PEMBUATAN DAN PEMURNIAN KALIUM SULFIT

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR I

PERCOBAAN VI

PEMBUATAN DAN PEMURNIAN KALIUM SULFIT

NAMA : ANNISA SYABATINI

NIM : J1B107032

KELOMPOK : 1.4

ASISTEN : RAIHANAH

PROGRAM STUDI KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARBARU

2007

PERCOBAAN VI

PEMBUATAN DAN PEMURNIAN KALIUM SULFIT

I. TUJUAN PERCOBAAN

Tujuan praktikum ini adalah untuk memahami cara sintesis sederhana dari suatu senyawa kimia dan metode pemisahan dan pemurnian senyawa hasil sintesis secara rekristalisasi.

II. DASAR TEORI

Pada umumnya campuran digolongkan sebagai materi heterogen, artinya tidak seluruh bagian materi ini mempunyai sifat yang sama. Akan tetapi, ada suatu campuran yang partikel-partikelnya tidak dapat dibedakan dengan mata biasa. Campuran tersebut dinamakan larutan. Oleh karenanya, larutan dianggap sebagai materi homogen walaupun keadaan yang sesungguhnya tidak homogen benar (Kitty, 1996).

Oleh karena proses pembentukkan campuran merupakan proses fisis, maka partikel-partikel pembentuk campuran mudah dipisahkan kembali secara fisis. Pemisahan tersebut berdasarkan perbedaan sifat fisis dari partikel-partikel pembentuk campuran yang dapat dilakukan dengan berbagai cara (Kitty, 1996).

Pada umumnya di alam terdapat banyak campuran, maka kita perlu mempelajari cara-cara pemisahannya untuk mendapatkan zat yang dihasilkan tertentu yang murni. Suatu campuran dapat dipisahkan dengan cara filtrasi, distilasi, kristalisasi, ekstrasi, absorbsi, dan kromatografi (Brady, 1999).

Adapun beberapa cara pemisahan dan pemurnian suatu zat adalah sebagai berikut :

v Kristalisasi

Kristalisasi adalah cara memperoleh zat padat yang larut dalam cairan, ada dua cara kristalisasi yang umum dilakukan, yaitu :

ü Cara penguapan

Cairan diuapkan melalui pemanasan sehingga dihasilkan kristal padat.

ü Cara Pendinginan

Zat yang mudah larut dalam air panas dari pada dalam air dingin lebih mudah menggunakan cara ini. Jika suatu larutan didinginkan, maka kelarutannya akan berkurang.

Pemisahan campuran dengan kristalisasi ini dilakukan untuk memisahkan campuran padat dalam air, jika zat padat yang terlarut merupakan zat padat kristal. Caranya adalah dengan menguapkan zat cairnya.

v Destilasi

Destilasi adalah penguapan campuran zat cair dengan cara memanaskan, kemudian mengembunkan uap zat cair dan menampungnya dalam suatu wadah bersih dan kering sehingga diperoleh zat cair yang murni. Prinsip penentuan zat kadar air dengan destilasi adalah menguapkan air dengan “pembawa” cairan kimia yang mempunyai titik didih lebih tinggi daripada air dan tidak dapat bercampur dengan air serta mempunyai berat jenis lebih rendah daripada air. Berbagai jenis destilasi diantaranya yaitu destilasi besar/sederhana, destilasi uap, destilasi vakum dan destilasi flaksionat (Sudarmadji, 1989).

v Ekstrasi

Ekstrasi adalah suatu cara yang dilakukan untuk memisahkan senyawa organik dari campurannya yang dihasilkan dari suatu reaksi kimia atau yang terdapat dalam bahan alam. Beberapa macam prinsip ekstrasi yaitu ekstrasi sederhana, penyaringan, penyaringan selaput dan ekstrasi berkesinambungan.

v Sublimasi

Cara ini digunakan untuk pemurnian senyawa-senyawa organik yang berbentuk padatan. Pemanasan yang dilakukan terhadap senyawa organik akan menyebabkan terjadinya perubahan sebagai berikut :

Apabila zat tersebut pada suhu kamar berada dalam keadaan padat, pada tekanan tertentu zat tersebut akan meleleh kemudian mendidih. Di sini terjadi perubahan fase dari padat ke cair lalu ke fase gas. Apabila zat tersebut pada suhu kamar berada dalam keadaan cair, pada tekanan tertentu dan temperatur tersebut pula (pada titik didihnya) akan berubah menjadi fase gas. Apabila zat tersebut pada suhu kamar berada dalam keadaan padat, pada tekanan dan temperatur tertentu akan langsung berubah menjadi fase gas tanpa melalui fase cair terlebih dahulu.

