STOIKHIOMETRI KOMPLEKS AMMIN TEMBAGA(II)

STOIKHIOMETRI KOMPLEKS AMMIN TEMBAGA(II)

STOIKHIOMETRI COMPLEX AMMIN COPPER (II)

ANNISA SYABATINI

JIB107032

KELOMPOK 1

PS S-1 KIMIA FMIPA UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

ABSTRACT

The objective of this experiment is to determine the molecular formula ammin complex copper (II). This attempt divided to become 3 that is standardization some condensations for NaOH, HCl and NH3. Secondly is determination of distribution coefficient amoniak between water and chloroform, and determination of copper complex formula ammin . For determination of distribution coefficient, condensation NH3 packed into separatory funnel in parallel with water then shakes it during 5-10 minutes, after hushed just hence formed by 2 layer. Chloroform then is added with water and methyl indicator orange, and titration with standard solution HCl that ammonia earns pot is clean to react and number of ammonias in the chloroform is determinable. Complex compound formed from metal ion and ligand, complex compound ammin copper can be formed by adding excessive ammonia into condensation of copper (II) which has been known the numbers, ammonia distribution coefficient value is 0,0795. Number of complex moles at this attempt is equal to 4 mmol.

Key Words : Chloroform

ABSTRAK

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan rumus molekul kompleks ammin tembaga(II). Percobaan ini terbagi menjadi 3 yaitu standarisasi beberapa larutan yaitu untuk NaOH, HCl dan NH­3. Yang kedua adalah penentuan koefisien distribusi amoiak antara air dan kloroform, dan penentuan rumus kompleks tembaga ammin. untuk penentuan koefisien distribusi, larutan NH3 dimasukkan ke dalam corong pemisah bersamaan dengan air kemudian mengocoknya selama 5-10 menit, setelah didiamkan sebentar maka terbentuk 2 lapisan. Larutan kloroform kemudian ditambahkan dengan air dan indikator metil orange (mo), dan dititrasi dengan larutan standar HCl agar amoniak dapat habis bereaksi dan jumlah amoniak dalam kloroform tersebut dapat ditentukan. Senyawa kompleks terbentuk dari ion logam dan ligan, senyawa kompleks ammin tembaga dapat terbentuk dengan menambahkan ammonia berlebih ke dalam larutan tembaga (II) yang telah diketahui jumlahnya, nilai koefisien distribusi amoniak adalah sebesar 0,0795. Jumlah mol yang terkomplekskan pada percobaan ini adalah sebesar 4 mmol.

Kata Kunci : kloroform

PENDAHULUAN


Senyawa kompleks telah banyak dipelajari dan diteliti melalui suatu tahapan-tahapan reaksi (mekanisme reaksi) dengan menggunakan ion-ion logam serta ligan yang berbeda-beda. Salah satu keistimewaan dari reaksi kompleks adalah reaksi pergantian ligan melalui efek trans [1].

Proses membuat perhitungan yang didasarkan pada rumus-rumus dan persamaan-persamaan berimbang dirujuk sebagai stoikiometri (dari kata Yunani: stoicheion, unsur dan –metria, ilmu pengukuran). Suatu rumus molekul menyatakan banyaknya atom yang sebenarnya dalam suatu molekul atau satuan terkecil suatu senyawa [2].

Tembaga adalah logam merah muda, yang lunak, dapat ditempa, dan liat. Ia melebur pada 1038ºC. Karena potensial elektrode standarnya positif (+0,34 V untuk pasangan Cu/Cu2+), ia tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanya oksigen ia bisa larut sedikit. Ada dua deret senyawa tembaga. Senyawa-senyawa tembaga(I) diturunkan dari tembaga(I) oksida Cu2O yang merah, dan mengandung ion tembaga(I), Cu+. Senyawa-senyawa ini tak berwarna, kebanyakan garam tembaga(I) tak larut dalam air, perilakunya mirip senyawa perak(I). Mereka mudah dioksidasi menjadi senyawa tembaga(II), yang dapat diturunkan dari tembaga(II) oksida, CuO, hitam. Garam-garam tembaga(II) umumnya berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat, padat, maupun dalam larutan air. Garam-garam tembaga(II) anhidrat, seperti tembaga(II) sulfat anhidrat CuSO4, berwarna putih (atau sedikit kuning). Dalam larutan air selalu terdapat ion kompleks tetraakuo [3].

