daun yang diberi perlakuan cahaya matahari berbeda.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tumbuhan terutama tumbuhan tingkat tinggi, untuk memperoleh makanan sebagai kebutuhan pokoknya agar tetap bertahan hidup, tumbuhan tersebut harus melakukan suatu proses yang dinamakan proses sintesis karbohidrat yang terjadi dibagian daun satu tumbuhan yang memiliki kloropil, dengan menggunakan cahaya matahari. Cahaya matahari merupakan sumber energi yang diperlukan tumbuhan untuk proses tersebut. Tanpa adanya cahaya matahari tumbuhan tidak akan mampu melakukan proses fotosintesis, hal ini disebabkan kloropil yang berada didalam daun tidak dapat menggunakan cahaya matahari karena kloropil hanya akan berfungsi bila ada cahaya matahari (Dwidjoseputro, 1986)

Karbohidrat merupakan senyawa karbon yang terdapat di alam sebagai molekul yang kompleks dan besar. Karbohidrat sangat beraneka ragam contohnya seperti sukrosa, monosakarida, dan polisakarida. Monosakarida adalah karbohidrat yang paling sederhana. Monosakarida dapat diikat secara bersama-sama untuk membentuk dimer, trimer dan lain-lain. Dimer merupakan gabungan antara dua monosakarida dan trimer terdiri dari tiga monosakarida (Kimball, 2002).

Fotosintesis berasal dari kata foton yang berarti cahaya dan sintesis yang berarti penyusunan. Jadi fotosintesis adalah proses penyusunan dari zat organic H2O dan CO2 menjadi senyawa organik yang kompleks yang memerlukan cahaya. Fotosintesis hanya dapat terjadi pada tumbuhan yang mempunyai klorofil, yaitu pigmen yang berfungsi sebagai penangkap energi cahaya matahari (Kimball, 2002).

Energi foton yang digunakan untuk menggerakkan elektron melawanan gradient panas di dalam fotosistem I dari sebuah agen dengan tenaga reduksi kuat, yang secara termodinamis mampu mereduksi CO2 di dalam fotosistem II dari air dengan pelepasan O2, jika sebuah molekul pigmen menyerap sebuah foton masuk ke dalam sebuah keadaan tereksitasi, karena satu elektronnya pada keadaan dasar pindah ke orbit (Anwar, 1984).

Orang yang pertama kali menemukan fotosintesis adalah Jan Ingenhousz. Fotosintesis merupakan suatu proses yang penting bagi organisme di bumi, dengan fotosintesis ini tumbuhan menyediakan bagi organisme lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Jan Ingenhosz melakukan percobaan dengan memasukkan tumbuhan Hydrilla verticillata ke dalam bejana yang berisi air. Bejana gelas itu ditutup dengan corong terbalik dan diatasnya diberi tabung reaksi yang diisi air hingga penuh, kemudian bejana itu diletakkan di terik matahari. Tak lama kemudian muncul gelembung udara dari tumbuhan air itu yang menandakan adanya oksigen (Kimball, 1993).

Pada tahun 1860, Sach membuktikan bahwa fotosintesis menghasilkan amilum. Dalam percobaannya tersebut ia mengguanakan daun segar yang sebagian dibungkus dengan kertas timah kemudian daun tersebut direbus, dimasukkan kedalam alkoholdan ditetesi dengan iodium. Ia menyimpulkan bahwa warna biru kehitaman pada daun yang tidak ditutupi kertas timah menandakan adanya amilum (Malcome, 1990).

Fotosistem ada dua macam, yaitu fotosistem I dan fotosistem II. Fotosistem I tersusun oleh klorifil a dan klorifil b dengan perbandingan 12:1 dan tereksitasi secara maksimum oleh cahaya pada panjang gelombang 700 nm. Pada fotosistem II perbandingan klorofil a dan klorofil b yaitu 1:2 dan tereksitasi secara maksimum oleh cahaya pada panjang gelombang 680 nm (Syamsuri, 2000).

Fotosintesis merupakan proses sintesis senyawa organik (glukosa) dari zat anorganik (CO2 dan H2O) dengan bantuan energi cahaya matahari. Dalam proses ini energi radiasi diubah menjadi energi kimia dalam bentuk ATP dan NADPH + H yang selanjutnya akan digunakan untuk mereduksi CO2 menjadi glukosa. Maka persamaan reaksinya dapat dituliskan :

Kloropil

6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2 + Energi

Sinar matahari

Tergantung pada bahan yang digunakan, maka jumlah mol Co2 yang dilepaskan dan jumlah mol O2 yang diperlukan tidak selalu sama. Persamaan reaksi kimia respirasi merupakan kebalikan dari reaksi kimia fotosintesis (Syamsuri, 2000).

Fotosintesis berlangsung dalam 2 tahap, yaitu :

1. Reaksi Terang

Reaksi terang fotosintesis merupakan reaksi pengikatan energi cahaya oleh klorofil yang berlangsung digrana yang dilaksanakan oleh fotosistem. Fotosistem merupakan unit yang mampu menangkap energi cahay matahari dalam rantai transfor elektron pada fotosintesis. Tersusun atas kompleks antene pusat reaksi dan akseptor elektrona (Saimbolon, 1989).

2. Reaksi gelap

Reaksi gelap fotosintesis merupakan reaksi pengikatan CO2 oleh molekul RBP (Ribolosa Bifosfat) untuk mensintesis gula yang berlangsung distroma, reaksi gelap meliputi 3 hal penting, yaitu:

a. Karboksilasi, merupakan pengikatan CO2 oleh RPB untuk membentuk molekul PGA.

b. Reduksi ; PGA (3C) direduksi oleh NADPH menjadi PGAL (3C).

c. Regenerasi ; pembentukan kembali RBP.

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 21 November 2007 dari pukul 08.00 – 10.00 Wita. Bertempat di Laboratorium Dasar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

3.2 Alat dan Bahan

1. Fotosintesis

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah beaker gelas, corong kaca, tabung reaksi, kawat dan cutter.

Bahan yang diperlukan adalah Hydrilla verticillata, air kolam dan larutan 0,25 % NaHCO3.

2. Pembentukan karbohidrat pada fotosintesis

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah beaker gelas, cawan petri, lampu spiritus/ kompor, kaki tiga dan penjepit.

Bahan yang digunakan adalah daun tumbuhan segar, larutan JKJ, alkohol 95 %, air dan kertas karbon/aluminium foil.

3.3 Prosedur Kerja

1. Fotosintesis

Ø Memasukkan beberapa cabang Hydrilla verticillata yang sehat sepanjang kira-kira 15 cm ke dalam corong kaca.

Ø Memasukkan corong kaca (1) ke dalam beaker gelas yang berisi medium, di mana setiap 100 ml air ditambahkan 2 ml NaHCO3 0,25 % dengan posisi corong menghadap ke bawah.

Ø Menutup bagian atas corong dengan tabung reaksi yang diusahakan berisi sebagian besar medium, dalam keadaan terbalik ( di dalam bak yang berisi air).

Ø Menandai masing-masing perlakuan dengan label A, B, C, D, E dan F, yang mana keterangannya sebagai berikut :

A = medium air dan diletakan ditempat terang dalam ruangan(intensitas cahaya I).

B = medium air dan diletakkan di luar ruangan dibawah pohon (intensitas cahaya II ).

C = medium air dan diletakkan diluar ruangan, ditempat ysng terbuka (intensutas cahaya III).

D = medium air + larutan NaHCO3, diletakkan ditempat terang dalam ruangan (intensitas cahaya I)

E = medium air + larutan NaCO3, Diletakkan diluar ruangan dibawah pohon (intensitas cahaya II).

F = medium air + larutan NaHCO3, diletakkan dilur ruangan terbuka (intensitas cahayaa III).

Ø Mengamati timbulnya gelembung-gelembung gas yang muncul dari potongan cabang / ranting yang terjadi selama 15’ ,30’ dan 45’. Banyaknya gelembung per satuan waktu dapat digunakan sebagai petunjuk laju fotosintesis. Perhitungan dilakukan sebanyak 3 kali dan diambil rata-ratanya.

Ø Hasil pengamatan / data yang diperoleh ditampilkan dalam bentuk grafik. Buatlah pembahasan dan kesimpulannya.

2. Pembentukan Karbohidrat Pada Fotosintesis

Ø Menutup daun tumbuhan yang belum kena sinar matahari sebagiannya dengan aluminium foil / kertas karbon dan jepit selama 2 x 24 jam.

Ø Merebus air dalam beaker gelas sampai mendidih pada lampu spiritus atau panci berisi air mendidih di atas kompor.

Ø Memanaskan alkohol di dalam beaker gelas kecil pada air mendidih(2).

Ø Memasukkan daun tumbuhan yang akan diuji ke dalam air panas (5 menit) sampai layu, kemudian ke dalam alkohol panas (5 menit).

Ø Mengulangi percobaan ini dengan daun yang lain yang tidak diberi perlakuan air panas.

Ø Mencuci daun (4) tersebut dengan air panas dan masukkan ke dalam larutan JKJ selama beberapa menit.

Ø Mencuci daun dengan air kemudian bentangkan dan amatilah perubahan yang terjadi. (Ingatlah amilum + JKJ memberikan warna biru sampai kehitam-hitaman).


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Hasil yang didapatkan setelah melakukan percobaan adalah :

1. Fotosintesis

Ø Data hasil pengamatan dengan medium air di tempat yang terang.

Waktu

Jumlah gelembung

Air + NaHCO3

5 menit

0

9

10 menit

14

16

15 menit

17

21

Tabel 1. Dengan medium air ditempat terang

Ø Data hasil pengamatan dengan medium air di tempat yang gelap.

Waktu

Jumlah gelembung

Air + NaHCO3

5 Menit

0

0

10 Menit

0

0

15 Menit

2

0

Tabel 2. Dengan medium air diluar ruangan dibawah pohon

2. Pembentukan karbohidrat pada fotosintesis

No.

Perlakuan

Gambar

Keterangan

1

Bekas tertutup aluminium foil

Daun berwarna hijau tua

2

Direndam di dalam air mendidih

Daun menjadi layu

3

Direndam dalam alkohol mendidh

Warna daun bekas ditutup aluminium foil lebih muda daripada yang tidak tertutup.

4

Setelah direndam larutan JKJ

Daun yang tidak tertutup aluminium foil berwarna biru kehitaman

4.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini ada terdapat tiga percobaan yang akan dibahas yaitu tentang fotosintesis, dan penentuan karbohidrat pada daun tumbuhan.

Fotosintesis adalah suatu proses biologi yang kompleks, proses ini menggunakan energi matahari yang dapat dimanfaatkan oleh kloropil yang terdapat dalam kloroplas. Fotosintesis selain memerlukan cahaya matahari sebagai bahan bakar juga memerlukan karbondioksida dan air sebagai bahan anorganik yang akan diproses untuk menghasilkan karbohidrat dan melepaskan oksigen.

Reaksi yang terjadi saat fotosintesis adalah :

CO2 + H2O C6H12O6 + O2 + Energi panas

Dari reaksi tersebut kita dapat memperkirakan bahwa pada fotosintesis terbentuk oksigen. Percobaan pertama mencoba membuktikan hal tersebut. Hydrilla dimasukkan ke dalam gelas beaker yang terlebih dahulu telah dilengkapi dengan corong penutup dan gelas kimia, kemudian dimasukkan air yakinkan pada saat air memenuhi gelas beaker dan masuk kedalam gelas kimia tidak terdapat gelembung udara dari luar. Gelas beaker yang berisi air ini diletakkan di 2 tempat yang berbeda kadar cahaya yang bertujuan untuk memperoleh hasil gelembung yang berbeda pula jumlahnya sehingga didapatkan hubungan antara jumlah gelembung dengan kadar cahaya yang ada. Tempat yang dipilih adalah didalam ruangan dan diluar ruangan dengan cahaya yang maksimum dengan lama pengamatan bervariasi dari 5 menit, 10 menit, dan 15 menit.

Gelembung udara yang dihasilkan menandakan bahwa proses fotosintesis pada Hydrilla verticilata menghasilkan oksigen. Berdasarkan hasil pengamatan jumlah gelembung udara yang dihasilkan pada perlakuan A dalam medium air di tempat terang dalam ruangan lebih sedikit dibandingkan dengan perlakuan B yang ditempatkan diluar ruangan ditempat terbuka dengan intensitas cahaya II walaupun waktu yang digunakan sama. Hal ini membuktikan bahwa intensitas cahaya sangat mempengaruhi proses fotosintesis. Intensitas cahaya yang optimum sangat baik untuk proses fotosintesis, sebaliknya dengan intensitas cahaya yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat menghambat berlangsungnya proses fotosintesis.

Sedangkan perlakuan C yang menggunakan medium air ditambah larutan NaHCO3 yang diletakkan ditempat terang dalam ruangan menghasilkan jumlah gelembung udara yang lebih sedikit dibandingkan dengan perlakukan D yang diletakkan di luar ruangan (ditempat terbuka) yang mengunakan medium tambahan yaitu NaHO3. Hal ini disebabkan karena intensitas cahaya dan larutan NaHCO3 yang terurai menjadi NaOH dan CO2.

Selain intensitas cahaya dan kadar CO2, juga terdapat faktor lain yang mempengaruhi proses fotosintesis adalah temperatur, kadar 02, kadar air dan unsur mineral yang ada. Laju pembentukan oksigen dapat digunakan sebagai suatu petunjuk untuk laju fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan.

