HALOGEN

HALOGEN

ANNISA SYABATINI

JIB107032

KELOMPOK 1

PS S-1 KIMIA FMIPA UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

ABSTRACT

The experiment purpose is compare reaction and character of halogen elements. The spectra of some halogen compounds and phenomena connected therewith.(6) The halogen elements are a series of nonmetal elements from Group 17 IUPAC Style (formerly: VII, VIIA, or Group 7) of the periodic table, comprising fluorine, F; chlorine, Cl; bromine, Br; iodine, I; and astatine, At. The undiscovered element 117, temporarily named ununseptium, may also be a halogen. The group of halogens is the only group which contains elements in all three familiar states of matter at standard temperature and pressure.

Key Words : halogen; molekul diatomic; halide.

ABSTRAK

Tujuan dari percobaan ini adalah membandingkan sifat dan reaksi unsur halogen. Spektra dari beberapa senyawa halogen dan fenomenanya menghubungkan senyawa halogen.(6) Halogen adalah kelompok unsur kimia yang berada pada golongan 17 IUPAC (VII atau VIIA pada sistem lama) di tabel periodik. Kelompok ini terdiri dari: fluor (F), klor (Cl), brom (Br), yodium (I), astatin (At), dan unsur ununseptium (Uus) yang belum ditemukan. Halogen menandakan unsur-unsur yang menghasilkan garam jika bereaksi dengan logam. Unsur-unsur halogen secara alamiah berbentuk molekul diatomik. Mereka membutuhkan satu tambahan elektron untuk mengisi orbit elektron terluarnya, sehingga cenderung membentuk ion negatif bermuatan satu. Ion negatif ini disebut ion halida, dan garam yang terbentuk oleh ion ini disebut halida.

Kata Kunci : halogen; molekul diatomik; halida.

PEDAHULUAN


Unsur-unsur halogen VIIA, yaitu fluor, klor, brom dan iod, tidak terdapat bebas di alam, tetapi bersenyawa dengan unsur lain karena reaktif. Unsur halogen disebut halogen (Yunani; halogen = garam), karena umumnya ditemukan dalam bentuk garam anorganik. Hal dalam bentuk bebas selalu berupa diatomik, karena tiap atom memerlukan 1 elektron untuk membentuk ikatan kovalen.(5)

Unsur-unsur halogen mempunyai konfigurasi elektron ns2 np5 dan merupakan unsur-unsur yang paling elektronegatif, oleh karena itu selalu mempunyai bilangan oksidasi (-1), kecuali fluor yang selalu univalen, unsur-unsur ini dapat juga mempunyai bilangan oksidasi (+1), (+III), (+V) dan (+VII). Bilangan oksidasi (+IV) dan (+VI) merupakan anomali, terdapat dalam oksida ClO2, Cl2O6, dan BrO3.(1) Kecenderungan kuat dari atom F dan Cl untuk menarik elektron mengakibatkan bentuk yang sering ditemukan di alam adalah bentuk ion F dan Cl, serta kesulitan dalam pembuatan unsur murni dari bentuk ionnya.(4)

Kenaikan titik didih dan leleh dengan bertambahnya nomor atom, dijelaskan dengan fakta bahwa molekul-molekul yang lebih besar mempunyai gaya tarik menarik Van der waals yang lebih besar daripada yang mempunyai molekul-molekul yang lebih kecil.(3) Karena kelektronegatifan halogen relatif lebih besar dibandingkan unsur lain, maka halogen bersifat menarik elektron atau pengoksidasi. Kemampuan mengoksidasi halogen berkurang dari atas ke bawah. Akibatnya unsur yang di atas dapat mengoksidasi unsur yang berada dibawahnya, tetapi tidak sebaliknya.(5)

Dengan perkecualian He, Ne dan Ar, semua unsur dalam tabel berkala membentuk halida. Halida ionik atau kovalen adalah senyawaan umum yang paling penting. Mereka sering paling mudah dibuat dan digunakan secara meluas bagi sintesis senyawa lain. Dalam hal suatu unsur mempunyai lebih dari satu valensi, halida seringkali dikenal sebagai senyawaan tingkat oksidasi. Terdapat juga kimiawi senyawaan halogen organik yang luas dan beragam, senyawaaan fluor, teristimewa dalam hal F menggantikan H secara sempurna yang memilki sifat-sifat khusus.(2)

METODE PERCOBAAN

A. Alat

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, rak tabung reaksi, gelas ukur dan pembakar bunsen.

B. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah MnO2, KMnO4, brom, iod, asam klorida pekat, air brom, CCl4, larutan FeSO4, NaOH, KCl, KBr dan KI

C. Cara Kerja

1. Pembuatan Halogen

Memanaskan 1 ml asam klorida pekat dengan satu sendok kecil MnO2. Menambahkan tiga tetes asam klorida pekat pada setengah sendok KMnO4.

2. Sifat Kimia Halogen

Eksperimen 1: Reaksi halogen dengan air. Mengocok satu tetes brom dengan 5 ml air sehingga brom melarut. Mengulangi percobaan dengan iodium.

Eksperimen 2: Kelarutan halogen dalam kloroform. Mengocok 3 ml air klor dengan 1 ml brom. Mengulangi eksperimen dengan iodida.

Eksperimen 3: Halogen sebagai oksidator. Mengisikan 3 ml larutan besi (II) sulfat ke dalam 2 tabung reaksi ke dalam salah satu tabung reaksi ditambahkan 3 ml air klor dan yang satu lagi ditambahkan 3 ml air brom. Eksperimen 4: Kereaktifan Relatif Halogen Sebagai zat pengoksidasi. Memasukkan 3 ml larutan KI kedalam masing-masing dua tabung reaksi. Menambahkan 1,5 ml iod pada salah satu tabung dan 1,5 ml brom pada tabung yang lain. Mengulangi percobaan dengan menggunakan 3 ml larutan KCl sebagai pengganti larutan KI. Menambahkan 1,5 ml iod pada salah satu tabung dan 1,5 ml brom pada tabung yang lain. Menambahkan 1 ml karbon tetra klorida ke dalam semua tabung yang telah berisi campuran tersebut kemudian mengocoknya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1 : Pembuatan Halogen

No.

Langkah Percobaan

Hasil

1.

2.

½ ml HCl pekat + 1 sendok kecil MnO2 kemudian dikocok

3 tetes HCl pekat + 1 ml KMnO4

Larutannya hijau tua

menjadi hijau lumut

Larutannya ungu

menjadi coklat muda

Tabel 2 : Sifat Fisika Halogen

Warna

Wujud

Tf (ºC)

Tb (ºC)

F

Cl

Br

I

Kuning

Hijau

Merah

Ungu

Gas

Gas

Cair

Padat

-220

-101

-7

114

-188

-34

59

184

Tabel 3 : Sifat Kimia Halogen

No

Langkah Percobaan

Hasil

1.

a.

b.

2.

a.

b.

3.

a.

4

a.

b.

c.

d.

Eksperimen 1 Reaksi Halogen dengan Air

1 tetes Br + 2,5 ml akuades kemudian dikocok

kristal iod + 2,5 ml akuades lalu dikocok

Eksperimen 2 Kelarutan Halogen dalam Klorofom

½ ml Br + ½ ml klorofom

kristal iod + ½ ml klorofom

Eksperimen 3 Halogen sebagai Oksidator

Reaksi dengan besi (II) sulfat

dimasukkan 3 ml besi (II) sulfat dengan 3 ml air brom

ditambahkan 1 ml natrium hidroksida

Eksperimen 4 Kereaktifan relatif halogen sebagai zat pengoksidasi

I2 + ½ ml KBr + ½ ml CCl4

I2 + ½ ml KI + ½ ml CCl4

½ ml Br2 + ½ KCl + ½ ml CCl4

½ ml Br2 + ½ ml KI + ½ ml CCl4

Merah tua menjadi kuning muda Endapan merah

Kuning tua.

Endapannya hitam

Merah bata / melarut

Merah muda

endapannya hitam

Warna bagian atas merah, bagian tengah bening, dan bagian bawah merah

ada endapan jingga, dapat dioksidasi menjadi Fe3+

Kuning tua, endapan hitam

bag. atas ungu, bag. bawah kuning tua, endapannya hitam

Larutannya coklat tua

Merah (atas), hitam (bawah) dan terbentuk endapan

Kuning muda (atas), merah (bawah)

Tetap

Merah tua

Tetap

B. Pembahasan

Pada percobaan pembuatan halogen reaksi antara HCl pekat dengan MnO2 akan membentuk larutan hijau lumut yang mengeluarkan gas dengan bau yang menyengat. Warna hijau dan bau yang menyengat pada percobaan ini menandakan terbentuknya senyawa klor. Setelah dipanaskan pada dasar tabung reaksi terbentuk endapan dan warna larutan menjadi lebih muda. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

4HCl + MnO2 Cl2 + MnCl2 + 2H2O

Sedangkan reaksi antara HCl dengan KmnO4, tanpa dipanaskan terlebih dahulu langsung membentuk larutan ungu. Pada reaksi ini juga terbentuk gas klor. Reaksinya adalah sebagai berikut :

2KMnO4 + 16HCl 2MnCl2 + 5Cl2 + 8H2O + 2KCl

Reaksi antara HCl dengan KMnO4 ini berlangsung lebih cepat daripada HCl dengan MnO2 dan berlangsung tanpa melalui pemanasan. Hal ini disebabkan karena kekuatan oksidator dari MnO4 lebih besar jika dibandingkan dengan MnO2.