Tembaga memiliki elektron s tunggal di luar kulit 3d yang terisi. Ini agak kurang umum dengan golongan alkali kecuali stoikiometri formal dalam tingkat oksidasi +1. Kulit d yang terisi jauh kurang efektif daripada kulit gas mulia dalam melindungi elektron s dalam muatan inti, sehingga potensial pengionan pertama Cu lebih tinggi daripada golongan alkali. Karena elektron-elektron pada kulit d juga dilibatkan dalam ikatan logam, panas penyubliman dan titik leleh tembaga juga jauh lebih tinggi daripada alkali. Faktor-faktor ini bertanggung jawab bagi sifat lebih mulia tembaga. Pengaruhnya adalah membuat lebih kovalen dan memberi energi kisi yang lebih tinggi [4].

Kebanyakan senyawaan CuI cukup mudah teroksidasi menjadi CuII, namun oksidasi selanjutnya menjadi CuIII adalah sulit. Terdapat kimiawi larutan Cu2+ yang dikenal baik, dan sejumlah besar garam berbagai anion didapatkan, banyak diantaranya larut dalam air, menambah perbendaharaan kompleks [4].

METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah buret 50 ml, mikro buret 5 ml, erlenmeyer 250 ml, beaker gelas, corong pemisah 250 ml, pipet gondok 10 ml, pipet tetes, alat-alat gelas lain.

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan standar H2C2O4 0,1 M, larutan ammonia 1 M, larutan ion Cu2+ 0,1 M, larutan HCl 0,055 M, larutan NaOH 0,1 M, kloroform, indikator phenolphtalein, indikator metil orange

B. Cara Kerja

1. Penentuan koefisien distribusi ammonia antara air dan kloroform

Ditambahkan 10 ml larutan NH3 1 M (hasil standarisasi) dan 10 ml larutan air ke dalam corong pemisah 250 ml. Dikocok agar homogen. Ditambahkan 25 ml kloroform ke dalam corong pemisah dan dikocok selama 5-10 menit (diperhatikan cara dikocoknya). Didiamkan sebentar sehingga tampak ada dua lapisan. Kemudian dipisahkan kedua lapisan tersebut. Dipindahkan 10 ml larutan kloroform ke dalam erlenmeyer yang berisi 10 ml air dan ditambahkan indikator metil orange (mo). Dititrasi secara pelan-pelan larutan itu dengan larutan standar HCl 0,55 M digunakan buret mikro 5 ml. Titik ekivalen ditandai dengan terjadinya perubahan warna. Diulangi titrasi untuk 10 ml kedua dan kemudian untuk sisanya. Dihitung koefisien distribusi ammonia dengan digunakan persamaan:

2. Penentuan rumus kompleks Cu-ammin

Dilakukan langkah serupa dengan langkah penentuan koefisien distribusi ammonia, hanya 10 ml air yang ditambahkan ke dalam corong pemisah diganti dengan 10 ml larutan ion Cu2+ 0,1 M. Dari langkah ini, dengan menggunakan harga koefisien distribusi, dapat dihitung jumlah ammonia yang ada dalam air dan kloroform. Banyaknya ammonia yang terkomplekskan dapat dihitung dengan mengurangkan jumlah ammonia dalam kloroform dan air pada jumlah total ammonia awal. Dengan membandingkan jumlah mol ion Cu2+ dengan ammonia terkompleks, dapat ditentukan rumus kompleksnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Penentuan koefisien distribusi ammonia antara air dan kloroform