Percobaan kedua yaitu penentuan karbohidrat pada fotosintesis pada daun tumbuhan berupa daun mangga. Percobaan ini dilakukan pada daun yang segar dan dibungkus dengan kertas karbon kurang lebih 24 jam, kemudian daun tersebut dimasukkan kedalam air panas setelah dilepas dari pohonnya yang bertujuan untuk mematikan sel-sel yang ada. Setelah direbus kemudian daun dimasukkan kedalam larutan alkohol agar klorofil pada daun tersebut larut sehingga warna daun berubah menjadi pucat, daun yang telah dimasukkan kedalam alkohol tadi kemudian dimasukkan kembali ke dalam air panas dan selanjutnya kedalam larutan JKJ dan kemudian diangkat.

Dari hasil pengamatan di peroleh bahwa warna daun setelah diberi perlakuan seperti diatas berubah menjadi pucat untuk bagian yang tertutup dengan kertas aluminium foil dan bagian yang tidak ditutup menjadi berwarna cokelat tua. Warna cokelat tua menandakan bahwa telah terjadi proses fotosintesis yang telah terbentuk amilum yang berwarna cokelat jika bereaksi dengan larutan iod (larutan JKJ). Hal ini menandakan bahwa cahaya sangat berperan dalam peristiwa fotosintesis, dimana cahaya yang diterima dengan bebas tanpa adanya suatu penghalang, maka akan membuat perubahan pada daun. Secara garis besar dapat dikatakan stomata akan berperan sebagai pengatur penguapan dalam peristiwa fotosintesis.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum kali ini adalah:

1) Fotosintesis adalah proses pembentukan bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan cahaya dan kloroplas.

2) Selain klorofil fotosintesis juga memerlukan CO2 dan cahaya matahari.

3) Semakin besar intensitas cahaya dan konsentrasi CO2 maka proses fotosintesis berlangsung semakin cepat.

4) Hasil dari fotosintesis adalah glukosa dan oksigen.

5.2 Saran

Percobaan seperti ini memerlukan pengamatan yang harus benar-benar diperhatikan, terlebih lagi saat memperhatikan gelembung udara yang dihasilkan dari proses fotosintesis. Agar proses pembuktian adanya karbohidrat pada daun yang melakukan fotosintesis.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, A. 1984. Ringkasan Biologi. Ganeca Exact. Bandung.

Dwidjoseputro. 1986. Biologi. Erlangga. Jakarta.

Kimball, J. W. 1993. Biologi Umum. Erlangga. Jakarta.

Kimball, J.W. 2002. Fisiologi Tumbuhan. Erlangga. Jakarta.

Malcome. B. W. 1990. Fisiologi Tanaman. Bumi Aksara. Bandung.

Simbolon, Hubu dkk. 1989. Biologi Jilid 3. Erlangga. Jakarta.

Syamsuri. I. 2000. Biologi. Erlangga. Jakarta.

GENETIKA

GENETIKA

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

OLEH

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 3

ASISTEN : NONI ARAI SETYORINI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA

BANJARBARU

DESEMBER, 2007

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu aspek yang penting pada organisme hidup adalah kemampuannya untuk melakukan reproduksi dan dengan demikian dapat melestarikan jenisnya. Pada organisme yang berkembang biak secara seksual individu baru adalah hasil kombinasi informasi genetik yang di sumbangkan oleh 2 gamet yang berbeda yang berasal dari kedua parentalnya.

Genetika merupakan ilmu pengetahuan dasar bagi ilmu terapan, misalnya pemuliaan tanaman dan hewan, masalah penyakit dan kelainan pada tubuh manusia. Beberapa istilah yang sering digunakan dalam bidang genetika ini seperti : gen, genotif, resesif, dominan, alela, homozigot, heterozigot hendaknya sudah diketahui dan dipahami.

Ciri-ciri yang diamati (secara kolektif dan fenotif) suatu organisme dikendalikan oleh gen. Pada orgabnisme diploid setiap sifat fenotiof dikendalikan oleh setidak-tidaknya oleh satu pasang gen satu anggota pasangan tersebut diwariskan dari setiap induknya. Jika anggota pasangan tadi berlainan dalam efeknya yang tepat terhadap fenotifnya maka disebut alelik. Alel adalah bentuk alternatif suatu gen tunggal seperti misalnya gen yang mengendalikan warna bniji pada ercis.

Suatu organisme dengan sepasang alel yang identik untuk sifat tertentu dikatakan bersifat homozigot terhadap alelnya, dan satu dengan alel yang berlainan disebut heterozigot. Pada heterozigot, satu alel dapat dinyatakan dengan menyatakan atau meniadakan yang lainnya (dominasi). Atau kedua-duanya alel itu dapat berpengaruh terhadap fenotipnya (kodomonasi/resesif).

Bila gamet–gamet (spora pada tumbuhan) terbentuk karena meiosis, pasangan–pasangan gen menjadi terpisah–pisah dan didistribusikan satu–satu kepada setiap gamet atau spora (Hukum Mendel tentang seregasi).

Mendel menemukan bahwa pewarisan satu pasangan gen sama sekali tidak bergantung pada pewarisan pasangan lainnya (Hukum pemilahan bebas). Beberapa sifat dikendalikan secara aditif oleh lebih dari satu pasang alel. Pewarisan poligenik atau faktor berganda sedemikian rupa merupakan kekhasan sifat, seperti contoh pada berat tubuh, yang cenderung beragam dalam suatu cara yang berkesinambungan dari suatu ekstrim kepada yang lain, dengan sebagian individunya mempunyai suatu fenotip diantara ekstrim-ekstrimnya.

1.2 Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui golongan darah seseorang yang diturunkan dari tetuanya.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Darah adalah cairan yang berwarna merah yang terdapat dalam pembuluh darah. Volume darah manusia ± 7 % dari berat badan atau ± 5 liter untuk laki–laki dan 4,5 liter untuk perempuan. Penyimpanan darah dapat dilakukan dengan memberikan natrium sitrat atau natrium oksalat, karena garam–garam ini menyingkirkan ion–ion kalsium dari darah yang berperan penting dalam proses pembekuan darah (Abbas, 1997).

Darah merupakan suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut dengan plasma. Secara keseluruhan darah dapat dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas karena pada dasarnya terdiri atas unsur-unsur sel dan substansi interselular yang berbentuk plasma. Secara fungsional darah merupakan jaringan pengikat yang dalam artiannya menghubungkan seluruh bagian-bagian dalam tubuh sehingga merupakan integritas. Darah yang merupakan suspensi tersebut terdapat gen, dimana gen merupakan ciri-ciri yang dapat diamati secara kolektif atau fenotifnya dari suatu organisme. Pada organisme diploid, setiap sifat fenotif dikendalikan oleh setidak-tidaknya satu pasang gen dimana satu pasang anggota tersebut diwariskan dari setiap tertua. Jika anggota pasangan tadi berlainan dalam efeknya yang tepat terhadap fenotifnya, maka disebut alelik. Alel adalah bentuk alternatif suatu gen tunggal, misalnya gen yang mengendalikan sifat keturunannya (Subowo. 1992).

Penggumpalan darah terjadi karena fibrinogen (protein yang larut dalam plasma) diubah menjadi fibrin yang berupa jaring-jaring. Perubahan tersebut disebabkan oleh trombin yang terdapat dalam darah sebagai pritrombin. Pembentukan trombin dari protrombin tergantung pada adanya tromboplastin dan ion Ca2+ (Poejadi, 1994).

Darah mempunyai fungsi antara lain: mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh, mengangkut karbondioksioda dari jaringan tubuh ke paru-paru, mengangkut sari-sari makanan ke seluruh tubuh, mengangkut sisa-sisa makanan dari seluruh jaringan tubuh ke alat-alat ekskresi, mengangkut hormon dari kelenjar endokrin ke bagian tubuh tertentu, mengangkut air untuk diedarkan ke seluruh tubuh, menjaga stabilitas suhu tubuh dengan memindahkan panas yang dihasilkan oleh alat-alat tubuh yang aktif ke alat-alat tubuh yang tidak aktif, menjaga tubuh dari infeksi kuman dengan membentuk antibodi (Abbas, 1997).

Golongan darah pada manusia bersifat herediter yang ditentukan oleh alel ganda. Golongan darah seseorang dapat mempunyai arti yang penting dalam kehidupan. Sistem penggolongan yang umum dikenal dalam sistem ABO. Pada tahun 1900 dan 1901 Landstainer menemukan bahwa penggumpalan darah (Aglutinasi) kadang-kadang terjadi apabila eritrosit seseorang dicampur dengan serum darah orang lain. Pada orang lain lagi, campuran tersebut tidak mengakibatkan penggumpalan darah. Berdasarkan hal tersebut Landstainer membagi golongan darah manusia menjadi 4 golongan, yaitu: A, B, AB, dan O. Dalam hal ini di dalam eritrosit terdapat antigen dan aglutinogen, sedangkan dalam serumnya terkandung zat anti yang disebut sebagai antibodi atau aglutinin. Dikenal 2 macam antigen yaitu α dan β, sedangkan zat antinya dibedakan sebagai anti A dan anti B. Antigen dan antibodi yang dikandung oleh darah seseorang dengan golongan darah tertentu adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Antigen dan Antibodi yang dikandung oleh darah seseorang

Golongan

Antigen

Zat anti

A

α

B

B

β

A

AB

-

A + B

O

α maupun β

-

Bila antigen α bertemu dengan anti A dalam darah seseorang maka akan terjadi penggumpalan darah dan dapat menyebabkan kematian. Berdasarkan hal ini golongan darah penting sekali untuk diperhatikan, terutama dalam transfusi darah. Untuk menghindari jangan sampai terjadi penggumpalan, maka sebelum dilakukan transfusi darah, baik darah si pemberi (donor) maupun si penerima (resipien) harus diperiksa atau diketahui terlebih dahulu golongan darahnya (Kimball, 1990).

Golongan darah menurut system ABO, pada permulaan abad ini K. Landsteiner menemukan bahwa penggumpalan darah kadang-kadang terjadi apabila sel darah merah seseorang dicampur dengan serum darah orang lain. Akan tetapi pada orang lain campuran tadi tidak mengakibatkan penggumpalan darah. Berdasarkan reaksi tadi maka Landsteiner membagi orang menjadi tiga golongan yaitu A, B, dan O. Golongan keempat yang jarang ditemui yaitu golongan darah AB telah ditemukan oleh dua orang mahasiswa Landsteiner yaitu A. V. Von Decastelo dan A. Sturli pada tahun 1902. Golongan darah menurut system MNSs, dalam tahun 1972 K. Landsteiner dan P. Levine menemukan antigen baru yang disebut antigen-M dan antigen-N. Dikatakan bahwa sel darah merah seseorang dapat mengandung salah satu atau kedua antigen tersebut. Golongan darah menurut sistem Rh, K. Landsteiner dan A. S. Wiener pada tahun 1940 menemukan antigen baru lagi yang dinamakan faktor Rh (singkatan dari kata Rhesus, ialah sejenis kera di India yang dulu banyak dipakai untuk penyelidikan darah orang). Golongan darah dibedakan atas dua kelompok, yaitu: Golongan darah Rh positif (Rh+) ialah orang yang memiliki antigen Rh dalam eritrositnya sehingga waktu darahnya dites dengan anti serum yang mengandung anti Rh maka eritrositnya menggumpal, golongan darah Rh negatife (Rh-) ialah orang yang tidak memiliki antigen Rh di dalan eritrositnya, sehingga eritrositnya tidak menggumpal pada waktu dites (Suryo, 2001).

Menurut sistem A, B, O, ada 4 macam golongan darah, berdasarkan macam aglutinogennya. Keempat golongan darah itu ditentukan oleh 3 macam alela yang diberi simbol I ( isoaglutinogen): gen IA pembentuk aglutinogen A, gen IB pembentuk aglutinogen B, gen IO yang tidak dapat membentuk aglutinogen (Foster, 2002).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Tempat dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 5 Desember 2007 pukul 08.00-10.00, bertempat di Laboratorium Dasar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

3.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah objek glass, jarum franke atau blood lanset, tusuk gigi yang bersih dan kering, dan kaca pembesar atau mikroskop.

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah darah manusia, serum anti A dan anti B, kapas dan alkohol 70 %.

3.3 Cara Kerja

1. Menyiapkan objek glass dan memberi tanda untuk serum anti A dan serum anti B berdampingan.

2. Membersihkan bagian jari tangan yang akan ditusuk (diambil darahnya) dengan kapas beralkohol 70 %. Kemudian menusuk dengan blood lanset dan meneteskan pada masing-masing bagian objek glass tadi.

3. Menambahkan 2 tetes serum pada masing-masing tetes darah, yang satu dengan anti A dan yang lain dengan anti B. Kemudian mencampurkan/meratakan dengan baik hingga membentuk gambaran oval.

4. Mengamati dan menentukan golongan darahnya.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

No

Golongan Darah

Anti B

Anti A

Keterangan

1.

A

Anti A:

Menggumpal

Anti B:

Tidak menggumpal

2.

B

Anti A:

Tidak menggumpal

Anti B:

Menggumpal

3.

AB

Anti A:

Menggumpal

Anti B:

Menggumpal

4.

O

Anti A:

Tidak menggumpal

Anti B:

Tidak menggumpal

4.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil percobaan dan pengamatan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa golongan darah pada manusia bersifat herediter yang ditentukan oleh alel ganda dan golongan darah seseorang dapat mempunyai arti yang penting dalam kehidupan. Pada objek glass yang terdapat darah terlihat, setelah darah tersebut ditetesi anti A maka darah tidak mengalami penggumpalan dan setelah ditetesi anti B maka darah tersebut mengalami penggumpalan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel darah yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah bergolongan B.

Apabila antigen a bertemu dengan anti A dalam darah seseorang, maka akan terjadi penggumpalan darah dan dapat menyebabkan kematian. Hal ini berarti golongan darah orang tersebut adalah A.Apabila antigen b bertemu dengan anti B dalam darah seseorang, maka akan terjadi penggumpalan darah dan dapat menyebabkan kematian. Hal ini berarti golongan darah orang tersebut adalah B.