v Rekristalisasi

Zat padat sebagai hasil reaksi biasanya bercampur dengan zat padat lain. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan zat zat apdat yang kita inginkan, perlu dimurnikan terlebih dahulu. Prinsip proses ini adalah perbedaan kelarutan zat pengotornya. Rekristalisasi dapat dilakukan dengan cara melarutkan cuplikan ke dalam pelarut yang sesuai.

v Kromatografi

Kromatografi telah didefinisikan terutama sebagai suatu proses pemisahan yang digunakan untuk pemisahan campuran yang pada hakekatnya molekuler (Basset, 1994).

v Penukaran Ion (Dengan Menggunakan Resin Penukar Ion)

Penukar ion adalah elektrolit tak larut berion lebih yang mudah dipertukarkan dengan ion medium sekitarnya tanpa mengalami perubahan fisik dan struktur elektrolitnya sendiri. Penukar ion berkelebihan muatan atau ion tetap yang ternetralkan oleh muatan ion labilnya disebut kation pada penukar kation dan disebut anion pada penukar anion (Dorfner, 1995).

Pada pembuatan kalium sulfit dari natrium sulfit dengan kalium klorida, garam yang terjadi direkristalisasi dengan air. Proses rekristalisasi ini dilaksanakan sehingga hanya terdapat ion K+ dan ion SO32+ saja yang tinggal di dalam larutan atau tidak ditemukan lagi ion Na+ dan Cl.

III. ALAT DAN BAHAN
A. ALAT

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah Erlenmeyer 50 ml, neraca analitis, pengaduk gelas, corong, kertas saring, beaker gelas 400 ml, hotplate.

B. BAHAN

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Na2SO3, KCl, aquades.

IV. PROSEDUR KERJA

· Ditimbang 1,26 gram Na2SO3 dan 1,49 gram KCl dengan menggunakan gelas arloji dan neraca analitik

· Dimasukkan kedua macam kristal tersebut ke dalam gelas beker 50 mL

· Ditambahkan akuades 50 mL, diaduk hingga seluruh reaktan larut sempurna

· Dipanaskan larutan ini di atas hot plate sampai volumnya tinggal setengah dari volume larutan mula-mula, kemudian didinginkan larutan

· Begitu larutan mencapai suhu kamar, dimasukkan gelas beker berisi larutan tersebut ke dalam gelas beker yang berisi air es

· Didinginkan larutan dalam penangas es tersebut hingga di peroleh endapan

· Dipisahkan endapan dari larutan dengan disaring menggunakan corong kertas saring

· Dianaskan kembali sisa filtrate yang diperoleh hingga volumenya tinggal separuh, didinginkan dalam air es hingga diperoleh endapan kristal

· Digabungkan kristal yang diperoleh dari langkah (8) dan langkah (9)

· Dilarutkan kristal yang diperoleh dalam 15 mL akuades, diuapkan larutan ini

· Didinginkan larutan dalam air es hingga diperoleh endapan kristal

· Ditimbang berat kertas saring kosong

· Dipisahkan endapan dari pelarutnya dengan menggunakan corong dan kertas saring yang telah ditimbang sebelumnya, dikeringkan dalam oven

· Setelah kering, ditimbang berat kristal yang diperoleh

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil dan Perhitungan

1. Hasil

a. Pembuatan K2SO3

No

Percobaan

Pengamatan

1.

Ditimbang 1,26 gram Na2SO3 dan 1,49 gram KCl

Dimasukkan ke dalam gelas beker

Ditambah 50 mL akuades

Ditimbang kertas saring

m = 0,46 gram

2.

Diuapkan atau dipanaskan sampai volumenya tinggal separuh.

Kemudian didinginkan dalam penangas es

Saat mendidih ada gelembung udara.

Tidak timbul endapan.

3.

Diuapkan lagi dan didinginkan

b. Pemurnian K2SO3

No

Percobaan

Pengamatan

1.

Kristal yang dihasilkan direkristalisasi dengan air distilat. Ditambahkan 15 ml air suling kepada kristal tersebut

2.

Diuapkan atau dipanaskan larutan ini, kemudian didinginkan dalam penangas es.

Tidak terbentuk endapan

3.

Diulangi proses rekristalisasi

Perhitungan

Dari data yang diperoleh dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut :

Diketahui : Massa Na2SO3 = 1,26 gram

BM Na2SO3 = 126 gr/mol

Massa KCl = 1,49 gram

BM KCl = 74,5 gr/mol

BM K2SO3 = 158 gr/mol

Massa kertas saring = 0,46 gram

Ditanya : Rendemen = ……?