Urutan ion halida berdasarkan kemudahannya mengalami oksidasi adalah sebagai berikut : I > Br > Cl > F. Halogen merupakan golongan VII yang sangat reaktif dalam menerima elektron dan bertindak sebagai oksidator kuat. Berdasarkan jari-jari atomnya, semakin ke atas (dalam tabel priodik unsur), maka semakin kecil atau pendek, sehingga gaya tarik menariknya semakin besar.

Apabila massa atom relatifnya bertambah, maka kecenderungan yang terlihat dari sifat fisiknya adalah :

jumlah proton pada inti akan bertambah banyak

ukuran atom akan bertambah besar karena kulit atom bertambah

titik leleh dan titik didihnya bertamabah tinggi

Pelarutan brom dalam air akan menghasilkan larutan kuning muda dan endapan merah. Sedangkan pelarutan iod dalam air akan membentuk larutan larutan kuning tua dan endapan hitam, tetapi pelarutan iod dalam air memerlukan waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan pelarutan brom dalam air. Hal ini menunjukkan bahwa Br lebih mudah larut bila dibandingkan kristal iod. Reaksinya adalah sebagai berikut :

Br2 + H2O HBrO + H+ + Br

Sedangakan iod sangat sukar larut dalam air. Agar iod dapat larut dalam air, maka ditambahkan KI sehingga terbentuk senyawa KI3 yang mudah larut.

Larutan brom dalam air yang bersifat basa merupakan zat pengoksida yang kuat. Daya meutihkan yang dilarutkan dalam natrium hidroksida encer dapat dijelaskan dengan menganggap bahwa klor mula-mula bereaksi membentuk HBrO yang diubah mejadi BrO.

Percobaan selanjutnya adalah mengamati kelarutan halogen dalam klorofom. Pencampuran antara Br dengan klorofom menghasilkan larutan merah bata, sedangkan iod yang dilarutkan dalam klorofom membentuk larutan merah muda dan terbentuk endapan hitam. Hal ini membuktikan bahwa brom dan iod dapat larut dalam klorofom.

Eksperimen halogen sebagai oksidator tidak dilakukan karena kurang tersedianya bahan. Percobaan berikutnya adalah mengenai kereaktifan relatif halogen. I2 ditambahkan dengan KBr dan CCl4, maka terbentuk endapan hitam dan terjadi pemisahan warna dimana bagian atas berwarna ungu dan bagian bawah kuning. Berikutnya I2 ditambahkan dengan KI dan CCl4 terbentuk endapan dimana bagian atas merah dan bagian bawah hitam. Hal ini menunjukkan dengan bahan iod dapat mengahasilkan endapan.

Pada pencampuran dengan menggunakan bahan brom tidak terbentuk endapan. Menurut daya pengoksidasinya urutan halogen mulai dari yang terbesar adalah F > Cl > Br > I. Daya pengoksidasi dapat dilihat pada potensial elektrodanya.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini adalah :

1. Sifat fisik unsur halogen berbeda antara satu dengan yang lainnya.

2. Brom dan iod dapat larut dalam air dan dalam kloroform, tetapi kelarutan brom lebih besar daripada iod.

3. Klor dapat mengoksidasi Brom sedangakan iod tidak bisa mengoksidasi brom, karena potensial elektroda yang besar dapat mengoksidasi unsur di bawahnya F > Cl > Br > I.

REFERENSI

(1) Hiskia, Achmad. 1991. Kimia Unsur dan Radiokimia. ITB. Bandung.

(2) Cotton & Wilkinson. 1989. Kimia Anorganiuk Dasar. UI Press. Jakarta.

(3) Keenan. 1999. Kimia untuk Universitas. Jilid 2. Erlangga. Jakarta.

(4) Petrucci, Ralph H. 1993. Kimia Dasar. Jilid 3. Erlangga. Jakarta.

(5) Syukri. 1999. Kimia Dasar. ITB. Bandung.

(6) http://www.google.com

Volume. 16 No. 4

Diakses 23 Oktober 2008.

6 thoughts on “HALOGEN

  1. saya suka dengan semua artikel yang you miliki “n” semua itu sangat membantu saya dalam mebyelesaikan tugas-tugas saya. thanx ya!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s