Apabila dalam darah seseorang diberi zat anti A, maka akan terjadi penggumpalan. Begitu juga bila darah orang tersebut diberi zat anti B. Hal ini berarti golongan darah orang itu adalah AB. Apabila dalam darah seseorang diberi zat anti A dan zat anti B tidak mengalami penggumpalan, maka golongan darah orang tersebut adalah O. Berdasarkan hal ini, golongan darah penting sekali untuk diperhatikan, terutama dalam transfusi darah. Golongan darah seseorang harus diperiksa terlebih dahulu sebelum melakukan transfusi darah baik darah si pemberi (donor) maupun si penerima (resepien) untuk menghindari terjadinya penggumpalan atau aglutinasi.

Antingen adalah sebuah zat yang menstimulasi tanggapan imun, terutama dalam produksi antibodi. Antingen biasanya berupa protein atau polisarida, tetapi dapat juga berupa molekul lainnya, termasuk molekul kecil dipasangkan dengan protein pembawa. Anti gen ini dibagi menjadi anti gen A dan anti gen B. dimana anti gen A hanya terdapat dan dihasilkan pada seseorang bergolongan darah A dan O, sedangkan anti gen B hanya terdapat pada seseorang bergolongan darah B dan O. Serum adalah zat anti yang disebut sebagai antibodi atau agglutinin yang dihasilkan di dalam sel darahnya, sehingga yang disebut dengan anti serum adalah zat anti atau agglutinin yang tidak dihasilkan seseorang di dalam sel darahnya.


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Berdasarkan sistem ABO, darah terbagi atas empat golongan, yaitu golongan darah A, B, AB, dan O.]

2. Golongan darah A, B, AB, dominan terhadap O. Golongan darah O muncul dalam keadaan resesif.

3. Golongan darah disebabkan oleh alel ganda.

4. Pengetahuan tentang golongan darah sangat penting untuk kebutuhan transfusi darah.

5. Golongan darah A mengandung antigen a dan zat anti B, golongan darah B mengandung antigen b dan zat anti A, golongan darah AB mengandung zat anti A + B dan golongan darah O mengandung antigen a maupun b.

5.2 Saran

Dalam hal ini, peranan asisten sangat diperlukan untuk memberikan penjelasan tentang golongan darah terutama menyangkut antigen dan zat anti yang terkandung di dalam darah, karena kebanyakan praktikan mengalami kesulitan dalam membedakan antara golongan darah yang satu dengan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, M. 1997. Biologi Cetakan KeTiga. Yudistira. Jakarta.

Foster, B. 2002. Buku Pelajaran Siap SPMB IPA. Ganesha Operation. Bandung.

Kimball, J. W. 1990. Biologi Jilid 1, 2, dan 3. Erlangga. Jakarta.

Krisdianto, dan kawan-kawan. 2005. Penuntun Praktikum Biologi Umum. FMIPA Universitas Lambung Mangkurat.Banjarbaru.

Poejadi, A. 1994. Dasar – Dasar Biokimia. Universitas Indonesia. Yogyakarta.

Subowo. 1992. Histologi Umum. Bumi Aksara. Jakarta.

Suryo. 2001. Genetika Manusia Cetakan Kesembilan. UGM Press. Yogyakarta

RESPIRASI PADA TUMBUHAN

RESPIRASI PADA TUMBUHAN

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

OLEH

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 3

ASISTEN : NONI ARAI SETYORINI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA

BANJARBARU

DESEMBER, 2007

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam beberapa aspek fisiologi tumbuhan berbeda dengan fisiologi hewan atau fisiologi sel. Tumbuhan dan hewan pada dasarnya telah berkembang melalui pola atau kebiasaan yang berbeda. Tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang melalui pola atau kebiasaan yang berbeda. Tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang sepanjang hidupnya. Kebanyakan tumbuhan tidak berpindah, memproduksi makanannya sendiri, menggantungkan diri pada apa yang diperolehnya dari lingkungannya sampai batas-batas yang tersedia. Hewan sebagian besar harus bergerak, harus mencari makan, ukuran tubuhnya terbatas pada ukuran tertentu dan harus menjaga integritas mekaniknya untuk hidup dan pertumbuhan.

Suatu ciri hidup yang hanya dimiliki khusus oleh tumbuhan hijau adalah kemampuan dalam menggunakan zat karbon dari udara untuk diubah menjadi bahan organik serta diasimilasi dalam tubuh tumbuhan. Tumbuhan tingkat tinggi pada umumnya tergolong pada organisme autotrof, yaitu makhluk hidup yang dapat mensintesis sendiri senyawa organik yang dibutuhkannya. Senyawa organik yang baku adalah rantai karbon yang dibentuk oleh tumbuhan hijau dari proses fotosintesis. Fotosintesis atau asimilasi karbon adalah proses pengubahan zat-zat anorganik H2O dan CO2 oleh klorofil menjadi zat organik karbohidrat dengan bantuan cahaya. Proses fotosintesis hanya bisa dilakukan oleh tumbuhan yang mempunyai klorofil. Proses ini hanya akan terjadi jika ada cahaya dan melalui perantara pigmen hijau daun yaitu klorofil yang terdapat dalam kloroplas.

Kalau fotosintesis adalah suatu proses penyusunan (anabolisme atau asimilasi) di mana energi diperoleh dari sumber cahaya dan disimpan sebagai zat kimia, maka proses respirasi adalah suatu proses pembongkaran (katabolisme atau disimilasi) dimana energi yang tersimpan dibongkar kembali untuk menyelenggarakan proses–proses kehidupan.

Respirasi merupakan proses oksidasi bahan organik yang terjadi di dalam sel, berlangsung secara aerobik maupun anaerobik. Dalam respirasi aerobik ini diperlukan oksigen dan dihasilkan karbondioksida serta energi. Sedangkan dalam proses respirasi secara anaerob dimana oksigen tidak atau kurang tersedia dan dihasilkan senyawa lain karbondioksida.

1.2 Tujuan Percobaan

Tujuan praktikum ini adalah untuk untuk mengukur jumlah CO2 yang dibebaskan selama respirasi dan menghitung respiratory quotient (RQ) nya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tumbuhan terutama tumbuhan tingkat tinggi, untuk memperoleh makanan sebagai kebutuhan pokoknya agar tetap bertahan hidup, tumbuhan tersebut harus melakukan suatu proses yang dinamakan proses sintesis karbohidrat yang terjadi di bagian daun satu tumbuhan yang memiliki kloropil, dengan menggunakan cahaya matahari. Cahaya matahari merupakan sumber energi yang diperlukan tumbuhan untuk proses tersebut. Tanpa adanya cahaya matahari tumbuhan tidak akan mampu melakukan proses fotosintesis, hal ini disebabkan kloropil yang berada di dalam daun tidak dapat menggunakan cahaya matahari karena kloropil hanya akan berfungsi bila ada cahaya matahari (Dwidjoseputro, 1986).

Karbohidrat merupakan senyawa karbon yang terdapat di alam sebagai molekul yang kompleks dan besar. Karbohidrat sangat beraneka ragam contohnya seperti sukrosa, monosakarida, dan polisakarida. Monosakarida adalah karbohidrat yang paling sederhana. Monosakarida dapat diikat secara bersama-sama untuk membentuk dimer, trimer dan lain-lain. Dimer merupakan gabungan antara dua monosakarida dan trimer terdiri dari tiga monosakarida (Kimball, 2002).

Fotosintesis merupakan proses sintesis senyawa organik (glukosa) dari zat anorganik (CO2 dan H2O) dengan bantuan energi cahaya matahari. Dalam proses ini energi radiasi diubah menjadi energi kimia dalam bentuk ATP dan NADPH + H yang selanjutnya akan digunakan untuk mereduksi CO2 menjadi glukosa. Maka persamaan reaksinya dapat dituliskan :

Kloropil

6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2 + Energi

Sinar matahari

Tergantung pada bahan yang digunakan, maka jumlah mol Co2 yang dilepaskan dan jumlah mol O2 yang diperlukan tidak selalu sama. Persamaan reaksi kimia respirasi merupakan kebalikan dari reaksi kimia fotosintesis (Syamsuri, 2000).

Perbedaan antara jumlah CO2 yang dilepaskan dan jumlah O2 yang digunakan biasa dikenal dengan Respiratory Ratio atau Respiratory Quotient dan disingkat RQ. Nilai RQ ini tergantung pada bahan atau subtrat untuk respirasi dan sempurna atau tidaknya proses respirasi tersebut dengan kondisi lainnya (Simbolon, 1989).

Fotosintesis juga terjadi proses metabolisme lain yang disebut respirasi. Respirasi merupakan proses katabolisme atau penguraian senyawa organik menjadi senyawa anorganik. Respirasi sebagai proses oksidasi bahan organik yang terjadi didalam sel dan berlangsung secara aerobik maupun anaerobik. Dalam respirasi aerob diperlukan oksigen dan dihasilkan karbondioksida serta energi. Sedangkan dalam respirasi anaerob dimana oksigen tidak atau kurang tersedia dan dihasilkan senyawa selain karbondiokasida, seperti alkohol, asetaldehida atau asam asetat dan sedikit energi (Lovelles, 1997).

Bahan organik yang dioksidasi adalah glukosa (C6H12O6) maka persamaan reaksi dapat dituliskan sebagai berikut:

C6H12O6 + 6 O2 6 CO2 + 6H2O + Energi

Tergantung pada bahan yang digunakan, maka jumlah mol Co2 yang dilepaskan dan jumlah mol O2 yang diperlukan tidak selalu sama. Diketahui nilai RQ untuk karbohidrat = 1, protein < 1 (= 0,8 – 0,9), lemak <1 (= 0,7) dan asam organik > 1 (1,33). Nilai RQ ini tergantung pada bahan atau subtrat untuk respirasi dan sempuran tidaknya proses respirasi dan kondisi lainnya (Krisdianto dkk, 2005).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 5 Desember 2007 pukul 08.00–11.00, bertempat di Laboratorium Dasar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

3.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan adalah respirometer ganong dan statif, corong gelas dan penunjuk waktu.

Bahan-bahan yang diperlukan adalah kecambah kacang hijau (segar), larutan KOH 10 %, akuades dan vaselin.

3.3 Prosedur Kerja

1. Menyiapkan alat dan bahan, menimbang 10 gram kecambah kacang hijau.

2. Memasukkan akuades ke dalam pipa respirometer dan memasukkan kecambah (No.1) ke dalam tabung respirometer dan memutar kedua sumbunya sampai kedua lubang berhadapan.

3. Mengatur permukaan air dalam pipa pada skala 20 dengan jalan menaikkan dan menurunkan pipa.

4. Mengoleskan sumbat dengan vaselin, kemudian putar sehingga udara di dalam tabung respirometer terpisah dari udara luar. Membiarkan selama 30 menit.

5. Mengamati perubahan permukaan air di dalam pipa. Jika permukaan airnya turun maka nilainya positif dan jika permukaan air naik maka nilainya negatif.

6. Mengulangi kegiatan 1-5 dengan menggunakan KOH 10 %.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Tabel hasil respirasi pada tumbuhan

No.

Perlakuan

Respiratory Quotient

1.

KOH

200

2.

Akuades

160

4.2 Pembahasan

Pada praktikum ini kita telah mengamati proses respirasi pada kecambah kacang hijau. Alasan mengapa bahan yang digunakan adalah kecambah kacang hijau, karena tumbuhan ini merupakan suatu organisme yang walaupun ia masih belum berkembang dengan sempurna tetapi sudah bisa melakukan pernapasan, hal ini terbukti dari hasil percobaan yang telah diamati dimana kecambah kacang hijau sebagai bahan percobaan mampu melakukan respirasi.

Kecambah melakukan pernapasan untuk mendapatkan energi yang dilakukan dengan melibatkan gas oksigen (O2) sebagai bahan yang diserap/diperlukan dan menghasilkan gas karbondioksida (CO2), air (H2O) dan sejumlah energi.

Pada dasarnya, proses respirasi bertujuan untuk mendapatkan energi yang digunakan dalam metabolisme dan proses pertumbuhan serta perkembangan untuk menjadi sebuah tanaman dewasa. Semakin besar suatu tanaman, maka makin besar pula kebutuhannya akan energi sehingga dalam respirasinya memerlukan oksigen yang banyak pula.

Pada pengamatan ini digunakan alat yang disebut respirometer, alat ini berfungsi untuk mengukur jumlah oksigen yang diperlukan dalam respirasi. Di dalam tabung respirometer diletakkan kapas yang sudah dibasahi larutan KOH 10% dan ada juga yang dibasahi dengan aquadest di bawah kecambah kacang hijau. Kapas yang sudah dibasahi larutan KOH 10% ini akan mengikat oksigen yang ada di dalam tabung respirometer, sehingga di dalam tabung respirometer terjadi perebutan oksigen antara larutan KOH 10% dengan kecambah kacang hijau. Kecambah kacang hijau tidak bisa mengikat oksigen yang dibebaskan oleh larutan KOH 10% karena yang diperlukan kecambah kacang hijau adalah oksigen bebas, bukan oksigen yang terikat sehingga lama-kelamaan oksigen yang ada di dalam tabung respirometer habis dan akhirnya oksigen dari luar akan tertarik masuk ke dalam tabung respirometer melalui selang karet. Masuknya oksigen dari luar ini ditandai dengan naiknya larutan eosin yang dimasukkan dalam pipa kaca.

