MAKALAH DISTRIBUSI SOLUT ANTARA DUA PELARUT TAK BERCAMPUR

Oleh :
Annisa Syabatini (J1B107032)
Fitri Ahda Kusuma (J1B107032)
Muhammad Fahmi Arif (J1B107204)
Muhammad Nasrudin (J1B107204)

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
DESEMBER, 2008
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya jualah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”DISTRIBUSI SOLUT ANTARA DUA PELARUT TAK BERCAMPUR” sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Pada kesempatan ini kami tak lupa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini.
Kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan guna kesempurnaan penulisan makalah di masa yang akan datang.

Banjarbaru, 9 Desember 2008

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………..i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………….ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………………1
1.2 Tujuan Penulisan……………………………………………………………………..1
1.3 Metode Penulisan…………………………………………………………………….2
1.4 Batasan Masalah………………………………………………………………………2
BAB II ISI
2.1 Distribusi Solut Antara Dua Pelarut Tak Bercampur……………….3
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………..6
3.2 Saran………………………………………………………………………………………6
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kimia fisika adalah cabang dari ilmu kimia
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan pembuatan makalah ini, yaitu:
1. Untuk memenuhi tugas final praktikum kimia fisika, penulisan makalah yang diberikan kepada penulis;
2. Untuk mengetahui gambaran yang lebih jelas mengenai Distribusi Solut Antara Dua Pelarut Tak Bercampur.

1.3 Metode Penulisan
Dalam penyelesaian makalah ini penulis menggunakan metode penulisan yaitu: metode pustaka, yaitu dengan mengumpulkan data-data, perbendaharaan pengetahuan, mencari beberapa masalah yang berhubungan dengan distribusi solut antara dua pelarut tak bercampur terkumpulah informasi yang dapat membantu penyelesaian makalah ini.

1.4 Batasan Masalah
Dalam menjelaskan masalah yang penulis kemukakan di sini, dipandang perlu untuk menentukan batasan masalah yang akan dikemukakan. Sehingga masalah yang dibahas tidak keluar dari jangkauan pemikiran penulis. Yang menjadi pokok masalah yang dikemukakan penulis dalam makalah ini adalah: definisi, macam-macam, prinsip-prinsip distribusi solut antara dua pelarut tak bercampur.