Langkah Percobaan

Hasil

Pengamatan

10 ml NH3 1 M + 10 ml air, dikocok + 25 ml kloroform dikocok 5–10 menit dalam corong pemisah

10 ml klorofom + 10 ml air + 2 tetes mo, dititrasi dengan HCI 0,055 M

Terbentuk 2 lapisan, air dan NH3 di atas dan kloroform di bawah, agak berminyak. Pada bagian atas agak keruh dan bawahnya lebih bening

Kuning menjadi merah muda

V rata-rata = 4,25 ml

2. Penentuan rumus kompleks Cu-amin

Langkah Percobaan

Hasil

Pengamatan

10 ml NH3 1 M + 10 mL larutan ion Cu2+ 0,1 M dikocok + 25 ml kloroform, dikocok 5–10 menit dalam corong pemisah

10 ml klorofom + 10 ml air + 2 tetes mo, dititrasi dengan HCI 0,055 M

Warna larutan ion Cu2+ biru muda

Ditambahkan NH3 menjadi biru tua

Kuning menjadi merah muda

V rata-rata = 1,2 ml

B. Perhitungan

1. Penentuan koefisien distribusi ammonia antara air dan kloroform

Diketahui : N HCl = 0,055 N V NH3 = 10 ml

V HCl = 3,3 ml N NH3 = 1 N

Vkloroform u/ titrasi = 10 ml

Vkloroform total = 25 ml

Vair total = 20 ml

Ditanya : Kd = …..

Jawab : Nkloroform . Vkloroform = NHCl . VHCl

mmol = Nkloroform . Vkloroform

= 0,0181 N . 25 ml

= 0,4525 mmol

mmol =

= 1 N . 5 ml

= 5 mmol

mmol = mmol – mmol

= 5 mmol – 0,4525 mmol

= 4,5475 mmol

= 0,2274 N

Kd =

= 0,0795

= 0,4708 N

Kd =

= 0,0494

2. Penentuan rumus kompleks Cu-amin

Diketahui : N HCl = 0,055 N N NH3 = 1 N

Vkloroform total = 25 ml

V HCl u/ titrasi = 1,2 ml

Kd = 0,0795

Ditanya : rumus kompleks Cu-ammin = …..

Jawab : = NHCl . VHCl

N[NH3]kloroform

mmol = Nkloroform . Vkloroform

= 1,375 x 10-3 N . 25 ml

= 0,0343 mmol

=

= 0,0173 N

mmol = . Vair total

= 0,0173 N . 20 mL

= 0,346 mmol

mmol =

= 1 N . 10 mL

= 10 mmol

mmol terkomplekskan

= mmol – mmol – mmol

= 5 mmol – 0,346 mmol – 0,0343 mmol

= 4,6197 mmol

= 4 mmol

C. Pembahasan

1. Penentuan koefisien distribusi ammonia antara air dan kloroform

Penentuan koefisien distribusi ammonia antara air dan kloroform ini dilakukan dengan ditambahkan 10 ml larutan NH3 1 M (hasil standarisasi) dan 10 ml larutan air ke dalam corong pemisah 250 ml, dikocok agar homogen, ditambahkan 25 ml kloroform dikocok selama 5-10 menit, didiamkan sebentar sehingga tampak ada dua lapisan. Pada bagian atas agak keruh dan bawahnya lebih bening. Lapisan atas air dan NH3, lapisan bawah kloroform hal ini dikarenakan adanya perbedaan kepolaran antara senyawa kloroform dengan larutan amoniak dimana berat jenis kloroform lebih besar dibanding ammonia.

10 ml larutan kloroform dipindahkan ke dalam erlenmeyer yang berisi 10 ml air dan ditambahkan indikator metil orange (mo). Dititrasi secara pelan-pelan larutan itu dengan larutan standar HCl 0,055 N didapatkan volume titrasi 3,3 ml.