Praktikum kali ini mengamati respirasi yang terjadi pada kecambah kacang hijau segar, yang dilakukan sebanyak dua kali dengan memberi perlakuan yang berbeda. Pada perlakuan yang pertama, kapas dibasahi dengan larutan KOH 10%. Sedangkan pada perlakuan kedua, kapas dibasahi dengan akuades. Pada kapas yang dibasahi dengan akuades, terlihat permukaan air pada alat respirometer ganong menjadi turun maka nilainya positif karena adanya O2 yang merupakan penguraian dari H2O selain H2, yang membantu kecambah dalam respirasi. Dan pada perlakuan kedua, permukaan air pada respirometer ganong menjadi naik berarti nilainya negatif karena terdapat KOH yang apabila bereaksi dengan CO2 akan menghambat respirasi pada kecambah. Hal ini dapat terjadi karena KOH lebih bersifat basa jika dibandingkan dengan aquades.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses respirasi suatu organisme antara lain: umur/usia organisme tersebut, bobot dari kegiatan yang dilakukan, ukuran organisme itu sendiri, keadaan lingkungan sekitar, serta cahaya juga mempengaruhi rata-rata pernapasan. Untuk mengetahui bahwa kecambah kacang hijau melakukan respirasi atau tidak, maka kita dapat mengamati tabung respirometer. Jika kecambah kacang hijau dalam tabung berespirasi maka kita akan menemukan uap air yang menempel dalam tabung respirometer, tetapi jika tidak ada uap air itu artinya kecambah kacang hijau tidak berespirasi. Adanya uap air dijadikan indikator respirasi karena dalam proses respirasi akan dilepaskan karbon dioksida dan uap air. Dalam pengamatan ini kita harus teliti dalam mengoleskan vaselin pada sumbat, jangan sampai ada rongga udara yang masih terbuka karena hal ini bisa mengganggu pengamatan.

Respirasi aerob pada pengukuran respirasi kecambah berarti diperlukan oksigen dan dihasilkan karbodioksida serta energi. Sedangkan respirasi anaerob berarti respirasi dengan kadar oksigen yang kurang atau tidak dan dihasilkan senyawa selain karbodioksida seperti alkohol, asetildehida atau asam asetat dengan sedikit energi. Adapun persamaan reaksi dari respirasi + KOH adalah :

C6H12O6 + KOH 2C2H5OH + 2CO2 + K + Energi

Respirasi aerob pada pengukuran respirasi kecambah berarti diperlukan oksigen dan dihasilkan karbodioksida serta energi. Sedangkan respirasi anaerob berarti respirasi dengan kadar oksigen yang kurang atau tidak dan dihasilkan senyawa selain karbodioksida seperti alkohol, asetildehida atau asam asetat dengan sedikit energi. Laju respirasi dapat diketahui dari waktu yang digunakan kecambah kacang hijau untuk menarik eosin, sedangkan banyaknya oksigen yang diperlukan selama proses respirasi dapat diketahui dari sejauh mana eosin naik. Kecambah kacang hijau menarik eosin dalam dua tahap. Tahap pertama adalah kenaikan eosin secara lambat. Kenaikan ini terjadi, sejauh 200 pada skala respirometer dengan menggunakan akuades. Sedangkan pada tahap kedua, yaitu tahap kenaikan 160 pada skala respirometer dengan menggunakan KOH 10 %.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum kali ini adalah:

1. Pada peristiwa respirasi menghasilkan karbondioksida, air, dan sejumlah energi.

2. Pada respirasi kecambah bernilai positif dengan akuades 160 sedangkan dengan KOH bernilai negatif 200.

5.2 Saran

Percobaan seperti ini memerlukan pengamatan yang harus benar-benar diperhatikan, terlebih lagi saat memperhatikan gelembung udara yang dihasilkan dari proses fotosintesis. Agar proses pembuktian adanya karbohidrat pada daun yang melakukan fotosintesis

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro. 1986. Biologi. Erlangga. Jakarta.

Kimball, J.W. 2002. Fisiologi Tumbuhan. Erlangga. Jakarta.

Krisdianto, dan kawan-kawan. 2005. Penuntun Praktikum Biologi Umum. FMIPA Universitas Lambung Mangkurat.Banjarbaru.

Lovelles. A. R. 1997. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk daerah Tropik. PT Gramedia. Jakarta.

Simbolon, Hubu dkk. 1989. Biologi Jilid 3. Erlangga. Jakarta.

Syamsuri. I. 2000. Biologi. Erlangga. Jakarta

HUBUNGAN PRODUSEN DAN KONSUMEN


HUBUNGAN PRODUSEN DAN KONSUMEN

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

OLEH

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 3

ASISTEN : NONI ARAI SETYORINI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA

BANJARBARU

DESEMBER, 2007

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Hubungan antara produsen dan konsumen dalam kaitannya dengan siklus karbon mutlak diperlukan dalam suatu ekosistem untuk menjaga kestabilannya. Di lingkungan terbuka, sangat sulit untuk menentukan faktor yang mempengaruhinya. Untuk membatasinya, maka pengamatan dapat dilakukan pada lingkungan tertutup seperti bejana yang tertutup rapat.

Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi (objek astronomis lainnya bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama meskipun hingga kini belum diketahui).

Banyaknya fotosintesis yang berlangsung di dunia sangat mencengangkan. Jumlah karbon yang ditambat tiap tahun diperkirakan berkisar antara 70-120 trilyun ton (setara dengan 170-290 gigaton bobot kering dengan rumus empiris menyerupai CH2O). Selama beberapa dasawarsa, secara kasar diperkirakan bahwa sekitar dua pertiga produktivitas ini terjadi di daratan dan hanya sepertiga di laut dan samudera. Produktivitas yang sangat tinggi ini terjadi sekalipun konsentrasi CO21 atmosfer rendah: hanya sekitar 0,0352% berdasarkan volume atau 352 mol-1.

Meskipun karbon merupakan unsur yang sangat langka dalam sektor bumi yang tak hidup, tetapi di dalam benda hidup terdapat 18%. Kemampuan saling mengikat pada atom-atom karbon merupakan dasar untuk keragaman molekular dan ukuran molekular dan tanpa ini kehidupan tidak dapat ada. Selain pada bahan organik, karbon ditemukan sebagai gas karbon dioksida dan sebagai batuan karbonat (batu kapur, koral). Autotrof itulah (terutama tumbuhan hijau) yang menangkap karbon dioksida dan mereduksinya menjadi senyawa organik: karbohidrat, protein, lipid dan lain-lain. Produsen darat mendapat karbon dioksida dari atmosfer dan produsen air dapat memanfaatkan karbon dioksida yang terlarut (sebagai bikarbonat, HCO3) dalam air.

Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi yang berupa unsurunsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan Materi dasar makhluk hidup dan tak hidup. Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia. Siklus-siklus tersebut antara lain: siklus air, siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus sulfur.

Proses pengambilan dan pembebasan karbon dioksida dari atmosfer tidak berimbang. Kandungan karbon dioksida dalam atmosfer secara bertahap meningkat. Barangkali peningkatan ini bermula dengan dimulainya revolusi industri. Dengan membakar sejumlah batu arang, minyak, dan gas alam yang semakin meningkat, kita kembalikan ke udara karbon yang tersimpan di dalam bumi selama berjuta-juta tahun. Akan tetapi, meningkatnya karbon dioksida di atmosfer kira-kira hanyalah sepertiganya dari yang diharapkan dari data yang pasti mengenai penggunaan bahan bakar fosil. Ke mana sisanya menghilang? Mungkin sebagian daripadanya telah menstimulasi dan dikonsumsi oleh laju fotosintesis yang lebih besar dan menyeluruh di muka bumi.

Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi yang berupa unsurunsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan Materi dasar makhluk hidup dan tak hidup. Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia. Siklus-siklus tersebut antara lain: siklus air, siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus sulfur.

Dalam praktikum kali ini, pengamatan akan dilakukan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas hubungan antara produsen dan konsumen dalam siklus karbon seperti : sinar matahari, CO2, O2, dan karbohidrat.

1.2 Tujuan Praktikum

Untuk memahami peran produsen dan konsumen dalam siklus karbon.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tanpa mikroorganisme, komponen kimia tidak akan terjadi dan nutrisi tidak akan cukup memenuhi kehidupan. Mengarah ke sana untuk mengatasi masalah tentang hilangnya sumber daya alam yang penting diperbaharui di pelaharan mikroekologi yang ditujukan dengan interaksi dari mikroorganisme komponen biotik dan abiotik. Kumpulan habitat dari populasi mikrobiologi berinteraksi dengan sebuah habitat maka disebut komunitas dan komunitas ini bersama-sama dengan faktor abiotik di lingkungan yang memasok bahan-bahan mentah untuk kehidupan yang berupa ekosistem. Demikian itulah yang tidak hanya akibat populasi di dalamnya berupa sebuah kunitas biologi, tapi juga dalam menghamparkan kelengkapan kimia pada kehidupan. Bagian ini akan mempertimbangkan kepentingan pada interaksi ini dan efek mereka dalam keadaan alam sekitar (Lim, 1998).

Tabel 2.1 Komponen kimia terkandung di prokariotik sel

Komponen

%berat

Karbon

Oksigen

Nitrogen

Hidrogen

Fosfor

Sulfur

Kalium Sulfat

Sodium

Kalsium

Magnesium

Komponen lain

50,0

20,0

12,0

10,0

4,0

1,0

< 1,0

< 1,0

< 0,5

< 0,5

< 0,5

(Lim, 1998)

Satu elemen penting di biosfer adalah karbon. Karbon adalah tulang belulang dari komponen organik dan tersusun mendekati dari 40% sampai 50% dari berat keadaan alam sekitar. Ada lebih komponen yang terbuat dari karbon dari pada kombinasi elemennya. Banyak dari karbon di bumi ditransfer dalam bentuk bahan bakar fosil, batu bara, tanah yang dipakai sebagai bahan bakar, minyak, dan gas alam (Lim, 1998).

Produksi utama pada atmosfer yaitu karbondioksida ke dalam suatu senyawa organik, yang termasuk dalam siklus karbon. Aliran karbon Asam sitrit, kita tahu bahwa aspek metabolisme aliran karbon termasuk respirasi. Setiap tahap-tahap pada respirasi dari glukosa mengandung tahap biokimia yang sama seperti pada glikolisis sebagai catatan, satu kunci terpenting dalam glikolisis adalah piruvat, bilamana pada fermentasi piruvat diubah jadi hasil fermentasi namun pada respirasi piruvat dioksidasi penuh menjadi CO2. satu yang terpenting pada asam piruvat adalah dengan mengoksidasi kompleks menjadi CO2 yang disebut siklus asam sitrit (Citrit Acid Cycle) (Madigan, 1997).

Respirasi berperan penting dalam penimbunan karbon selama pertumbuhan tumbuhan. Tapi, peranan ini sukar ditetapkan karena tidak mudah untuk mengetahui seberapa besar respirasi berlangsung ketika tumbuhan berada di bawah cahaya. Biasanya, respirasi gelap dianggap tetap sama selama ada cahaya, tapi dapat diketahui bahwa terdapat bukti kuat yang menyatakan tidak demikian. Bagaimanapun, jelas bahwa sebagian dari energi yang ditangkap dalam fotosintesis digunakan untuk pertumbuhan dan untuk memelihara sel hidup. Bagian itu mungkin sekitar 30% sampai 40% dari energi yang ditangkap dalam fotosintesis. Perbedaan setiap tumbuhan dalam persentase itu penting secara ekologi. Sebagai contoh, beberapa tumbuhan menggunakan jauh lebih banyak energi dari pada tumbuhan lain dalam mensintesis bahan sekunder pelindung seperti tannin/alkaloid, atau bahan structural seperti lignin (Salisbury & Ross, 1995).

CARBON CYCLE

Gambar 4.1 The Carbon Cycle (Lim, 1998)

Gambar 4.2 Gambaran siklus karbon (Lim, 1998)

Siklus karbon adalah suatu proses yang mana carbon ini mengalami perputaran dari udara, tanah, tanaman, binatang, dan bahan fosil. Carbon terbesar di bumi ini terletak di atmosfer yaitu karbon dioksida (CO2). Siklus karbon dioksida dilakukan oleh tanaman selama proses fotosintesis untuk membentuk molekul organik (glukosa, sebagai makanan). Ini merupakan berasal dari pemberi makanan untuk semua organisme heterotropik. Binatang melakukan hal sebaliknya dari tanaman. Mereka mengeluarkan karbon dioksida ke udara sebagai hasil dari proses respirasi. Pengurai di mana mereka mengolah bahan organik, juga mengeluarkan karbon dioksida ke udara. Pengurai merupakan hal penting, sebab tanpa pengurai semua karbon di planet ini akan menutupi bangkai-bangkai dan sampah lainnya. Dan tidak mengijinkan karbon untuk masuk ke jaringan makanan. Carbon juga dihasilkan oleh bahan fosil (fosil) seperti batu bara, minyak tanah, dan gas alam. Ketika semua ini mengalami pembakaran, maka karbon dioksida keluar ke udara. Vulkanik dan api juga mengeluarkan karbon dioksida yang besar ke atmosfer. Karbon dioksida dapat dilarutkan di air, di mana zat ini akan kembali lagi ke udara. Dan hasilnya akan membentuk kalsium karbonat (CaCO3) yang mana akan terbentuk kerangka, batuan, tulang dari protozoa, dan karang (Anonim, 2007).