BAB II
ISI
2.1 Distribusi Solut Antara Dua Pelarut Tak Bercampur
Definisi teknik isolasi adalah pemisahan suatu senyawa yang diperlukan dari suatu unsur. Macam-macam teknik isolasi yaitu sebagai berikut: ekstraksi pelarut, penukar ion, kromatografi adsorpsi, kromatografi adsorpsi, kromatografi partisi, kromatografi gas, kromatografi cair berkemampuan tinggi, kromatografi eksklusi, elektromatografi (Khopkar, 1984).
Hukum fase Gibb’s menyatakan bahwa:
P + V = C + 2
di mana P = fase,
C = komponen
V = derajat kebebasan.
Pada ekstrasi pelarut, kita mempunyai P = 2, yaitu zat terlarut di dalam pelarut dan fase air pada temperatur dan tekanan tetap, sehingga v = 1. jadi akan kita dapatkan:
2 + 1 = 1 + 2, yaitu P + V = C + 2.
Pekerjaan pemisahan secara kromotografi dengan mempergunakan resin penukar ion telah dilakukan oleh beberapa peneliti dalam usaha untuk memisahkan produk-produk reaksi fisi. Penukar kation sintetis sudah digunakan untuk memisahkan unur-unsur anggota series lantanida dan aktinida. Pemisahan senyawa-senyawa organik seperti asam-asam amino pun telah dapat dicapai dengan metode penukaran ion. Metode ini juga digunakan dalam berbagai opersasi seperti pelunakan air, menaikkan kadar logam dan pemisahan logam.
Kromotografi adsorpsi didasarkan pada retensi zat terlarut oleh adsorpsi permukaan. Teknik ini berguna dalam pemisahan senyawa-senyawa nonpolar dan konsitituen-konsitituen yang sulit menguap. Pada kromotogafi cair-padat; suatu subtrat padat bertindak sebagai fase diam. Pemisahan tergantung pada kesetimbangan yang terbentuk pada bidang antar muka di antara butiran-butiran fase diam dan fase cair yang bergerak serta pada kelarutan relatif zat terlarut pada fase bergeraknya.
Dalam kromotografi partisi cair-cair, suatu pemisahan dipengaruhi oleh distribusi sampel antara fase cair diam dan fase cair bergerak dengan membatasi kemampuan pencampuran. Jika suatu zat terlarut dikocok dalam sistem 2 pelarut yang tidak bercampur (melarutkan) maka zat terlarut akan terdistribusi di antara kedua fase dan jika kesetimbangan tercapai, maka koefisien partisinya (Kd):
Kd = konsentrasi zat terlarut pada pelarut A
konsentrasi zat terlarut pada pelarut B.
Volume pembawa yang diperlukan untuk mengerakkan pita zat terlarut pada keseluruhan panjang suatu kolom adalah volume retensi (VR), yaitu besaran fundammental yang diukur dalam kromotografi gas. Untuk suatu kolom tertentu yang dioperasikan pada temperatur (tc) dan laju aliran gas pembawa (Rc), maka waktu yang diperlukan masing-masing komponen untuk tinggal di dalam kolom dikenal sebagai waktu retensinya (tR). Jarak pada sumbu waktu, dari titik injeksi sampel sampai puncak suatu komponen yang terelusi dikenal sebagai waktu retensi tanpa koreksi (tR). Dan hubungannya dengan volume retensi adalah:
VR = tR . Rc
Filtrasi gel adalah suatu teknik yang menguraikan campuran zat-zat sesuai ukuran molekulnya. Teknik ini didasari atas inklusi dan ekslusi suatu zat terlarut melalui suatu fase diam yang terbuat gel polimer yang berikat silang dan berpori heterogen. Dalam kromotografi elusi cair padat pemisahan terjadi antara fase cair di dalam partikel gel dan cairan di luar yang mengelilingi partikel gel. Akibat mekanisme perbedaan laju permeasi masing-masing molekul zat terlarut dari dan ke interior partikel gel, pemisahan akan terjadi.
Jika suatu fase zat bermuatan, diberi beda potensial, fase tersebut akan berpindah sepanjang medium yang kontinyu ke arah katoda atau anoda sesuai dengan muatan partikel. Fenomena ini adalah elektroforesis. Dasar elektroforesis adalah pembentukan suatu ketidakhomogenan atau gradasi konsentrasi sepanjang sistem. Koloid, protein enzim menunjukkan mobilitas elektroforesis spesifik dan titik isoelektrik yang dapat digunakan untuk identifikasi zat-zat spesifik (Khopkar, 1984).
Contoh penggunaan teknik isoasi untuk melaksanakan pemisahan secara kromotografi kolom, ada tiga cara dapat dilakukan:
1. analisis frontal
2. analisis elusi
3. pergeseran.
Dalam arus kromotografi, effluent dikumpulkan dalam frakksi-fraksi yang berbeda dan masing-masing komponen terdeteksi dalam aliran effluent. Pada analisis frontal, larutan contoh dilewatkan secara kontinyu melalui pengadsorpsi. Pusat-pusat aktif mengadsorpsi akan diduduki oleh komponen yang lebih kuat teradsorpsi sedangkan komponen yang kurang kuat teradsorpsi berakumulasi pada fase yang bergerak. Pada mulanya pelarut murni dan zat terlarut A yang teradsorpsi paling lemah akan meluncur ke luar kolom. Analisis elusi adalah teknik yang paling populer. Eluent (dapat saja pelarut murni) dilewatkan melalui kolom yang dapat menyebabkan diffrential migration zat-zat terlarut dalam fase bergerak. Pada teknik pegeseran, pemisahan tercapai dengan menggalirkan suatu reagent yang bteradsorpsi lebih kuat ke dalam kolom.

BAB III
PENUTUP
2.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah:
1. Teknik isolasi adalahh teknik pemisahan suatu senyawa yang diperlukan dari suatu unsur;
2. Macam-macam teknik isolasi: ekstraksi pelarut, penukar ion, kromatografi adsorpsi, kromatografi adsorpsi, kromatografi partisi, kromatografi gas, kromatografi cair berkemampuan tinggi, kromatografi eksklusi, elektromatografi.

2.2 Saran
Saran yang dapat diambil dari makalah ini adalah diperlukan penekanan yang cukup mengesankan diberikan juga pada keabsahan data analitik serta pentingnya peranan penarikaan contoh sebelum memperlakukan tehnik-tehnik fisika-kimia pada analisis dengan metode klasik.

DAFTAR PUSTAKA
Castellan, G.W. 1983. Physical Chemistry Edisi ke–3. Addison-Wesley Publishing Co Inc. Massachusetts, pp.

Daniels, F., Williams, J.W., Mathews, J.H., Bender,P., Alberty, R.A., 1956, Experimental Physical Chemistry, edisi ke-5, McGraw – Hill Book Company, Inc. New York, pp.

Day, R. A. Ir dan A. L. Underwood. 1999. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi Revisi. Terjemahan R. Soendoro dkk. Erlangga, Jakarta.

Harjadi, W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Erlangga Jakarta.

Khopkar, S. M. 1984. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia. Jakarta..

Sukardjo. 1997. Kimia Fisika. Rineka Cipta. Jakarta.

Svehla, G. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro Edisi ke-5. Kalman Gramedia Pustaka. Jakarta.

Underwood. 1986. Anilisis Kimia Kualitatif. Erlangga. Jakarta.

Underwood. 2002. Anilisis Kimia Kualitatif. Erlangga. Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s