Jawab : Reaksi yang terjadi

Na2SO3 + 2 KCl K2SO3 + 2 NaCl

mula-mula 0,01 0,02

bereaksi 0,01 0,02 0,01 0,02

sisa 0,01 0,02

Jadi, mol K2SO3 yang terbentuk berdasarkan reaksi sebesar 0,02 mol

mol Na2SO3 = = 0,01 mol

mol KCl = = 0,02 mol

BM K2SO3 = 158 gr/mol

mol K2SO3 =

0,01 =

gr K2SO3 = 0,01 x 158

= 1,58 gram

PEMBAHASAN

A. Pembuatan K2SO3

Pada percobaan praktikum kali ini yaitu pembuatan K2SO3 digunakan metode kristalisasi. Kristalisasi merupakan pemisahan suatu campuran zat padat dari zat cair dengan cara memanaskan larutan sampai jenuh, kemudian mendinginkannnya sehingga terbentuk kristal. Dilakukan pencampuran Na2SO3 sebanyak 1,26 gram dan KCl sebanyak 1,49 gram sehingga dihasilkan K2SO3. Dari hasil yang didapat melalui proses pembuatan K2SO3 dapat dituliskan melalui reaksi berikut :

Na2SO3 + 2 KCl K2SO3 + 2 NaCl

Pada proses pemurnian K2SO3 ini dilakukan proses rekristalisasi dengan air distilat yaitu pengrekritalisasi kristal yang dihasilkan dengan menambahkan 15 ml air suling kepada kristal yang telah didapatkan sebelumnya. Endapan yang diperoleh pada pemurnian tersebut adalah endapan K2SO3 yang berupa kristal padat dengan larutan NaCl. Mendapatkan kalium sulfit harus melakukan proses kristalisasi agar endapan hanya terdapat pada K+ dan SO3 saja dan tidak ditemukan lagi ion Na+ dan Cl sedangkan untuk memperoleh endapan kalium sulfit yang bebas dari pengotornya maka dilakukan lagi rekristalisasi yaitu dimana suatu zat terlarut dimurnikan dengan pengkristalan berturut-turut dan dalam suatu pelarut agar zat terlarut dengan pelarutnya dapat terpisah. Endapan K2SO4 terjadi setelah larutan Na2SO3 dan KCl dipanaskan atau diuapkan dengan menggunakan hotplate sehingga larutan tinggal separuh. Saat Larutan Na2SO3 dan KCl mendidih terdapat gelembung udara. Kemudian larutan tersebut didinginkan dalam penangas es sehingga terbentuk endapan, lalu disaring dengan menggunakan kertas saring. Setelah itu dimasukkan ke dalam oven untuk memperoleh K2SO3 murni. Tetapi pada pemurnian ini tidak dihasilkan endapan K2SO3 yang berupa kristal padat dengan larutan NaCl. Hal ini mungin disebabkan terlalu banyak volume pelarut air. Karena tidak dihasilkannya endapan sehingga tidak dapat menghitung rendemen yang dihasilkan. Biasanya rendemen dalam presentase berkisar antara 0-100%. Jika diperoleh rendemen yan lebih besar dari 100%, berarti pada saat isolasi terdapat pencemar atau pengotor.

VII. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diambil setelah percobaan ini antara lain

  1. Beberapa teknik pemisahan yang dapat dilakukan adalah dengan penyaringan, penguapan, distilasi, kristalisasi dan ekstraksi
  2. Pencampuran Na2SO3 dan KCl menghasilkan K2SO3.
  3. Reaksi dari proses pembuatan K2SO3 adalah sebagai berikut:

Na2SO3 + 2 KCl K2SO3 + 2 NaCl.

  1. Pada pemurnian ini tidak dihasilkan endapan K2SO3 yang berupa kristal padat, karena terlalu banyak volume pelarut air.
  2. Tidak terbentuknya endapan, menyebabkan tidak dapat mengetahui atau menghitung hasil yang didapat dari rendemen.
  3. Jumlah mol K2SO3 0,01 dan massa K2SO3 1,58 gram.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, J.B.1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara, Jakarta.

Dorfner, Konkrad dan Anton J.Hartono.1995. IPTEK Penukar Ion. Andi Offset,Yogyakarta.

Sudarmadji, Slamet.1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Liberti, Yogyakarta.

Sura, Kitti.1996. Kimia I. Intan Pariwara, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s