Adapun macam-macam karbon yang ada antara lain :

a) Karbon di Atmosfer

Bagian terbesar dari karbon yang berada di atmosfer Bumi adalah gas karbon dioksida (CO2). Meskipun jumlah gas ini merupakan bagian yang sangat kecil dari seluruh gas yang ada di atmosfer (hanya sekitar 0,04% dalam basis molar, meskipun sedangmengalami kenaikan), namun iamemiliki peran yang penting dalam menyokong kehidupan. Gas-gas lain yangmengandung karbon di atmosfer adalah metan dan kloroflorokarbon atau CFC (CFC ini merupakan gas artifisial atau buatan). Gas-gas tersebut adalah gas rumah kaca yang konsentrasinya di atmosfer telah bertambah dalam dekade terakhir ini, dan berperan dalam pemanasan global (Janzen, 2005).

b) Karbon di Biosfer

Sekitar 1900 gigaton karbon ada di dalam biosfer. Karbon adalah bagian yang penting dalam kehidupan di Bumi. Ia memiliki peran yang penting dalam struktur, biokimia, dan nutrisi pada semua sel makhluk hidup (Janzen, 2004).

c) Karbon di Laut

Laut mengandung sekitar 36.000 gigaton karbon, dimana sebagian besar dalam bentuk ion bikarbonat. Karbon anorganik, yaitu senyawa karbon tanpa ikatan karbon-karbon atau karbon-hidrogen, adalah penting dalam reaksinya di dalam air. Pertukaran karbon ini menjadi penting dalam mengontrol pH di laut dan juga dapat berubah sebagai sumber (source) atau lubuk (sink) karbon. Karbon siap untuk saling dipertukarkan antara atmosfer dan lautan. Pada daerah upwelling, karbon dilepaskan ke atmosfer. Sebaliknya, pada daerah downwelling karbon (CO2) berpindah dari atmosfer ke lautan. Pada saat CO2 memasuki lautan, asam karbonat terbentuk:

CO2 + H2O H2CO3

Reaksi ini memiliki sifat dua arah, mencapai sebuah kesetimbangan kimia. Reaksi lainnya yang penting dalam mengontrol nilai pH lautan adalah pelepasan ion hidrogen dan bikarbonat. Reaksi ini mengontrol perubahan yang besar pada pH:

H2CO3 H+ + HCO3

(Janzen, 2004).

Selama masa hidup kita, CO2 ditambahkan ke atmosfer oleh respirasi tumbuhan, mikroorganisme, dan hewan, oleh pembakaran bahan bakar fosil, serta oleh pembukaan lahan. Dalam kurun waktu geolegi (berlanjut sampai sekarang), CO2 ditambahkan ke atmosfer melalui semburan gunung api dan semburan mata air mineral. Dalam jangka pendek, fotosintesis merupakan salah satu mekanisme terpenting dalam pengambilan karbon dioksida dari atmosfer (Salisbury & Ross, 1995).

Tumbuhan hijau di permukaan bumi dan sistem karbonat di lautan sangat efektif dalam mengikat CO2 dari atmosfer. Akan tetapi, karena adanya peningkatan dari pemakaian bahan bakar minyak bumi yang disertai dengan penurunan kapasitas pemindahan dari tumbuhan hijau akan melampaui kontrol Cybernatik sehingga lambat laun kandungan CO2 di atmosfer meningkat. Diperkirakan pada pertengahan abad mendatang kandungan CO2 di atmosfer akan meningkat 2 kali lipat dari yang ada sekarang, sehingga keadaan iklim dunia akan menjadi semakin panas dengan rata-rata kenaikan temperatur sebesar 1,5-4,5oC yang diikuti dengan kenaikan permukaan air laut (karena pencairan es di daerah kutub) dan perubahan pola curah hujan yang dapat mengganggu produksi pertanian (Riyanto, 1985).

Urutan reaksi yang melibatkan penambatan CO2 dan pembentukan karbohidrat oleh fotosintesis baru terungkap setelah karbon-14 radioaktif tersedia sekitar tahun 1945. Penyelidikan terhadapa senyawa radioaktif tambahan yang terbentuk dengan cepat dari 14CO2 memastikan adanya gula fosfat lainnya yang mengandung empat, lima, enam, dan tujuh atom karbon (Campbell, 2002).

Tingginya kadar CO2 dapat mengurangi hilangnya energi yang disebabkan oleh fotorespirasi. Tanaman tropis dengan jalur C4 hanya sedikit melakukan fotorespirasi sebab kadar CO2 di dalam sel bersarangnya mempercepat reaksi karboksilase dibandingkan dengan reaksi oksigenase. Pengaruh ini terutama penting pada suhu tinggi. Distribusi geografis tanaman yang memiliki jalur ini memiliki keuntungan pada lingkungan bersuhu tinggi dan bila banyak cahaya (Stryer, 1995).

BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Waktu dan Tempat Percobaan

Waktu percobaan ini dilakukan pada hari Senin, tanggal 12 Desember 2007. Tempat pelaksanaan percobaan di Laboratorium Dasar MIPA, Lab. Biologi.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah tabung reaksi bertutup, rak tabung reaksi, dan cuter. Bahan yang digunakan dalam percobaan ini siput kecil, Hydrillia verticillata, gabus, air, dan larutan bromtimol biru.

3.3 Prosedur Percobaan

1. Tabung-tabung biakan dibagi menjadi 2 kelompok A dan B. Masing-masing kelompok dibagi menjadi A1, A2, A3, A4; B1, B2, B3, B4; dan C1, C2, C3, C4.

2. Seluruh tabung reaksi diisi dengan air sampai mencapai ketinggian kira-kira setengah dari tabung reaksi.

3. Bromtimol biru diteteskan sebanyak 3 tetes ke dalam masing-masing tabung.

4. Tabung dirangkai dan mulut tabung ditutup dengan sumbat berupa gabus. Masing-masing tabung ditempatkan sesuai rancangan percobaan.

· Pada tabung A1 diisi dengan siput dan ditempatkan pada kondisi inkubasi yang terang atau terkena cahaya matahari.

· Pada tabung A2 diisi dengan siput + hydrilla yang ditempatkan pada kondisi inkubasi terang.

· Pada tabung A3 diisi dengan hydrilla dan ditempatkan pada kondisi inkubasi yang terang juga.

· Pada tabung A4 tidak, hanya berupa air yang dicampur dengan larutan bromtimol biru dan ditempatkan pada kondisi inkubasi terang.

· Sedangkan untuk tabung B1 sama seperti pada tabung A1 diisi dengan siput tetapi dengan kondisi inkubasi yang gelap.

· Untuk tabung B2 diisi dengan siput + hydrilla ditempatkan pada kondisi inkubasi gelap.

· Pada tabung B3 diisi dengan hydrilla dan ditempatkan pada kondisi inkubasi gelap.

· Untuk tabung B4 hanya diisi dengan air yang telah tercampur dengan larutan bromtimol biru.

5. Rangkaian tabung A dipindahkan ke luar ruangan (cahaya), rangkaian tabung B dipindahkan ke dalam ruangan yang terang, dan rangkaian C dipindahkan ke dalam ruangan yang gelap (tanpa cahaya).

6. Setelah 24 jam, perubahan yang meliputi perubahan warna indikator, siput dan Hydrilla verticillata diamati dan dicatat pada tabel pengamatan.

Rangkaian percobaan ini diletakkan di ruangan terang

Keterangan gambar tabung :

A1 = larutan bromtimol biru + siput , warna indikator kuning

Siput tetap hidup

A2 = larutan bromtimol biru + siput + Hydrilla verticillata,

warna indikator kuning, keadaan siput hidup dan hydrilla dalam keadaan layu

A3 = larutan bromtimol biru + Hydrilla verticillata

Warna indikator biru, keadaan hydrilla tetap layu

A4 = larutan bromtimol biru

Rangkaian percobaan ini diletakkan di dalam ruang gelap

Keterangan gambar tabung :

B1 = larutan bromtimol biru + siput , keadaan warna indikator menjadi kuning, siput tetap hidup, tapi 1 mati

B2 = larutan bromtimol biru + siput + Hydrilla verticillata warna indikator kuning, siput tetap hidup dan hydrilla tampak layu

B3 = larutan bromtimol kuning + Hydrilla verticillata warna indikator bening, keadaan hydrilla terlihat layu

B4 = larutan bromtimol biru

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan

Tabel 4.1 Data Hasil Pengamatan

Kondisi Inkubasi

Tabung

Perubahan pada

Ket

Warna indikator

Siput

Hydrilla verticillata

Di luar ruangan

A1

Kuning

Hidup

-

Siput memakai O2 dan melakukan respirasi, bersifat asam

A2

Kuning

Hidup

Layu

Respirasi dari siput

tidak seimbang dengan fotosintesis hydrilla

A3

Biru

-

Layu

Aktifitas respirasi dan fotosintesis tinggi, tetapi fotosintesis dominan

A4

Biru

-

-

Kontrol dalam keadaan baik

Di dalam ruangan Gelap

B1

Kuning

1 Hidup 1 mati

-

Bromtimol bereaksi dengan CO2 yang dihasilkan siput

B2

Kuning

Hidup

Layu

Siput melakukan respirasi lebih kuat dari pada fotosintesis dan hydrilla

B3

Kuning

Layu

Aktifitas fotosintesis ada namun tidak seimbang dengan respirasi

B4

Tetap

-

-

Kontrol dalam keadaan baik

Gambar Rangkaian Percobaan.

Gambar 4.1 Rangkaian percobaan ini diletakkan di luar ruangan.

Keterangan gambar tabung :

A1 = larutan bromtimol biru + siput , warna indikator kuning

Siput tetap hidup

A2 = larutan bromtimol biru + siput + Hydrilla verticillata,

warna indikator biru pekat, keadaan siput hidup dan hydrilla dalam keadaan segar

A3 = larutan bromtimol biru + Hydrilla verticillata

Warna indikator biru, keadaan hydrilla tetap segar

A4 = larutan bromtimol biru

Gambar 4.2 Rangkaian percobaan ini diletakkan di dalam ruangan terang.

Keterangan gambar tabung :

B1 = larutan bromtimol biru + siput , keadaan warna indikator menjadi kuning, siput tetap hidup

B2 = larutan bromtimol biru + siput + Hydrilla verticillata warna indikator kuning, siput tetap hidup dan hydrilla terlihat segar

B3 = larutan bromtimol biru + Hydrilla verticillata warna indikator bening, keadaan hydrilla masih segar

B4 = larutan bromtimol biru

4.2 Pembahasan

Praktikum ini para praktikan melakukan percobaan untuk mengetahui peran produsen dan konsumen dalam suatu siklus karbon. Dalam siklus karbon ini terjadi suatu keseimbangan antara produsen dan konsumen yang saling berhubungan sangat erat dalam terbentuknya suatu siklus kehidupan.

Pertama-tama yang dilakukan yaitu menyediakan tabung reaksi sebanyak 12 buah. Masing-masing berlabel A1, A2, A3, A4; B1, B2, B3, B4; Masing-masing tabung diberi perlakuan tempat yang berbeda-beda. Tabung A diletakkan diluar ruangan, tabung B diletakkan di dalam ruangan terang, dan tabung C diletakkan di dalam ruangan gelap. Siput yang akan digunakan sebagai bahan percobaan sebelumnya diaklimatisasi yaitu penyesuaian habitat, yang asalnya dari air diparit-parit di pindahkan ke air yang berasal dari air kran. Setiap tabung, diisi dengan bahan yang berbeda-beda serta ditetesi dengan bromtimol biru sebanyak 2-3 tetes. Tabung 1 diisi dengan siput saja, tabung 2 diisi dengan Hydrilla verticillata, tabung 3 diisi dengan Hydrilla verticillata saja dan tabung 4 hanya larutan bromtimol biru, tabung terakhir ini digunakan sebagai kontrol, yaitu pembanding dengan tabung-tabung yang lain.

Perlakuan terhadap semua tabung tersebut dilakukan selama ±24 jam. Setelah itu, mengamati apa yang terjadi dengan warna indikator, siput dan Hydrilla verticillata. Pada tabung A yang diletakkan di luar ruangan, tabung A1 yaitu siput saja, keadaan warna indikator berubah menjadi kuning, dan siput tetap hidup namun lebih aktif. Hal ini dikarenakan siput melakukan respirasi. Tabung A2, Hydrilla verticillata + siput, keadaan warna indikator kuning, siput hidup, dan Hydrilla-nya tampak layu, ini dikarenakan tidak adanya keseimbangan siklus karbon yang terjadi, CO2 yang dihasilkan oleh siput di ambil tanaman untuk bahan fotosintesis kemudian menghasilkan O2 yang akan dipakai siput begitu seterusnya. Tabung A3, warna indikator berubah biru pekat, dan hydrilla-nya tetap layu, pada tabung ini aktifitas respirasi dan fotosintesis tinggi namun fotosintesis yang lebih dominan. Dan terakhir tabung A4, warna indikator biru, sebab tabung terakhir ini hanya sebagai kontrol.

Tabung selanjutnya yaitu tabung B yang diletakkan di dalam ruangan gelap. Tabung B1 siput saja, warna indikator kuning dan siput tetap hidup, karena di dalam air siput masih melakukan respirasi, bromtimol bereaksi dengan CO2 yang dihasilkan oleh siput saat respiras, membuat larutan jadi kuning. Tabung B2 siput + Hydrilla verticillata, warna indikator kuning, siput hidup, dan hydrilla layu, warna indikator kuning dikarenakan respirasi yang terjadi lebih banyak dibandingkan fotosintesis, CO2 yang dihasilkan lebih banyak keluar sehingga bereaksi dengan bromtimol biru berubah menjadi kuning. Fotosintesis hanya terjadi sedikit, sebab perlu adanya penyeleksian cahaya yang masuk, sehingga perlu energi besar untuk melakukan fotosintesis. Tabung B3 hydrilla saja, warna indikator kuning dan hydrilla layu, karena kegiatan fotosintesis yang dilakukan oleh hydrilla tidak giat atau tidak lancar, salah satu penyebabnya adalah pengaruh cahaya yang kurang, sebab di dalam ruangan cahaya yang diperlukan sangat sedikit, tanaman perlu mengeluarkan tenaga yang besar untuk melakukan fotosintesis. Tabung B4, warna indikator tetap biru.