Larutan kloroform diambil dengan mengalirkan lapisan larutan keluar melalui mulut corong pemisah dan mencampurkannya dengan sedikit akuades. Larutan tersebut ditambahkan dengan beberapa tetes indikator metil orange hingga warna berubah menjadi orange karena larutan ini bersifat basa. Setelah dititrasi dengan larutan standar HCl diperlukan volume sebesar 0,55 mL untuk mengubah warna larutan dari jingga menjadi merah muda, yang menandakan bahwa larutan menjadi asam dan pH larutan semakin menurun. Fungsi penggunaan titran HCl dalam titrasi ini adalah sebagai penurun nilai pH larutan sehingga larutan yang pada awalnya bersifat basa menjadi asam. Apabila memperhatikan jumlah volume titran yang digunakan hingga larutan mencapai titik ekivalen yang begitu sedikit, maka diketahui bahwa proses berlangsung sangat cepat. Dari hasil perhitungan didapatkan besarnya konsentrasi NH3 dalam kloroform yaitu 0,0181 N dan konsentrasi NH3 dalam air sebesar 0,2274 N. Dari kedua konsentrasi NH3 dalam masing-nasing larutan dapat dihitung koefisien distribusi amonia yaitu sebesar 0,0795.

2. Penentuan Rumus Kompleks Cu-Ammin

Dilakukan dengan mencampurkan 10 mL larutan Kloroform dengan 10 mL larutan ion Cu2+ kemudian memasukkannya ke dalam corong pemisah, setelah itu terbentuk 2 lapisan yang berwarna bening. Larutan ini kemudian diambil sebanyak 10 mL dan dipindahkan ke dalam erlenmeyer yang berisi 10 mL air dan indikator metil orange (mo) dan ditirasi dengan larutan HCl, volume titrasinya adalah sebesar 1,2 mL dan 1,2 mL sehingga diperoleh rata-ratanya sebesar 1,2 mL. Kloroform berlebih yang dimasukkan ke dalam larutan tembaga(II) yang telah diketahui jumlahnya maka kompleks dapat terbentuk. Dari kedua konsentrasi NH3 dalam masing-nasing larutan dapat dihitung koefisien distribusi amonia yaitu sebesar 0,0795. Sehingga diperoleh perbandingan antara keduanya (x dan y) adalah 1:4 dengan rumus molekulnya yaitu .Dengan reaksi sebagai berikut:

Cu(H2O)42+ + 4NH3 Cu(NH3)42+ + 4H2O

Dalam percobaan ini menunjukkan bahwa atom Cu sebagai atom pusat dan NH3 sebagai ligannya sehingga bentuk kompleks menjadi tetrahedral.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil adalah senyawa kompleks terbentuk dari ion logam dan ligan, senyawa kompleks ammin tembaga dapat terbentuk dengan menambahkan ammonia berlebih ke dalam larutan tembaga (II) yang telah diketahui jumlahnya, nilai koefisien distribusi amoniak adalah sebesar 0,0795.Jumlah mol yang terkomplekskan pada percobaan ini adalah sebesar 4 mmol.

REFERENSI

1.  Rilyanti, Mita. 2008. Sintesis Senyawa Kompleks Cis-[Co(Bipi)2(CN)2] dan Uji Interaksinya dengan Gas NO2 Menggunakan Metoda Spektrofotometri UV-VIS dan IR. Diakses, 13 Maret 2009.

2. Keenan, Kleinfelter,Wood. 1992. Kimia Untuk Universitas. Jilid 2. Edisi Keenam. Erlangga. Jakarta.

3. Shevla, G. 1990. Analisis Organik Kualitatif Makro Dan Semimakro. PT. Kalman Media Pustaka. Jakarta.

4. Cotton and Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. UIPress.

Jakarta.

6 thoughts on “STOIKHIOMETRI KOMPLEKS AMMIN TEMBAGA(II)

  1. Mohon bantuan saudara/ i, bisakah digunakan spektroskopi untuk analisa sulfat dalam limbah cair. Apa senyawa kompleks yang cocok untuk analisa sulfat? trim’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s