Peristiwa yang dapat ditunjukkan oleh adanya perubahan warna bromtimol biru adalah adanya reaksi antara CO2 dengan bromtimol biru yang mengakibatkan perubahan warna indikator menjadi kuning. Yang terjadi pada tabung yang berisi dengan organisme adalah pada tabung A, tabung A1 siput tetap hidup dan aktif. Tabung A2, siput hidup dan hydrilla segar. Tabung A3, hydrilla segar. Selanjutnya tabung B, tabung B1, siput tetap hidup. Tabung B2 siput hidup dan hydrilla juga hidup. Tabung B3 hydrilla hidup. Bromtimol biru tidak mengalami perubahan pada tabung A4, dan B4, , ini dikarenakan tidak ada reaksi apapun yang terjadi terhadap larutan bromtimol biru pada tabung. Dan tabung ini digunakan sebagai kontrol perubahan warna pada tabung yang lain. Hasil yang diharapkan pada percobaan bila semua tabung ditempatkan ditempat gelap adalah semua organisme yang ada pada tabung akan mati sebab siklus karbon yang seharusnya terjadi menjadi terhambat karena tempat tabung berada tidak cukup atau kaya akan cahaya.


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah :

1. Respirasi yang merupakan proses oksidasi serupa yang terkendali secara efektif inilah yang membuat semua organisme tetap hidup. Dalam respirasi, zat kimia yang dihasilkan berupa CO2 (Karbon dioksida) dan H2O (uap air).

2. Proses siklus karbon tanaman memerlukan CO2 yang dikeluarkan oleh manusia atau hewan untuk membantu proses fotosintesis, dari proses ini dihasilkan O2 yang akan dipakai oleh manusia dan hewan untuk proses respirasi, dari respirasi akan dihasilkan lagi CO2 dan begitu seterusnya.

3. Bromtimol biru digunakan sebagai kontrol untuk membandingkan keadaan larutan (terutama perubahan warna larutan) pada tabung yang lain.

5.2 Saran

Praktikan harus lebih aktif dalam percobaan, serta perlu kerjasama yang baik antar sesama praktikan agar menghasilkan data yang baik, serta memperhatikan semua penjelasan yang diberikan oleh asisten, agar bisa mengerti apa yang sedang dilakukan dalam percobaan, serta data yang diambil dapat lebih akurat. Untuk asisten agar lebih meningkatkan cara menjelaskan apa-apa yang penting untuk disampaikan kepada praktikan agar data praktikum yang didapat oleh praktikan memuaskan serta membimbing praktikan dengan baik agar praktikan paham bagaimana proses percobaan yang dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell. 2002. Biolog/. Erlangga. Jakarta.

Kimbal, J.W. 1999. Biologi Edisi ke-5 Jilid 3. Erlangga : Jakarta

Lessie. 2007. The Carbon Cycle.

http://library.thinkquest.org/11353/the-carbon-cycle.htm

Diakses tanggal : 7 Desember 2007

Lim, D. 1998. Microbiology Second Edition. McGraw Hill Companies : New York

Madigan. 1997. Biology of Microorganisms Eight Edition. Prentice Hall International Inc : New Jersey

Salisbury & Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB : Bandung

Janzen, H.H. 2004. Carbon Cycling in Earth Systems — A Soil Science Perspective. Mc Graw Hill Book Company: New York.

Riyanto. 1985. Ekologi Dasar. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia

Bagian Timur: Ujung Pandang.

Stryer, L. 1995. Biochemistry 4. W. H. Freeman and Company: New York.

SEL-SEL PENYUSUN JARINGAN HEWAN

SEL-SEL PENYUSUN JARINGAN HEWAN

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

OLEH

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 3

ASISTEN : NONI ARAI SETYORINI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA

BANJARBARU

OKTOBER, 2007

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sel adalah segumpal protoplasma yang berinti, sebagai individu yang berfungsi menyelenggarakan seluruh aktivitas untuk kebutuhan hidupnya. Sel itu setelah tumbuh dan berdeferensiasi, akan berubah bentuknya sesuai dengan fungsinya, ada yang menjadi epidermis berfungsi untuk melindungi sel-sel sebelah dalamnya ada yang menjadi tempat penyediaan makanan, ada yang berfungsi menjadi tempat persediaan makanan dan lain-lain.

Sel hewan tak pernah berdinding, demikian pula sel protista. Dinding sel prokariot dan cendawan berbeda sekali dari dinding sel tumbuhan. Vakuola dapat ditemui pada anggota kelima dunia, namun vakuola besar di pusat sel ada pada hampir semua sel tumbuhan, cendawan, dan beberapa protista. Kloroplas hanya terdapat pada tumbuhan dan beberapa protista (bergantung pada golongannya).

Meskipun antara sel hewan dan sel tumbuhan berbeda namun terdapat persamaan-persamaan dasar tertentu mengenai sifat, bentuk, dan fungsi dari bagian sel tersebut. Secara umum bagian-bagian sel tersebut adalah membran sel, sitoplasma, mitokondria, retikulum endoplasma, aparatus golgi, lisosom, plastida, kloroplas, sentrosom, ribosom, vakuola, inti sel, membran inti, mikrofilamen, dan dinding sel.

Oleh beberapa penulis dianggap sebagai cairan yang bersifat seperti lender. Tahun 1829 oleh Hertwig diajukan teori protoplasma yang mempunyai konsepsi lebih umum dari teori sel Schwan. Dalam teorinya dikatakan bahwa sel adalah kumpulan substansi hidup yang disebut protoplasma dengan di dalamnya mengandung inti yang disebut nucleus dan diluarnya dibatasi oleh dinding sel. Ada beberapa organisme yang struktur selnya tidak jelas, tetapi terdiri atas protoplasma.

Sel-sel penyusun tubuh makhluk hidup sangat bervariasi baik ukuran, bentuk, struktur maupun fungsinya. Secara umum sel terdiri atas membran plasma, sitoplasma, nukleus, dan organel-organel yang memiliki bentuk khusus dan secara bersama-sama membentuk sistem yang kompak. Komponen utama sel tumbuhan adalah dinding sel, sitoplasma, apparatus golgi, mmitokondria, ribosom, vakuola dan komponen lainnya. Berdasarkan organisasi internal tipe sel mikroorganisme dibedakan menjadi dua bagian yaitu sel prokariotik dan sel eukariotik. Sel kariotik khas bagi hewan dan tumbuhan tetapi tidak termasuk alga hijau, alga biru dan bakteri.

1.2 Tujuan Praktikum

Praktikum kali ini bertujuan untuk mengamati bentuk-bentuk sel yang menyusun jaringan tubuh hewan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Sel-sel penyusun jaringan tubuh pada hewan lebih banyak dan kompleks. Jaringan adalah kumpulan struktur, fungsi, cara pertumbuhan dan cara perkembangan serupa. Jaringan pada hewan dibagi menjadi 4 jaringan utama, yaitu jaringan epitel, jaringan ikat atau penyambung, jaringan otot dan jaringan syaraf (Brotowidjoyo, 1989).

Jaringan epitel adalah jaringan yang melapisi suatu rongga atau suatu permukaan bebas. Sel-selnya tersusun rapat satu sama lain sehingga tidak terdapat ruang. Ruang antar sel yang biasanya berisi substansi interselular atau juga bisa disebut matriks. Dipandang dari banyaknya lapisan sel yang menyusunnya, epitel dibedakan atas epitel selapis dan epitel berlapis. Epitelium kulit melindungi jaringan di bawahnya terhadap kerusakan karena gesekan mekanis, radiasi ultraviolet, dan serangan bakteri. (Brotowidjoyo, 1989).

Jaringan epitel dibuat dari sel-sel memadat yang tersusun dalam lapisan pipih. Jaringan ini membentuk kulit yang membungkus tubuh. Jaringan epitel menjalankan berbagai fungsi. Dalam setiap kasus fungsi ini mencerminkan kenyataan bahwa epitel selalu terdapat di perbatasan antara massa sel dan rongga atau ruang. Epitelium juga berfungsi dalam mengangkut bahan-bahan dari jaringan dan ke rongga yang dipisahkannya. Epitel kolumner pada saluran pencernaan mengeluarkan enzim-enzim cerna ke dalam intestin dan juga menyerap produk akhir pencernaan makanan daripadanya. Semua kelenjar pencernaan pada tubuh dilapisi dengan epitelium. Epitelium juga melapisi tabung air dan dan rongga paru-paru (Kimball, 1992).

Jaringan ikat sering disebut jaringan penyokong atau penyambung. Letak sel-sel jaringan ikat ini tidak berhimpit rapat, tetapi berpencar-pencar dan jika berhubungan, hanya pada ujung-ujung protoplasmanya. Ciri khusus jaringan ikat adalah memiliki komponen interseluler yang disebut matriks. Bentuk sel-sel jaringan ikat ini tidak teratur, sitoplasma bergranula dan inti selnya mengelembung. Ada beberapa jenis sel-sel jaringan ikat yaitu, fibroblas, makrofag, sel tiang, sel lemak dan berbagai jenis sel darah putih. Jaringan ikat dibagi menjadi dua tipe dasar, yaitu jaringan ikat longgar dan jaringan ikat padat (Albert, 1994)

Jaringan pengikat berbeda dengan jaringan epitel, jaringan pengikat mengandung matriks yang sangat banyak. Jaringan pengikat berfungsi: untuk mengikat satu alat dengan alat lain, untuk membungkus alat-alat, untuk mengganti jaringan yang rusak (luka), untuk menetralkan racun dan untuk membentuk kerangka penyokong. Atas dasar struktur dan fungsinya, jaringan pengikat dibedakan atas tiga macam jaringan yang masing-masing dapat dibagi lagi menjadi jaringan-jaringan yang lebih khas: jaringan pengikat sebenarnya, jaringan pengikat rangka tulang rawan hialin, jaringan pengikat cair (Storer, 1957).

Sel otot disebut juga serat-serat otot. Serat otot mengandung filamen (benang) aktin dan miosin yang merupakan protein kontraktil yang memungkinkan otot memendek dan memanjang. Fungsi otot adalah sebagai alat gerak aktif. Jaringan otot tersusun atas sel-sel membujur dengan inti tampak jelas batasnya dan miofibril. Miofibril tersusun atas protein kontraktil yang terdapat di sepanjang sel dan tampak jelas pada otot rangka dan otot jantung. Batas antara sel otot terlihat jelas karena adanya sarkolema. Sarkolema adalah lapisan membran yang mengelilingi sel otot (Lim, 1998).

Jaringan otot, jaringan ini sebagian besar terdiri atas sel-sel yan berbentuk serabut-serabut dengan ukuran panjang bervariasi. Dapat dikatakan tidak mengandung matriks. Sel-sel tersusun dalam berkas-berkas yang dibungkus jaringan pengikat. Jaringan otot mempunyai daya kerut yang cukup tinggi, panjangnya dapat menyusut sampai separuh atau sepertiga panjang normal. Jaringan otot terbagi atas otot serat lintang, otot polos, otot jantung (Fahn, 1974).

Jaringan saraf terdiri atas sel-sel saraf (neuron) yang mempunyai ciri khusus, yaitu mempunyai juluran sitoplasma yang panjang. Selain disusun oleh neuron, sel saraf juga disusun oleh sel neuroglia yang terdapat di sistem saraf pusat. Sel saraf terletak menyebar di seluruh tubuh hewan. Di dalam satu sel neuron, sitoplasmanya mengandung ribosom, badan golgi, retikulum endoplasma, dan mitokondria. Neuron mendapatkan suplai makanan melalui sel neuroglia yang menyelubunginya. Neuron tersusun dari badan sel, dendrit, dan akson (Lim, 1998).

Badan sel mengandung inti sel. Setiap rangsangan akan dibawa ke badan sel oleh dendrit. Dendrit merupakan sejumlah serabut sitoplasma. Funsi dendrit adalah membawa rangsangan ke badan sel. Akson merupakan serabut sitoplasma tunggal. Fungsia akson adalah membawa rangsangan meninggalkan badan sel. Akson juga dapat bercabang-cabang di dekat ujungnya (terminal akson). Titik temu antara terminal akson neuron yang satu dengan neuron yang lainnya disebut sinapsis. Sinapsis berfungsi meneruskan rangsangan ke sel saraf yang lain (Hadioetomo, 1993).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 7 Oktober 2007 pukul 08.00-10.00, bertempat di Laboratorium Dasar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah: Mikroskop, Kaca benda, kaca penutup, pipet tetes, silet tajam dan tuisuk gigi.

Bahan-bahan yang digunakan adalah preparat jadi bagian kulit reptil yang mengelupas, prepaqrat jadi otot polos dan lurik, sel epitelium rongga mulut, preparat jadi sel darah merah atau eritrosit, preparat jadi tulang keras dan tulang rawan, nmetilen blue dan akuades.

3.3 Prosedur Kerja

1. Tusuk gigi digarukkan ke bagian pipi sebelah dalam kemudian pada gelas objek digoreskan

2. Objek ditetesi dengan metilen blue dan dibiarkan selama 5 menit dan kemudian ditutup dengan kaca penutup serta langsung diamati di bawah mikroskop. Digambar dan diberi keterangan bagian-bagian sel yang terlihat.

3. Untuk preparat awetan, diperhatikan bentuk dan bagaimana sel menyusun jaringan.

4. Dijelaskan bagaimana hubungan antara bentuk dan bagaimana sel menyusun jaringan dengan fungsi jaringan tersebut.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

No

Sel Hewan

Keterangan

1

Otot polos (Mammal smooth muscle)

1. Inti sel

2. Papila

3. Rongga udara

Berwarna merah

Perbesaran 40x

2

Sel darah merah/eritrosit (Human blood)

1. Inti sel

2. Keping darah

Berkoloni

Berwarna merah

Perbesaran 40x

3

Otot lurik (Mammal striated Muscle)

1. Inti sel

Berwarna merah

Perbesaran 40x

4

Preparat jadi tulang keras (Mammal compact bone)

1. Inti sel

Berwarna merah

Perbesaran 40x

5

Preparat jadi tulang rawan (Mammal developing cartilago bone)

1. Inti sel

Berwarna merah

Perbesaran 40x

6

Preparat kulit reptil yang mengelupas

1. Membran sel

2. Sitoplasma

Berbentuk lembaran

Berwarna biru keabu-abuan

Perbesaran 40x

7

Sel epitelium rongga mulut

1. Inti sel

Berwarna merah

Perbesaran 40x

4.2 Pembahasan

Jaringan tubuh hewan dibedakan atas empat kelompok utama yaitu jaringan epitel yaitu jaringan yang melapisi suatu rongga atau suatu permukaan bebas, jaringan pengikat yaitu jaringan yang mengadung matriks sangat banyak, jaringan otot yaitu jaringa yang sebagian besar terdiri dari sel-sel berbentuk serabut-serabut dengan ukuran panjang yang bervariasi, dan jaringan saraf. Jaringan epitel dibedakan lagi menjadi jaringan-jaringan yang lebih khusus sesuai dengan struktur dan fungsi masing-masing Jaringan pengikat mencakup beberapa jaringan yang struktur dan fungsinya sangat berlainan yaitu jaringan pengikat cair yang berupa darah. Darah yang terasusun atas matriks yang berupa cairan dan disebuut juga plasma darah, dan sel-sel yang bebas yang mengambang di dalam plasma darah .

Jaringan otot tidak banyak variasinya yaitu hanya otot seranlintang yaitu otot yang umumnya melekat pada tulang-tulang kecuali otot lidah, otot polos yaitu otot yang tersusun atas sel-sel atau serabut-serabut otot yang berbentuk kumparan pipih, kadang-kadang ujungnya belok,dan otot jantung yaitu otot yang serabut-serabutnya tidak terpisah satu sama lain, melainkan hubungan satu sama lain dengan perantara penghubung-penghubung yang berjalan condong sehingga membentuk jaringan kontraktil.

Untuk jaringan saraf yang perlu dipahami adalah perbedaan antara sel syaraf (neuron) dan bahan sel saraf (silton), serta pengertian tenyang unipolar, hipolar, multipolar, berbungkus, dan ak berbungkus.

Reptilia adalah vertebrata dengan kulit kering, tertutup oleh sisik-sisik atau papan epidermal. Tengkorak biasanya sedikit tertekan lateral, dengan sedikit kondoisi okspital. Sabuk-sabuk badan (girdle) tumbuh baik (kecuali pada ular yang tereduksi atau bahkan hilang sama sekali). Vertebrae terbagi dengan jelas menjadi 5 bagian: servikal, dada (toraks), lumbar, sakral, dan ekor (kaudal), jari-jari dan cakar.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut:

1. Sel hewan tidak memiliki dinding sel yang mengandung selulosa, tidak mempunyai plastida dan tidak memiliki vakuola.

2. Otot lurik mempunyai banyak nukleus. Sedangkan otot polos tersusun oleh sel- sel yang berbentuk kumparan halus dengan satu nukleus di tengahnya.

3. Jaringan tulang rawan mempunyai matriks yang keras tapi elastis.

4. Epitelium pada rongga mulut merupakan jaringan epitel pipih selapis.

5.2 Saran

Dalam melakukan percobaan ini sebaiknya praktikan membuat sediaan dengan cara memotong setipis-tipisnya, sehingga didapatkan gambaran mikroskopik sel yang jelas, selain itu juga diperlukan ketelitian dan kecermatan agar didapat hasil yang sesuai.

DAFTAR PUSTAKA

Albert, Bruce. 1994. Biologi Molekular Edisi kedua. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Brotowidjoyo. 1989. Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta

Fahn, A. 1974. Animal Anatomy. Pergamon Press. New York.

Hadioetomo, Ratna Siri. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Gramedia. Jakarta.

Kimball, J. W. 1992. Biologi Jilid 1 Edisi ke lima. Erlangga. Jakarta.

Lim, Daniel. 1998. Mikrobiologi Dasar. Erlangga. Jakarta.

Storer, T. I. 1957. General Zoology. Hill Book Company. New York.

PENGENALAN DAN PENGGUNAAN MIKROSKOP DAN SEL-SEL PENYUSUN JARINGAN TUMBUHAN

PENGENALAN DAN PENGGUNAAN MIKROSKOP DAN

SEL-SEL PENYUSUN JARINGAN TUMBUHAN

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

OLEH

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 3

ASISTEN : NONI ARAI SETYORINI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA

BANJARBARU

OKTOBER, 2007

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengenalan dan penggunaan mikroskop

Antony Van Leuwenhoek orang yang pertama kali menggunakan mikroskop walaupun dalam bentuk sederhana pada bidang mikrobiologi. Kemudian pada tahun 1600 Hans dan Z Jansen telah menemukan mikroskop yang lebih maju dengan nama mikroskop ganda. Mikroskop berasal dari kata mikro yang berarti kecil dan scopium (penglihatan). Mikroskop adalah suatu benda yang berguna untuk memberikan bayangan yang diperbesar dari benda-benda yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang. Mikroskop terdiri dari beberapa bagian yang memiliki fungsi tersendiri.

Mikroskop pada prinsipnya terdiri dari dua lensa cembung yaitu sebagai lensa objektif (dekat dengan mata) dan lensa okuler (dekat dengan benda). Baik objektif maupun okuler dirancang untuk perbesaran yang berbeda. Lensa objektif biasanya dipasang pada roda berputar, yang disebut gagang putar. Setiap lensa objektif dapat diputar ke tempat yang sesuai dengan perbesaran yang diinginkan. Sistem lensa objektif memberikan perbesaran mula-mula dan menghasilkan bayangan nyata yang kemudian diproyeksikan ke atas lensa okuler. Bayangan nyata tadi diperbesar oleh okuler untuk menghasilkan bayangan maya yang kita lihat.

Kebanyakkan mikroskop laboratorium dilengkapi dengan tiga lensa objektif : lensa 16 mm, berkekuatan rendah (10 X); lensa 4 mm, berkekuatan kering tinggi (40-45X); dan lensa celup minyak 1,8 mm (97-100X). Objektif celup minyak memberikan perbesaran tertinggi dari ketiganya. Lensa okuler terletak pada ujung atas mikroskop, terdekat dengan mata. Lensa okuler biasanya mempunyai perbesaran: 5X, 10X, 12,5X dan 15X. Lensa okuler terdiri dari lensa plankonveks yaitu lensa kolektif dan lensa mata.

Sel-sel penyusun jaringan tumbuhan

Sel adalah bagian terkecil dari makhluk hidup. Ukuran sel sangat kecil sehingga untuk melihatnya harus menggunakan alat yang disebut mikroskop. Struktur sel pertama kali diamati oleh seorang berkebangsaan Inggris yang bernama Robert Hooke (1635-1703). Melalui pengamatannya terhadap gabus tutup botol tampak susunan kotak kecil yang teratur. Kotak kecil tersebut dalam bahasa latin disebut cellulae.

Tahun 1829 oleh Hertwig diajukan teori protoplasma, sel adalah kumpulan substansi hidup yang disebut protoplasma dengan di dalamnya mengandung inti yang disebut nukleus dan diluarnya dibatasi oleh dinding sel. Ada beberapa organisme yang struktur selnya tidak jelas, tetapi terdiri atas protoplasma. Berdasarkan jumlah sel yang menyusunnya, tubuh makhluk hidup ada yang tersusun atas satu sel (uniseluler) dan banyak sel (multiseluler). Pada sel tumbuhan, di sebelah luar membran sel terdapat dinding sel yang relatif tebal.

1.2 Tujuan Praktikum

Praktikum kali ini bertujuan untuk mengenali bagian-bagian mikroskop, memahami fungsi dan terampil menggunakannya, mengamati susunan jaringan-jaringan dan bentuk-bentuk sel pada tumbuhan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Mikroskop pertama kali ditemukan oleh Antony Van Leuwenhoek (1632-1723) yang berkebangsaan Belanda, dengan mikroskop yang masing-masing terdiri atas lensa tunggal hasil gosokan rumah yang ditanam dalam kerangka kuningan dan perak. Kekuatan perbesaran tertinggi yang dapat dicapainya hanyalah 200-300 kali, mikroskop ini sedikit sekali persamaannya dengan mikroskop cahaya majemuk yang ada sekarang (Purba, 1999).

Mikroskop pada prinsipnya adalah alat pembesar yang terdiri dari dua lensa cembung yaitu sebagai lensa objektif (dekat dengan mata) dan lensa okuler (dekat dengan benda). Baik objektif maupun okuler dirancang untuk perbesaran yang berbeda. Lensa objektif biasanya dipasang pada roda berputar,yang disebut gagang putar (Volk, 1984).

Bila kita ingin perbesaran sudut yang lebih besar daripada pembesaran kaca pembesar, oleh karena itu keberadaan mikroskop sangat diperlukan. Benda O yang akan diteliti diletakkan pada titik fokus pertama F dari lensa objektif, yang membentuk bayangan nyata dan diperbesar yaitu I. Bayangan ini terletak tepat pada titik fokus pertama F1 dari okuler yang membentuk bayangan semu dari I pada I.

Macam-macam mikroskop, yaitu :

a. Mikroskop Cahaya

Merupakan mikroskop yang mempunyai bagian – bagian yang terdiri dari alat-alat yang bersifat optik, berguna untuk mengamati benda-benda atau preparat yang transparan. Suatu variasi dari mikroskop cahaya biasa ialah mikroskop ultraviolet, karena cahaya ultraviolet tak dapat dilihat oleh mata manusia maka bayangan benda harus direkam pada piringan peka cahaya. Mikroskop ini menggunakan lensa kuarsa.

b. Mikroskop Pendar

Mikroskop ini dapat digunakan untuk mendeteksi benda asing atau antigen dalam jaringan.

c. Mikroskop Medan Gelap

Mikroskop ini digunakan untuk mengamati bakteri hidup, khususnya bakteri yang begitu tipis yang hampir mendekati batas daya pisah mikroskop majemuk.

d. Mikroskop Fasekontras

Mikroskop ini digunakan untuk mengamati benda hidup dalam keadaan alaminya, tanpa menggunakan bahan pewarna. Pada bawah meja objeknya dan pada lensa objektifnya terpasang perlengkapan fase kontras.

e. Mikroskop Elektron

Banyak komponen sel seperti mitokondria, ribosom dan retikulum endoplasma yang begitu kecil tidak bisa dilihat secara detail dengan mikroskop biasa. Mereka hanya bisa melihat dengan mikroskop elektron (Kamajaya, 1996).

d. Mikroskop Elektron Pemayaran

Mikroskop ini menggunakan berkas elektron, tetapi yang seharusnya ditransmisikan secara serempak ke seluruh medan elektron difokuskan sebagai titik yang sangat kecil dan dapat digerakkan maju mundur pada spesimen (Winatasasmita, 1986).

Sel adalah segumpal protoplasma yang berinti, sebagai individu yang berfungsi menyelenggarakan seluruh aktivitas untuk kebutuhan hidupnya. Sel itu setelah tumbuh dan berdeferensiasi, akan berubah bentuknya sesuai dengan fungsinya, ada yang menjadi epidermis berfungsi untuk melindungi sel-sel sebelah dalamnya ada yang menjadi tempat penyediaan makanan, ada yang berfungsi menjadi tempat persediaan makanan dan lain-lain (Yekti, 1994).

Ada tiga keistimewaan yang khas pada sel tumbuhan : dinding sel dengan selulosa, vakuola (yang memberi tekanan dan memperbesar volume serta luas permukaan meskipun dengan protoplasma sedikit), dan plastida, khususnya kloroplas. Vakuola dapat ditemui pada anggota kelima dunia, namun vakuola besar di pusat sel ada pada hampir semua sel tumbuhan, cendawan, dan beberapa protista. Kloroplas hanya terdapat pada tumbuhan dan beberapa protista (bergantung pada golongannya) (Suwasono, 1987).

Sel sendiri sebagai dasar menyusun suatu organisme yang terdiri dari inti (nukleus) yang terbungkus oleh membran atau struktur serupa tanpa membran. Tidak ada kehidupan dalam satuan yang lebih kecil dari pada sel. Sel terbentuk hanya dengan pembelahan sel-sel sebelumnya. Sel dicirikan oleh adanya molekul makro khusus, seperti pati dan selulosa, yang terjadi dari ratusan sampai ribuan gula atau molekul lain selain itu sel juga dapat dicirikan oleh adanya molekul makro seperti protein dan asam nukleat baik DNA atau RNA yang tersusun sebagai rantai yang terdiri dari ratusan sampai ribuan molekul. Pada tumbuhan istilah sel meliputi protoplasma dan dinding sel yang ada sedangkan pada organisme multi sel yang ada membentuk struktur kompleks yaitu jaringan dan organ. Sel pada organisme multi sel tidak sama satu dengan lainnya tetapi masing-masing mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda. Pada awalnya struktur dinding sel yang ada pada tumbuhan dianggap sebagai sel mati hasil ekskresi zat hidup dalam sel akan tetapi baru-baru ini makin banyak ditemui bukti bahwa ada satuan organik yang ada diantara protoplasma dan dinding, khususnya pada sel muda (Kamajaya, 1996).

Meskipun antara sel hewan dan sel tumbuhan berbeda namun terdapat persamaan-persamaan dasar tertentu mengenai sifat, bentuk, dan fungsi dari bagian sel tersebut. Secara umum bagian-bagian sel tersebut adalah membran sel, sitoplasma, mitokondria, retikulum endoplasma, aparatus golgi, lisosom, plastida, kloroplas, sentrosom, ribosom, vakuola, inti sel, membran inti, mikrofilamen, dan dinding sel (Anshory, 1984).

Sel tumbuhan mempunyai bentuk yang bermacam-macam. Ada yang berbentuk peluru, prisma, dan memanjang seperti rambut atau seperti ular. Sel tumbuhan mempunyai dua bagian pokok yang berbeda dari hewan yaitu vakuola, plastida dan dinding sel. Vakuola dan plastida merupakan bagian hidup dari sel tumbuhan dan disebut protoplas. Sedangkan dinding sel yang berfungsi untuk melindungi isi sel atau lumen yang ada di protoplasma disebut bagian sel yang mati. Hal ini terlihat pada sel gabus tumbuhan yang tergolong sel mati karena hanya memiliki inti sel dan sitoplasma, sehingga ruang antar selnya kosong. Bentuk sel gabus heksagonal, tersusun rapat antara satu dan lainnya (Pramesti, 2000).

Meskipun antara sel hewan dan sel tumbuhan berbeda namun terdapat persamaan-persamaan dasar tertentu mengenai sifat, bentuk, dan fungsi dari bagian sel tersebut. Secara umum bagian-bagian sel tersebut adalah membran sel, sitoplasma, mitokondria, retikulum endoplasma, aparatus golgi, lisosom, plastida, kloroplas, sentrosom, ribosom, vakuola, inti sel, membran inti, mikrofilamen, dan dinding sel (Suwasono, 1987).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 31 Oktober 2007 pukul 08.00-10.00, bertempat di Laboratorium Dasar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah: Mikroskop cahaya binokuler dan monokuler, Kaca benda, kaca penutup, pinset, pipet tetes, dan silet tajam.

Bahan-bahan yang digunakan adalah penampang melintang sel gabus batang ubi kayu (Manihot utilissima), rambut buah kapuk (Ceiba pentandra) dan kapas (Gossypium sp.), penampang melintang daun karet (Ficus elastica), daun Hydrilla verticillata, selaput bagian dalam umbi lapis bawang merah (Allium cepa), dan akuades.

3.3 Prosedur Kerja

A. Pengenalan Mikroskop

1. Mencari bidang penglihatan

a. Tabung dinaikkan menggunakan makrometer (pemutar kasar), sehingga lensa objektif tidak membentur meja atau panggung bila revolver diputar-putar.

b. Lensa objektif di tempatkan pembesaran lemah (4 X atau 10 X) dengan memutar revolver sampai berbunyi klik (posisinya satu poros dengan lensa okuler).

c. Membuka diafragma sebesar-besarnya dengan menarik tangkainya ke belakang.

d. Mengatur letak cermin sedemikian rupa ke arah cahaya, sehingga terlihat lingkaran (lapangan pandang) yang sangat terang di dalam lensa okuler. Mikroskop siap digunakan.

2. Mencari bayangan sediaan

a. Menaikkan tabung mikroskop menggunakan makrometer, sehingga jarak antara lensa objektif dengan permukaan meja ± 3 cm.

b. Meletakkan sediaan yang akan diamati di tengan-tengah lubang meja benda, menggunakan penjepit sediaan agar tidak tergeser.

c. Memutar makrometer ke belakang sampai penuh (hati-hati), sambil menempatkan roda sediaan tepat di bawah lensa objektif, hingga jarak antara ujung lensa objektif dengan permukaan atas kaca penutup hanya ± 1 mm.

d. Membidik mata ke lensa okuler sambil memutar makrometer ke depan searah jarum jam secara hati-hati sampai tampak bayangan yang jelas.

e. Memutar revolver dan lensa objektif yang sesuai untuk mendapatkan pembesaran yang kuat. Kemudian memainkan fungsi mikrometer secara perlahan dan hati-hati. (Bila menggunakan lensa objektif 100x, maka di atas sediaan perlu ditetesi minyak imersi dahulu).

3. Memelihara Mikroskop

a. Mengangkat dan membawa mikroskop harus selalu dalam posisi tegak, dengan satu tangan memegang erat pada lengan mikroskop dan tangan yang lain menyangga pada dasar atau kakinya.

b. Mencondongkan posisi tabung, cukup dilakukan dengan memutar engsel penggerak sebagai titik putar. Menegakkan kembali setelah selesai.

c. Mengusahakan agar lensa objektif lemah (4x atau 10x) berada satu poros di bawah lensa okuler. Mengatur kedudukan tabung sedemikian rupa sehingga ujung lensa objektif lemah berjarak ± 1cm dari atas meja benda.

d. Mengatur kedudukan penjepit sediaan dengan rapi dan cermat pada posisi tegak agar debu tidak banyak menempel.

e. Membersihkan sisa minyak imersi dengan menggunakan cairan Xilol sesegera mungkin setelah pengamatan dengan menggunakan minyak imersi telah berakhir, dan mengeringkan dengan kain lap yang bersih.

f. Membersihkan lensa atau bagian lainnya dengan kain lap yang bersih dari bahan halus (flenel) setiap akan menggunakan mikroskop.

4. Pengukuran Mikroskopis atau Mikrometri

Untuk mengetahui ukuran objek yang diamati dengan mikroskop dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu yang disebut Mikrometer Objektif dan Mikrometer Okuler.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

A. Pengenalan Mikroskop

Gambar Mikroskop

Keterangan gambar mikroskop, yaitu :

1. Lensa okuler

2. Tabung atau tubus

3. Makrometer atau coarse adjust

4. Revolver

5. Lensa obyektif

6. Mikrometer

7. Lengan atau tangkai mikroskop

8. Klip atau penjepit

9. Diafragma

10. Meja objektif

11. Sekrup engsel

12. Kondensor

13. Sekrup kondensor

14. Cermin

15. Alas dasar kaki

B. Pengenalan Sel Penyusun Jaringan Tumbuhan

No

Sel Tumbuhan

Keterangan

1

Sel kapas

a. Torsi

b. Rongga sel

c. Ruang antar sel

d. Dinding sel

Perbesaran 40 kali

Mikroskop elektron

2

Sel kapuk

a. Dinding sel

b. Rongga sel

Perbesaran 40 kali

Mikroskop elektron

3

Selaput bagian dalam umbi lapis bawang merah

a. Dinding sel

b. Inti sel

c. Sitoplasma

Perbesaran 40 kali

Mikroskop elektron

4

Hydrilla verticillata

a. Dinding sel

b. Inti sel

Perbesaran 40 kali

Mikroskop elektron

5

Sel gabus batang ubi kayu

a. Dinding sel

Perbesaran 40 kali

Mikroskop elektron

6

Penampang melintang daun Ficus Elastica atau daun karet

a. Lapisan kutikula

b. Epidermis

c. Jaringan tiang ganda

d. Xilem

e. Stomata

f. Floem

g. Jaringan bunga karang

h. Epidermis bawah

Perbesaran 40 kali

Mikroskop elektron

4.2 Pembahasan

Mikroskop cahaya merupakan suatu alat yang mempunyai bagian-bagian tertentu, yaitu terdiri dari alat-alat optik dan non optik yang digunakan untuk mengamati benda-benda yang mikroskopis dan transparan. Mikroskop cahaya mempunyai keuntungan yaitu hemat terhadap penggunaan listrik. Daya pisah adalah kemampuan mikroskop untuk secara jelas dan terpisah dalam membedakan dua titik yang berdekatan yang tanpa mikroskop terlihat sebagai satu titik dan dikatakan sebagai jarak terkecil diantara dua titik yang terlihat sebagai dua titik bukannya satu titik. Hal inilah yang membedakan mikroskop canggih dari mikroskop cahaya.

Dari hasil percobaan dan penelitian yang telah dilaksanakan maka diperoleh hasil yaitu, mikroskop terdiri atas bagian-bagian yang masing-masing bagian tersebut mempunyai fungsi tersendiri. Lensa okuler berfungsi untuk memperbesar bayangan yang bersifat maya dan tegak. Lensa objektif berfungsi untuk mengatur pembesaran ukuran untuk kekuatan 4x, 10x, 40x dan 100x. Kondensor berfungsi untuk mengatur bayangan yang akan diamati atau untuk menaikkan dan menurunkan kondensor. Reflektor berfungsi untuk menerima cahaya yang masuk atau dapat memperjelas cahaya yang akan datang. Tubuh mikroskop berfungsi untuk tempat terjadinya proses bayangan antara lensa objektif dengan lensa okuler. Makrofokus berfungsi untuk mengatur jarak okuler objektif sehingga tepat fokusnya secara kasar dan jelas. Mikrofokus berfungsi untuk mengatur jarak okuler sehingga tepat fokusnya secara tajam. Revolver berfungsi sebagai tempat lensa objektif. Meja objek berfungsi untuk meletakkan preparat yang akan diamati. Penjepit berfungsi untuk memperkokoh kedudukan preparat agar tidak goyang. Pengatur kondensor berfungsi sebagai pengatur letak lensa kondensor terhadap preparat. Pemegang(lengan) berfungsi untuk memegang mikroskop. Diafragma berfungsi mengatur cahaya yang masuk dalam mikroskop. Kaki atau dasar berfungsi untuk memperkokoh kedudukan mikroskop. Sekrup engsel berfungsi menyesuaikan mikroskop yang baik.

Satuan terkecil dalam tumbuhan adalah sel, suatu wadah kecil berisi substansi hidup, yaitu protoplasma, dan diselubungi oleh dinding sel. Dalam setiap sel hidup berlangsung proses metabolisme. Dinding sel melekat pada yang lain dengan adanya perekat antar sel. Pengelompokkan sel seperti itu, yang berbeda struktur atau fungsinya atau keduanya dari kelompok sel lain, disebut jaringan. Jaringan secara umum terdiri dari sel-sel yang sama bentuk serta fungsinya disebut jaringan sederhana. Jaringan yang terdiri atas lebih dari satu macam sel namun asalnya sama disebut jaringan kompleks majemuk.

Sel bawang merah (Allium cepa) berbentuk heksagonal, di dalamnya terdapat protoplasma sehingga sel bawang merah dinyatakan hidup dengan warna merah muda. Perbesaran yang dilakukan sebesar 40 x dengan menggunakan mikroskop elektron. Sel gabus (Manihot utilissima) yang dipotong melintang tampak berbentuk heksagonal, sel yang satu dengan sel yang lainnya tersusun rapi dan rapat, di dalam dinding sel terlihat kosong. Hal ini menyatakan bahwa sel gabus adalah sel mati. Untuk mengamati sel gabus ini praktikan harus mengiris gabus secara melintang dan tipis sehingga preparat dapat ditembus cahaya dan terlihat jelas melalui mikroskop elektron dengan perbesaran 40 x. Warna dari sel gabus sendiri agak coklat muda. Daun Hydrilla verticillata adalah tumbuhan air yang berklorofil, sehingga terlihat berwarna hijau, selnya berbentuk persegi panjang susunan bata dalam pembuatan bangunan, di dalamnya terdapat bintik-bintik berwarna hijau yang disebut klo. Sel dari daun hydrilla ini akan tampak jelas apabila dilihat melalui mikroskop elektron. Sel kapas (Gossypium sp) memiliki batas-batas yang jelas yang disebut sigma, selain itu sel kapas juga terdapat torsi. Di dalam sel terlihat kosong, ini menandakan bahwa sel kapas adalah sel mati. Perbesaran yang digunakan untuk mengamati sel kapas adalah 40 x. Warna dari sel kapas itu sendiri kehitaman. Sel kapuk (Ceiba pentandra) memiliki batas-batas yang jelas, sel kapuk berbentuk seperti tabung panjang yang kosong. Perbesaran yang digunakan untuk mengamati adalah 40 x. Warna dari sel kapuk sendiri agak kehitaman, bening. Sel dari penampang melintang daun Ficus elastica Sel gabus (Manihot utilissima) yang dipotong melintang tampak berbentuk heksagonal, berwarna hijau, sel yang satu dengan sel yang lainnya tersusun rapat, di dalam dinding sel tidak terlihat kosong. Untuk mengamati sel ini praktikan harus mengiris daun Ficus elastica secara melintang dan tipis sehingga preparat dapat ditembus cahaya dan terlihat jelas melalui mikroskop elektron. Perbesaran yang digunakan untuk mengamati adalah 40 x.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut:

1. Mikroskop adalah suatu benda yang berguna untuk memberikan bayangan yang diperbesar dari benda-benda yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang.

2. Sel tumbuhan memiliki bentuk dinding sel tetap yang terdiri dari selulosa.

3. Sel adalah satuan massa protoplasma yang terbungkus di dalam suatu selaput, yang dikenal sebagai membran plasma, dan sering terbungkus oleh suatu dinding yang dapat dikatakan tahan lama.

4. Sel terdiri atas sitoplasma, membran sel, dan organel–organel yang ada di dalam sitoplasma.

5.2 Saran

Sebaiknya di dalam pelaksanaan praktikum kali ini waktu yang telah ditetapkan digunakan sebaik-baiknya sehingga praktikum dapat berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan. Selain itu kerja sama antara asisten dengan praktikan harus ditingkatkan, terutama dalam membimbing praktikan agar praktikan dapat dengan benar dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Anshory, I. 1984. Biologi umum. Genesa Exact. Bandung.

Kamajaya.1996. Sains Biologi. Ganesa Exact. Bandung.

Pramesti, Hening Tjaturina. 2000. Mikroskop dan Sel FK. Unlam. Banjarbaru.

Purba, M dan kawan-kawan. 1999. Kimia. Erlangga. Jakarta.

Sowasono, Haddy. 1987. Biologi Pertanian. Rajawali Press. Jakarta.

Volk dan Wheeler. 1984. Mikrobiologi Dasar Edisi Kelima Jilid I. Erlangga. Jakarta.

Winatasasmita, Djamhur. 1986. Fisiologi Hewan dan Tumbuhan. Universitas Indonesia. Jakarta.

Yekti, S. 1994. Biologi Umum. Erlangga. Jakarta.